Bitcoin Tiba-Tiba Ambruk ke US$63.000 Usai Serangan AS dan Israel ke Iran
Harga kripto terbesar dunia, Bitcoin, mengalami tekanan tajam setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran. Harga Bitcoin bahkan sempat merosot mendekati level US$63.000 pada perdagangan Sabtu, 28 Februari 2026.
Penurunan ini terjadi cepat di mana Bitcoin kehilangan sekitar 3 persen hanya dalam hitungan jam. Level tersebut menjadi mendekati titik terendah di bawah US$60.000 yang terjadi pada 5 Februari 2026 lalu.
Meski sempat pulih dan menyentuh kisaran US$65.000, Bitcoin kembali melemah ke sekitar US$64.700 seiring konflik yang terus berkembang hingga Sabtu, 28 Februari 2026. Pergerakan ini menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar kripto.
Dikutip dari CoinMarketCap hingga pukul 08.41 WIB pada Minggu, 1 Maret 2026, Bitcoin menunjukkan pemulihan sebesar 1,31 persen dalam 24 jam terakhir. Kenaikan mendorong harga Bitcoin bertengger di level US$66.762,06 atau sekitar Rp 1,12 miliar (estimasi kurs Rp 16.800 per dolar AS).
Ilustrasi Bitcoin.
Melansir Coindesk, Analis melihat pelemahan Bitcoin mengikuti pola yang sudah sering terjadi ketika muncul guncangan geopolitik. Tidak seperti saham atau obligasi yang memiliki jam perdagangan terbatas, Bitcoin diperdagangkan 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Kondisi ini membuat Bitcoin menjadi salah satu aset paling likuid yang bisa langsung dijual investor saat risiko global meningkat, terutama saat pasar tradisional tutup di akhir pekan.
Akibatnya, Bitcoin kerap menjadi semacam katup pelepas tekanan bagi sentimen risk-off global, menyerap aksi jual yang dalam kondisi normal juga akan terjadi di pasar saham, komoditas, maupun mata uang.
Meski demikian, ketidakmampuan Bitcoin bertahan di atas level US$65.000 menunjukkan pelaku pasar masih berhati-hati.
Risiko Volatilitas Bitcoin Masih Tinggi
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, salah satu wilayah paling strategis bagi ekonomi global, meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan, termasuk aset kripto.
Dengan karakteristiknya yang sangat likuid dan diperdagangkan tanpa henti, Bitcoin diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan konflik dan sentimen risiko global dalam jangka pendek.
Investor kini mencermati apakah Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis US$60.000, atau justru kembali melemah jika eskalasi konflik terus berlanjut.
Konflik Timur Tengah Picu Ketidakpastian Global
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan status darurat nasional. Serangan ke Iran dilaporkan melibatkan partisipasi militer AS dan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 70 orang tewas di Provinsi Hormozgan, termasuk korban dalam serangan yang menghantam sebuah sekolah dasar. Israel juga mengaktifkan sistem peringatan serangan udara setelah mendeteksi peluncuran rudal baru dari Iran.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan tujuan utama AS terkait situasi tersebut adalah kebebasan rakyat Iran. “Yang saya inginkan hanyalah kebebasan bagi rakyat,” ujar Trump kepada media.
Sementara itu, NATO menyatakan sedang memantau situasi secara ketat. China mendesak gencatan senjata segera, dan Turki menawarkan diri sebagai mediator untuk meredakan konflik.