Bitcoin Bakal Ambruk Lagi? Analis Prediksi Potensi Harga Jatuh di Bawah Rp1 Miliar

Bitcoin dan aset kripto.
Bitcoin dan aset kripto.

 Bitcoin berupaya pulih setelah penurunan baru-baru ini, tetapi seorang analis memperingatkan bahwa mata uang digital utama ini bisa menghadapi penurunan nilaibyang berkelanjutan hingga Desember nanti. Menurut Mike McGlone, analis senior Bloomberg Intelligence, Bitcoin berpotensi turun ke US$50.000 atau setara Rp830 juta. 

Hal tersebut, karena sejumlah faktor makroekonomi yang sedang berlangsung. McGlone menyoroti bahwa penurunan Bitcoin terhadap emas semakin cepat, menandai pergeseran struktural menuju posisi defensif. 

"Dengan emas menembus rekor tertinggi dan menyerap aliran dana sebagai aset aman, performa Bitcoin yang melemah terhadap logam mulia ini menambah momentum penurunan, sehingga meningkatkan kemungkinan harga kembali menguji titik pivot jangka panjang di US$50.000 atau setara Rp830 juta, bahkan bisa lebih buruk jika tren saat ini berlanjut," demikian analisisnya, sebagaimana dikutip dari Finbold, Minggu, 30 November 2025.

Salah satu kekhawatiran utama adalah kondisi volatilitas pasar saham yang rendah dan rotasi risiko secara luas. McGlone mencatat bahwa meski pasar saham relatif tenang, ketenangan ini bisa menyembunyikan keretakan yang lebih dalam. Analisisnya menunjukkan bahwa secara historis, indeks saham S&P 500 sering mengikuti pergerakan Bitcoin saat turun di bawah rata-rata pergerakan 50 minggu. 

Bitcoin.

Saat ini, baik Bitcoin maupun S&P 500 berada di bawah garis tren penting tersebut, menandakan risiko meningkat di berbagai aset utama. Sejarah mencatat, saat terjadi penurunan besar pada 2018, pandemi 2020, dan pasar bearish 2022, saham segera meniru penurunan Bitcoin. 

Kondisi saat ini bisa kembali menarik saham lebih rendah. Tekanan tambahan datang dari “pasokan tak terbatas” mata uang kripto lain yang terus menggerus pangsa pasar Bitcoin, melemahkan dominasi mata uang digital ini saat pasar sedang tertekan. 

Bersamaan dengan gaya reversion to the mean dan kondisi likuiditas yang memburuk, situasi ini mirip fase deflasi sebelumnya di mana Bitcoin mengalami retracement tajam.

Saat ini, Bitcoin baru saja berhasil menembus resistensi US$90.000 atau hampir Rp1,5 miliar, yang kini menjadi zona rapuh. Saat berita ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di US$91.415 atau setara Rp1.51 miliar, naik hampir 1 persen dalam 24 jam terakhir, sementara dalam periode mingguan aset ini naik 6 persen.

Meski mengalami kenaikan, struktur teknis Bitcoin cenderung bearish. Rata-rata pergerakan 50 hari berada di US$103.001 atau setara Rp1,7 miliar dan rata-rata pergerakan 200 hari di US$104.439 atau setara Rp1,73 miliar, menempatkan harga saat ini jauh di bawah kedua indikator tren penting tersebut. 

Indeks kekuatan relatif (RSI) 14 hari berada di 40,50, berada di wilayah netral namun cenderung melemah. Meskipun belum dalam kondisi oversold, RSI menunjukkan permintaan belum cukup untuk menahan struktur bearish saat ini.

Analisis McGlone memperingatkan investor bahwa meski ada penguatan jangka pendek, risiko penurunan lebih dalam tetap ada, terutama menjelang akhir tahun. Kondisi ini memunculkan istilah “Christmas Grinch”, sebuah peringatan bahwa harga Bitcoin bisa kembali turun ke US$50.000 atau setara Rp830 juta sebelum tahun berakhir jika tekanan pasar berlanjut.