Bitcoin Naik 11 Persen Jadi Rp1,5 Miliar Usai Sentuh Level Terendah, The Fed Punya Peran Penting

Aset kripto.
Aset kripto.

Bitcoin mencetak lonjakan signifikan sebesar 11 persen setelah merosot tajam hingga menyentuh level US$83.909 atau Rp 1,39 miliar (estimasi kurs Rp 16.660) pada awal Desemmber 2025. Penguatan mendorong aset digital paling berharga di dunia kembali bertengger di harga US$93.000 atau Rp 1,54 milar per keping. 

Dikutip dari CryptoSlate pada Jumat, 5 Desember 2025, rebound kuat Bitcoin merupakan kombinasi faktor makro dan teknikal yang menggerakkan pasar secara agresif. Salah satunya, upaya Federal Reserve (The Fed) yang secara resmi menghentikan kebijakan pengetatan kuantitatif (quantitative tightening/QT) mulai 1 Desember 2025. 

Pada saat bersamaan, The Fed juga menggelontorkan likuiditas besar melalui operasi repo sekitar US$25 miliar pada sesi pagi dan tambahan US$13,5 miliar pada malam hari. Jumlah ini merupakan 'suntikan' likuiditas terbesar sejak tahun 2020 sontak mengurangi tekanan pendanaan dan memicu sentimen positif di pasar aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Berakhirnya QT dan masukknya likuiditas biasanya menurunkan biaya pinjaman serta memperlonggar suplai dolar di sistem keuangan. Sehingga aset high-beta seperti kripto mendapatkan dorongan kuat. 

Sentimen positif Bitcoin juga datang dari ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) setelah data manufaktur terus melemah. Indeks Manufaktur AS tercatat berada di level 48,2 yang mengindikasikan kontraksi selama sembilan bulan berturut-turut. 

Kondisi ini membuat pasar meningkatkan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada rapat anggota The Fed yang dijadwalkan pada 10 Desember 2025 menjadi di kisaran 80 persen, menurut CME FedWatch.

Pasar kripto juga mendapat dorongan tambahan dari faktor distribusi. Manajer aset global, Vanguard, membuka akses untuk ETF dan reksa dana kripto pihak ketiga, termasuk produk berbasis Bitcoin, Ethereum, XRP, dan Solana. 

Analis senior ETF, Eric Balchunas, mengatakan munculnya Vanguard effect yang mendorong Bitcoin naik sekitar 6 persen saat pasar AS dibuka karena adanya lonjakan permintaan terhadap ETF dan reksadana kripto. BlackRock IBIT bahkan mencatatkan volume transaksi sekitar US$1 miliar hanya dalam 30 menit pertama.

Meski demikian, Bitcoin masih berada lebih dari 30 persen di bawah puncaknya pada Oktober lalu yang hampir menyentuh US$126.000. Penurunan sepanjang bulan November 2025 mencapai 17 persen atau kehilangan lebih dari US$,5 miliar akibat aksi jual investor ritel maupun perusahaan pemegang cadangan terbanyak seperti MicroStrategy.

Dilansir dari MarketCoinCap hingga pukul 06.32 WIB pada Jumat, 5 Desember 2025, harga Bitcoin berada di level US$92.268 per koin. Harga ini turun tipis sebesar 1,40 persen dalam 24 terakhir dan naik 1,06 persen dalam tujuh hari terakhir.