McKinsey Bakal PHK Ribuan Karyawan, Sinyal Suram untuk Pekerja Kerah Putih

Ilustrasi PHK
Ilustrasi PHK

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat kembali menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tak lagi hanya menghantam sektor teknologi atau manufaktur. Dalam beberapa bulan terakhir, profesi kerah putih yang selama ini dianggap relatif aman mulai ikut merasakan dampaknya. 

Ketika perusahaan besar memangkas anggaran dan menunda ekspansi, lapangan kerja di sektor profesional ikut tergerus. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pekerja berpendidikan tinggi. 

Di tengah janji efisiensi dan produktivitas lewat otomatisasi serta kecerdasan buatan (AI), banyak peran administratif dan pendukung justru dinilai tidak lagi esensial. Akibatnya, perusahaan mulai menata ulang struktur tenaga kerja mereka secara lebih agresif.

McKinsey & Co., firma konsultan strategi yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penasihat para CEO dan perusahaan Fortune 500 dalam merampingkan organisasi, kini bersiap memangkas tenaga kerjanya sendiri. Melansir dari Quartz, Selasa, 16 Desember 2025, McKinsey merencanakan PHK besar-besaran pada karyawan yang tidak berhubungan langsung dengan klien. 

Di sejumlah unit, pemangkasan disebut bisa mencapai hingga 10 persen dari total karyawan, langkah yang berpotensi menghilangkan beberapa ribu pekerjaan dalam periode 18 hingga 24 bulan ke depan. Keputusan tersebut muncul di tengah kondisi industri konsultasi yang mengalami pertumbuhan sekaligus kontraksi. 

Setelah bertahun-tahun melakukan perekrutan agresif yang mendorong jumlah karyawan McKinsey melampaui 45.000 orang, laju pertumbuhan pendapatan kini melambat. Jumlah karyawan perusahaan itu dilaporkan telah turun mendekati 40.000 orang. 

Di sisi lain, tingkat utilisasi konsultan di seluruh industri juga menurun karena klien korporasi memangkas anggaran, menunda proyek, dan mulai beralih ke otomatisasi serta AI dibandingkan menggunakan jasa konsultasi tradisional.

Meski demikian, AI juga membuka peluang baru bagi firma konsultan, terutama dalam membantu perusahaan besar mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam operasional mereka. Kondisi ini membuat arah industri menjadi tidak sepenuhnya jelas, meski tekanan terhadap tenaga kerja tetap terasa nyata.

McKinsey bukan satu-satunya firma yang mengambil langkah ini. Sejak 2023, Accenture, KPMG, PricewaterhouseCooper, dan Ernst & Young telah mengumumkan gelombang PHK, disusul Deloitte, Bain & Company, serta sejumlah firma konsultan lain. 

“Perusahaan diperkirakan akan mengurangi perekrutan dan melakukan PHK yang lebih terarah untuk mengelola kenaikan biaya input, terutama yang didorong oleh tarif,” demikian riset dan analisis terbaru Ernst & Young. 

Langkah McKinsey memiliki makna simbolik yang lebih besar dibandingkan restrukturisasi perusahaan lain. Sebagai ikon profesi elite kerah putih di Amerika Serikat, keputusan McKinsey sering dipandang sebagai indikator perubahan siklus pasar tenaga kerja profesional. 

Ketika firma sebesar ini memangkas karyawan, banyak pengamat menilai bahwa fase pelemahan tenaga kerja kerah putih telah benar-benar dimulai. Tekanan ini terjadi di tengah latar belakang ekonomi yang semakin suram. 

Ketua Federal Reserve Jerome Powell pekan lalu memperingatkan bahwa pasar tenaga kerja AS mungkin sudah berada dalam fase kontraksi, bukan pertumbuhan. Ia menyoroti masalah berkepanjangan dalam model “birth-death” milik Bureau of Labor Statistics, yang berpotensi melebihkan angka perekrutan hingga 60.000 pekerjaan per bulan. 

Jika perhitungan tersebut benar, Amerika Serikat bisa kehilangan sekitar 20.000 pekerjaan setiap bulan, jauh lebih buruk dibandingkan gambaran data resmi selama ini. Situasi tersebut membuat laporan ketenagakerjaan AS terbaru menjadi sangat krusial. 

Powell sendiri menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja saat ini sebagai “sedikit aneh,” karena pemberitaan media dipenuhi kabar PHK perusahaan besar, sementara angka pengangguran juga cukup mengkhawatirkan. Kondisi ini memunculkan apa yang disebut banyak analis sebagai resesi kerah putih yang tersembunyi, ditandai dengan menyusutnya lowongan kerja, pemangkasan tim pendukung, serta meningkatnya rencana perusahaan untuk menggantikan peran analis, peneliti, dan staf operasional internal dengan AI.