Biji Kopi Dianggap Cacat Setelah Disortir, Lalu Diolah Jadi Apa?

Ada proses panjang di balik seduhan kopi. Dari buah kopi matang, biji kopi perlu melewati serentet proses pasca-panen.
Mulai dari penyortiran buah kopi, pengupasan kulit buah kopi, fermentasi, pengeringan, penyortiran biji kopi, hingga penyangraian dan penggilingan biji kopi.
Dalam proses sortir, biji kopi akan dipilah sesuai kualitas atau levelnya. Menurut Direktur Utama Karana Global, I Kadek Edi, grade biji kopi sedikitnya terdiri dari lima level.
"Grade lima itu sudah kopi pixel, sudah pecah," kata Edi dalam acara hibah mesin sutton Kopi Kenangan di tempat penyortiran kopi Karana di Singaraja, Bali, Kamis (2/10/2025).
Kualitas biji kopi ini dianggap cacat (defect) setelah melalui beberapa kali penyortiran, baik secara manual maupun otomatis menggunakan mesin.
Jika begitu, ke mana perginya biji kopi yang dianggap cacat?
Biji kopi defect diolah jadi apa?
ibu rumah tangga yang bekerja menyortir biji kopi di tempat sortir Karana Global, Singaraja, Bali, saat ditemui dalam kegiatan media trip bersama Kopi Kenangan, Kamis (2/10/2025).
Edi mengatakan, meski level biji kopi defect berada di urutan terbawah dan sering kali dikatakan tidak layak, masih ada pasar yang melirik biji kopi dengan kondisi demikian."Biasanya buat kopi instan, dibuat kopi tubruk, segala macam, yang jelas kopi itu tidak dibuang," ungkap Edi.
Bahkan, masih ada pasar internasional yang mau mengimpor biji kopi cacat dari Indonesia untuk digunakan di negaranya.
"Tidak semua kopi yang diekspor itu grade A. Malah ada brand-brand besar itu mereka enggak nyari kopi specialty," sambung dia.
Berbeda dengan kopi defect, biji kopi berkualitas paling baik (specialty coffee) biasa digunakan untuk produksi kopi di kafe dengan harga tidak murah.
Sebab harga beli biji kopi memang berbeda, tergantung grade yang dipilih. Semakin baik kualitas biji kopi, makin mahal harganya.
Menurut Edi, perbedaan harga kopi specialty dengan kopi defect berkisar 60-70 persen.