Trump Klaim Kontak dengan Petinggi Iran di Tengah Jeda Serangan 5 Hari, Siapa Dia?

Presiden AS Donald Trump saat pidato kenegaraan Union Speech di Capitol Hill AS
Presiden AS Donald Trump saat pidato kenegaraan Union Speech di Capitol Hill AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin mengumumkan bahwa ia menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Ia juga mengklaim bahwa Washington dan Teheran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan berjalan dengan positif yang bertujuan mengakhiri konflik di antara keduanya.

Pada hari yang sama, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa utusannya sedang berkomunikasi dengan seorang pemimpin tertinggi Iran, namun bukan pemimpin tertinggi baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Ia juga menolak menyebutkan nama orang tersebut dengan alasan tak ingin sosok pemimpin tersebut terbunuh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir laman Al Jazeerah, Rabu 25 Maret 2026, meski Trump tidak menyebutkan siapa pejabat tersebut. Namun sejumlah media di Israel dan Amerika Serikat melaporkan bahwa utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Trump, sedang berkomunikasi dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Namun, baik pemerintah Iran maupun Ghalibaf membantah adanya pembicaraan dengan Washington. Dalam sistem politik Iran, setiap negosiasi dengan Amerika Serikat juga harus mendapat persetujuan dari Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, serta Dewan Keamanan Nasional Tertinggi agar dianggap sah.

Terkait dengan pertemuan dengan pemimpin tertinggi Iran seperti yang dimaksud Trump, berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui tentang pembicaraan yang diklaim presiden AS tersebut.

Pada Sabtu, Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran penting di Selat Hormuz, atau negara tersebut akan menghadapi serangan AS terhadap fasilitas energinya. Iran membalas dengan menyatakan akan menyerang fasilitas energi dan air di Israel serta kawasan Teluk jika AS melakukan hal tersebut. Ghalibaf juga sempat mengancam perusahaan-perusahaan yang memegang obligasi Departemen Keuangan AS.

Kemudian pada Senin, Trump menulis di platform Truth Social bahwa Washington dan Teheran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan berjalan dengan positif terkait penyelesaian penuh dan menyeluruh atas permusuhan kami di Timur Tengah. Ia juga memerintahkan pasukan AS untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari.

Namun, Kementerian Luar Negeri Iran menolak klaim Trump bahwa negosiasi sedang berlangsung. Pejabat Iran menuduh Trump hanya menunda ancaman serangan demi menenangkan pasar energi.

Media juga melaporkan bahwa Trump mengatakan utusannya telah berhubungan dengan seorang pejabat senior Iran.

“Kami sedang berurusan dengan seseorang yang menurut saya paling dihormati ,  bukan pemimpin tertinggi. Kami belum mendengar darinya,” kata Trump kepada wartawan.

Trump mengaku tidak ingin menyebutkan nama pejabat Iran tersebut karena tidak ingin orang itu terbunuh. Namun, situs berita AS Axios dan Politico serta berbagai media Israel melaporkan bahwa Witkoff dan Kushner telah berkomunikasi dengan Ghalibaf.

Meski begitu, pada Senin Ghalibaf menulis di platform X membantah tudingan tersebut.

“Tidak ada negosiasi dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta keluar dari jebakan yang dibuat oleh AS dan Israel,” kata dia.

Siapa Ghalibaf?

Ghalibaf adalah Ketua Parlemen Iran. Ia pernah menjabat sebagai komandan angkatan udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada 1997–2000. Setelah itu ia menjadi kepala kepolisian Iran. Dari 2005 hingga 2017, ia menjabat sebagai Wali Kota Teheran.

Ghalibaf beberapa kali ikut dalam pemilihan presiden Iran, yaitu pada 2005, 2013, 2017, dan 2024. Ia sempat mundur dari pencalonan pada 2017.

Pada Mei 2020, Ghalibaf menjadi Ketua Parlemen menggantikan Ali Larijani yang telah menjabat sejak 2008. Larijani dikenal sebagai penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Larijani, yang juga pejabat keamanan tinggi Iran, kemudian juga tewas pada 17 Maret dalam serangan Israel.

Apa yang dikatakan Ghalibaf selama perang?

Dalam unggahan-unggahannya, Ghalibaf termasuk salah satu tokoh yang paling keras mengkritik AS dan Israel. Ia berulang kali melontarkan ancaman terhadap Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara Teluk. Ancaman-ancaman tersebut sering sejalan dengan peringatan IRGC, bahkan terkadang lebih keras dari pernyataan militer sendiri.

Pada 14 Maret, ia mengejek Trump yang mengklaim AS telah mengalahkan Iran. Tiga hari kemudian, ia menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi seperti sebelum perang. Pada Minggu, ia juga mengatakan bahwa lembaga keuangan yang mendanai militer AS adalah target yang sah bagi Iran.

“Obligasi Departemen Keuangan AS berlumuran darah rakyat Iran. Jika kamu membelinya, berarti kamu juga membeli serangan ke markas dan asetmu sendiri,” tulisnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada Senin, Ghalibaf juga membuat serangkaian unggahan di X yang membantah adanya pembicaraan dengan AS.

“Rakyat Iran menuntut hukuman yang adil dan penuh penyesalan bagi para aggressor. Seluruh pejabat Iran berdiri teguh di belakang pemimpin tertinggi dan rakyat sampai tujuan ini tercapai,” tulis dia.