Trump Masih Kesal dengan PM Inggris Keir Starmer: Dia Bukan Winston Churchill

Presiden AS Donald Trump melakukan pertemuan dengan PM Inggris Keir Starmer
Presiden AS Donald Trump melakukan pertemuan dengan PM Inggris Keir Starmer

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengkritik respons awal pemerintah Inggris terhadap perang di Timur Tengah sebelum melontarkan hinaan baru kepada Sir Keir Starmer.

Berbicara dari Ruang Oval, Presiden AS itu mengatakan dia "tidak senang" dengan Inggris setelah awalnya tidak mengizinkan AS menggunakan pangkalan-pangkalan mereka untuk serangan terhadap Iran, dan menambahkan bahwa Perdana Menteri Inggris "bukan Winston Churchill".

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ini adalah 'kritikan' terbaru dalam serangkaian serangan dari presiden AS atas posisi Inggris dalam perang Timur Tengah.

Sebelumnya, Trump mengaku "sangat sedih" melihat hubungan AS-Inggris "tidak seperti dulu,". Ia mengungkapkan hal itu setelah mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang dinilai "kelamaan" karena tidak langsung mengizinkan AS memakai pangkalan udara Inggris untuk menyerang Iran.

"Ini dunia yang berbeda. Hubungan kami dengan negara Anda sangat berbeda dari sebelumnya. Sangat menyedihkan melihat hubungan ini jelas-jelas tak seperti dulu," kata Trump dalam wawancara telepon dengan tabloid The Sun.

Trump lantas membandingkan sikap Starmer yang "tak membantu" dengan dukungan dari Prancis dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte terhadap serangan tersebut. "Saya tak pernah menyangka akan mendapatkan hal itu dari Inggris. Kami mencintai Inggris," kata Trump.

Keir Starmer is ‘No Winston Churchill’

Di Ruang Oval -- Trump sambil mengomentari dukungan dari negara-negara Eropa untuk tindakan AS di Iran, sembari memuji kepala NATO Mark Rutte tetapi menilai Spanyol telah "mengerikan" dan mengkritik Inggris. "Saya juga tidak senang dengan Inggris".

"Pulau itu... Butuh tiga, empat hari bagi kami untuk mencari tahu di mana kami dapat mendarat di sana, akan jauh lebih nyaman mendarat di sana daripada terbang berjam-jam ekstra, jadi kami sangat terkejut," katanya dilansir The Independent

"Ini bukan Winston Churchill yang sedang kita hadapi."

Sir Winston Churchill, sang penghancur Nazi Jerman, dikenang sebagai pemimpin terbesar Inggris abad ke-20. Pidato-pidatonya yang menggugah membangkitkan semangat bangsa yang sedang terpuruk di masa-masa tergelapnya.

Sir Winston-lah yang menciptakan istilah "hubungan khusus" untuk aliansi antara Inggris dan AS selama pidatonya di Missouri pada tahun 1946.

Fakta bahwa Sir Winston diundang untuk menginap di Gedung Putih selama perjalanan ke Washington setelah serangan Jepang di Pearl Harbour pada tahun 1941, yang memaksa Amerika langsung terlibat dalam perang, dipandang sebagai cerminan betapa eratnya hubungan transatlantik tersebut.

Ia dan Franklin D. Roosevelt kemudian pada tahun yang sama menandatangani Piagam Atlantik, sebuah deklarasi bersama penting yang menguraikan pernyataan luas tentang tujuan perang Inggris dan AS.

Sir Winston dianggap sebagai pemimpin hebat dalam konflik, tetapi di mata pemilih, ia tidak cocok untuk pemerintahan di masa damai karena ia mengalami kekalahan telak dari Partai Buruh dalam pemilihan umum 1945.

Warisan beliau sebagai pemimpin dan negarawan di masa perang telah diabadikan dalam sebuah patung menjulang tinggi di Parliament Square dan di Churchill War Rooms, di antara banyak tokoh lain yang namanya diabadikan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terlepas dari popularitasnya, patung Sir Winston di Westminster dirusak pekan lalu dengan grafiti, yang menyebut mantan perdana menteri itu sebagai "penjahat perang Zionis".

Pada tahun 2020, seorang remaja didenda karena melukis kata "rasis" di alas patung tersebut.