Rupiah Melemah, Daihatsu Buka Suara Soal Kenaikan Harga Mobil
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level Rp 18.000 per dollar berpotensi memberikan tekanan pada industri otomotif nasional.
Salah satu dampak yang paling mungkin terjadi ialah penyesuaian harga kendaraan.
Menanggapi kondisi tersebut, Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Sri Agung Handayani mengatakan, pihaknya masih terus memantau perkembangan nilai tukar sebelum mengambil keputusan terkait harga jual mobil.
Daihatsu meresmikan pabrik baru Karawang Assembly Plant 2 di Kawasan Industri Surya Cipta, Karawang Timur, Jawa Barat, Kamis (27/2/2025).
Meski demikian, Agung mengakui bahwa penguatan dollar AS sulit dihindari dampaknya terhadap biaya produksi kendaraan.
"Masih waiting sih. Kita tidak bisa menghindari, dengan kenaikan dollar ini pasti akan terjadi koreksi terhadap kenaikan," ujar Agung kepada Kompas.com, Selasa (9/6/2026).
Kendati demikian, Agung menegaskan bahwa potensi kenaikan biaya produksi tidak serta-merta dibebankan seluruhnya kepada konsumen melalui kenaikan harga kendaraan.
Menahan Dampak ke Konsumen
Menurut dia, Daihatsu masih memiliki sejumlah faktor yang dapat menahan dampak pelemahan rupiah, salah satunya tingkat lokalisasi komponen yang cukup tinggi pada produk-produk yang dipasarkan di Indonesia.
Selain itu, kontribusi ekspor kendaraan dan komponen juga menjadi penopang bagi perusahaan di tengah gejolak nilai tukar.
"Tidak semua kenaikan biaya produksi akan diturunkan kepada customer. Sebab kita didukung oleh lokalisasi, yang kedua juga masih didukung ekspor," kata Agung.
Dengan kondisi tersebut, ADM masih memiliki ruang untuk menyerap sebagian kenaikan biaya yang muncul akibat penguatan dollar AS.
Daihatsu Gran Max
Karena itu, perusahaan belum memastikan apakah koreksi harga akan dilakukan dalam waktu dekat atau tidak.
Namun, sinyal penyesuaian harga mulai terlihat seiring meningkatnya tekanan biaya yang harus ditanggung industri otomotif. Apalagi, sejumlah komponen dan bahan baku kendaraan masih bergantung pada impor sehingga sensitif terhadap pergerakan kurs.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir mengalami tekanan dan sempat menyentuh level Rp 18.000 per dollar AS.
Kondisi ini menjadi perhatian pelaku industri karena berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama bagi pabrikan yang masih memiliki ketergantungan terhadap komponen impor.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang