KDM Buka Suara soal Skor PCMB yang Turun, Ternyata Bukan Gara-gara Kesalahan Peserta
Munculnya keluhan terkait perubahan atau penyusutan skor pada sistem Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) Jawa Barat 2026 sempat membuat banyak orang tua siswa khawatir. Sebagian peserta bahkan mempertanyakan mengapa nilai yang sebelumnya muncul di sistem tiba-tiba berubah, sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai peluang diterima di sekolah tujuan.
Menanggapi polemik tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru panik. Menurutnya, perubahan skor yang terjadi bukan disebabkan oleh kesalahan dalam penilaian peserta, melainkan bagian dari proses penyesuaian data yang dilakukan sistem sesuai aturan yang berlaku.
Dedi menjelaskan bahwa skor prestasi yang tercantum dalam PCMB harus disesuaikan dengan standar yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen). Akibatnya, sejumlah sertifikat atau prestasi yang sebelumnya diinput peserta mengalami penyesuaian nilai ketika diverifikasi oleh sistem.
"Misalnya, kejuaraan di provinsi itu skornya di bawah kejuaraan nasional. Kayak tadi kan, 'Saya juara di luar negeri', tapi itu tidak diakui sebagai kejuaraan yang terdaftar di Kemdikdasmen," ujar Dedi di Kantor Disdik Jabar, Bandung, belum lama ini.
Menurut Dedi, banyak masyarakat yang salah memahami fungsi PCMB. Ia menegaskan bahwa tahapan yang saat ini berjalan bukanlah proses pendaftaran resmi SPMB 2026, melainkan tahap pemetaan yang bertujuan mengumpulkan dan memverifikasi data calon peserta didik sebelum proses seleksi dimulai.
Karena itu, berbagai perubahan yang muncul dalam sistem masih dapat diperbaiki dan dievaluasi sebelum tahapan pendaftaran resmi dibuka. "Sebenarnya pemetaan itu bukan pendaftaran, tetapi ketika orang sudah terpetakan dengan baik, kemudian dalam sisi kualifikasi sudah memenuhi syarat, ya sudah jalan," ucapnya.
KDM menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini sedang melakukan pemetaan terhadap sekitar 340 ribu calon murid baru yang akan mengikuti proses penerimaan siswa tahun ini. Dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil yang mengalami persoalan terkait skor atau data yang ditampilkan sistem.
Ia justru melihat kemunculan kendala pada tahap awal sebagai hal yang positif karena memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk melakukan evaluasi sebelum memasuki tahapan yang lebih krusial.
Menurutnya, apabila masalah baru ditemukan saat pendaftaran resmi berlangsung atau setelah hasil seleksi diumumkan, dampaknya bisa jauh lebih besar karena menyangkut kepastian diterima atau tidaknya seorang siswa di sekolah tujuan.
"Jadi, bagi saya, kegiatan pemetaan ini relatif berhasil. Kami bisa memitigasi berbagai problem dibandingkan kami bikin SPMB, ditutup, orang tua siswa anaknya tidak diterima, waktunya terbatas," tutur Dedi.
Lebih lanjut, Dedi menegaskan bahwa persoalan yang ramai diperbincangkan dalam beberapa hari terakhir bukan berasal dari aturan penerimaan siswa baru yang bermasalah. Ia menilai akar persoalan lebih banyak berkaitan dengan aspek teknis aplikasi yang digunakan dalam proses pemetaan.
Menurutnya, tujuan utama PCMB adalah memastikan seluruh calon peserta didik dapat terdata dengan baik dan ditempatkan sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan sistem pemetaan yang berjalan optimal, proses penerimaan murid baru nantinya akan berlangsung lebih tertib dan terukur.
"PCMB itu tujuannya untuk memetakan seluruh siswa di seluruh sekolah Provinsi Jawa Barat di sekolah-sekolah negeri. Sehingga, pemetaan itu nanti bagi mereka siswa yang sudah memenuhi syarat, kemudian memang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Kemdikdasmen, mereka sudah otomatis menjadi siswa," katanya.
Karena masih berada dalam tahap pemetaan, pemerintah memiliki waktu untuk melakukan berbagai penyempurnaan sebelum pendaftaran resmi SPMB Jawa Barat 2026 dimulai pada 15 Juni mendatang. Berbagai temuan yang muncul saat ini disebut sedang ditangani oleh tim teknis agar tidak mengganggu proses selanjutnya.
Dedi juga memberikan jaminan bahwa gangguan yang berkaitan dengan aplikasi akan segera diperbaiki. Ia meminta masyarakat untuk melihat persoalan ini secara proporsional dan tidak langsung menganggap sistem penerimaan murid baru mengalami kegagalan.
"Kalau saya melihat problemnya tadi sederhana. Ini kan dari 340.000 ada beberapa problem yang disebabkan oleh teknis aplikasi. Tidak usah panik. Lebih baik kita hadapi kesulitan sekarang. Masih ada waktu untuk membenahi," ujar Dedi. (Ant)