Analisis BMKG soal Panas Ekstrem di Semarang dan Surabaya, Suhu Tembus 36 Derajat Celsius

Cuaca panas ekstrem melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah (Semarang) dan Jawa Timur (Surabaya), dengan suhu maksimum mencapai 36 derajat Celsius.
Kondisi ini disebut lebih tinggi dari rata-rata suhu normal bulan Oktober sebelumnya dan masih akan terasa beberapa hari ke depan.
Prakirawan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Ferry Oktarisa, menjelaskan peningkatan suhu di Jawa Tengah dipicu oleh gerak semu matahari yang saat ini berada tepat di atas Pulau Jawa.
“Gerak semu matahari sekarang berada di atas Pulau Jawa, sehingga menyebabkan suhu matahari cukup tinggi di wilayah ini,” ujarnya kepada , Rabu (15/10/2025).
Ferry menambahkan, suhu tinggi tersebut bersifat musiman dan biasanya terjadi setiap Oktober.
Berdasarkan catatan BMKG sejak 2015, suhu tertinggi di Jawa Tengah pernah mencapai 39,5 derajat Celsius pada 2002 dan 2015.
Namun, tahun ini BMKG memperkirakan suhu maksimum hanya akan bertahan di sekitar 36 derajat Celsius dan akan menurun menjelang akhir Oktober seiring datangnya musim hujan.
“Kemungkinan suhu tinggi ini hanya akan bertahan sampai semingguan lagi. Setelah itu, menjelang dasarian ketiga Oktober, beberapa wilayah Jawa Tengah mulai memasuki musim hujan,” katanya lagi.
Prediksi curah hujan
ilustrasi hujan lebat yang melanda wilayah di Jawa pada Oktober 2025.
BMKG juga memprediksi curah hujan meningkat pada pekan terakhir Oktober akibat pengaruh gelombang Rossby dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang mendorong pembentukan awan hujan di wilayah Jawa.
Ferry menyebutkan, wilayah Pantura seperti Semarang, Demak, Kudus, Pati, dan Grobogan mengalami suhu paling tinggi, berkisar antara 35–36 derajat Celsius.
Sementara daerah pegunungan masih terasa lebih sejuk.
“Misalnya di Semarang Timur atau Selatan terjadi hujan, tapi di Semarang Barat bisa tetap kering. Jadi prakiraannya benar, hanya tidak merata di seluruh wilayah kota,” bebernya.
Untuk menghindari dampak panas ekstrem, Ferry mengimbau masyarakat tidak beraktivitas di luar ruangan antara pukul 11.00–15.00 WIB, saat indeks sinar ultraviolet (UV) mencapai level tinggi.
“Gunakan sunscreen, kacamata hitam, pakaian longgar dan nyaman, serta perbanyak minum air putih. Hindari aktivitas luar ruangan pada jam-jam dengan paparan UV tertinggi,” imbaunya.
Surabaya juga "terpanggang", suhu terasa seperti 40 derajat Celsius
Kondisi serupa juga dirasakan masyarakat Surabaya dan beberapa wilayah di Jawa Timur.
BMKG mencatat suhu udara di kota tersebut menyentuh 36 derajat Celsius, namun terasa seperti 40–41 derajat Celsius akibat kelembapan yang tinggi.
Prakirawan cuaca BMKG Kelas I Juanda, Shanas Prayuda, menjelaskan bahwa posisi matahari yang berada di garis ekuator menjadi faktor utama penyebab panas ekstrem di wilayah itu.
“Kenaikan suhu disebabkan posisi matahari yang berada tepat di garis ekuator, sehingga sinar matahari datang tegak lurus ke permukaan bumi,” ujarnya kepada , Senin (15/10/2025).
Shanas menambahkan, minimnya tutupan awan membuat sinar matahari langsung menembus permukaan bumi tanpa hambatan.
“Nah, itu yang juga menyebabkan tidak adanya hambatan sinar matahari menuju ke permukaan bumi,” lanjutnya.
Fenomena ini, kata dia, masih akan berlangsung hingga awal Oktober dan menjadi bagian dari masa peralihan musim kemarau ke musim hujan.
Suhu terasa lebih panas
Ilustrasi kipas angin. Wilayah dengan suhu panas tertinggi.
Prakirawan BMKG lainnya, Oky Sukma Hakim, menegaskan bahwa suhu udara dan suhu yang dirasakan tubuh sering kali berbeda.
“Suhu udara dan suhu yang dirasakan kulit manusia berbeda. Saat kelembapan tinggi, suhu yang dirasakan tubuh bisa jauh lebih panas,” terang Oky.
Ia menyebut, meski nantinya sinar matahari tidak lagi menyengat seiring bertambahnya awan, masyarakat akan tetap merasakan panas gerah akibat kelembapan yang meningkat.
“Jadi kalau periode saat ini panas mataharinya cenderung menyengat, tapi nanti memasuki bulan Oktober kondisi cuaca akan terasa lebih panas gerah,” paparnya.
Menurut Oky, Surabaya termasuk kota dengan suhu tertinggi di Jawa Timur, bersama beberapa daerah lain seperti Kediri, Sidoarjo, Bojonegoro, dan sekitarnya.
“Meskipun ada beberapa wilayah lain yang juga memiliki suhu cukup tinggi, seperti wilayah Kediri, Sidoarjo, Bojonegoro, termasuk Surabaya,” ucapnya.
BMKG pun mengimbau warga agar melindungi diri dari paparan sinar matahari langsung, antara lain dengan memakai tabir surya, topi, atau jaket, serta memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi.
“Kemudian, untuk awal-awal Oktober nanti kita akan memasuki peralihan musim, yang mana biasanya banyak terjadi cuaca-cuaca ekstrem yang juga perlu diwaspadai,” tutupnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.