Menjelajah Hutan Mangrove Tapak Semarang, Destinasi Edukasi dan Rekreasi
SEMARANG, KOMPAS. com - Jika bosan dengan obyek wisata di Semarang bukan hanya Kota Lama atau Pantai Marina. Di Kelurahan Tugurejo ternyata ada wisata edukasi konservasi mangrove yang dikelola Komunitas PRENJAK (Perkumpulan Pemuda Peduli Alam Tapak).
Konservasi mangrove Tapak di Semarang dengan luas kurang lebih 50 Hektar tersebut memiliki peran krusial sebagai benteng terakhir melawan abrasi pesisir. Hutan mangrove ini lindungi garis pantai dari erosi ombak Laut Jawa.
Pengunjung akan diajak menyusuri sungai di tengah hutan mangrove lebat, mencicipi pindang udang segar buatan ibu-ibu lokal, sekaligus belajar rahasia alam yang menjaga pantai dari abrasi. Destinasi ini bukan sekadar wisata biasa, melainkan perpaduan rekreasi dan edukasi yang lahir dari kepedulian warga pesisir.
Eko, perwakilan Hubungan Luar Komunitas PRENJAK menjelaskan bahwa kegiatan wisata sudah sekitar 2013 untuk mengajak orang agar banyak tak tahu mengenai konservasi Mangrove.
“Komunitas kami mengajak agar warga Semarang tahu bahwa mangrove yang ada disini memiliki fungsi sebagai pelindung ekosistem pesisir. Destinasi yang ditawarkan beragam mulai susur sungai dengan perahu dayung di mana pengunjung saksikan ekosistem udang, kerang, dan kepiting.” Ujarnya saat diwawancarai kompas.com Sabtu, (11/4/2026).
Selain itu pengunjung juga diajak proses pembibitan Mangrove.
“bukan cuma bersenang-senang, tapi sisipkan pembelajaran soal pentingnya jaga lingkungan, dari cara bibit hingga fungsi anti-abrasi,” ujar Eko.
Berawal dari komunitas untuk wisata edukasi
Eko menjelaskan Komunitas PRENJAK lahir dari keresahan lingkungan di Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Semarang, pada akhir 1990-an.
Saat itu, desa pesisir ini terancam abrasi, banjir rob, intrusi air payau, dan pencemaran limbah industri dari Kali Tapak, membuat petambak kesulitan bertahan hingga beralih profesi.
“Dimulai tahun 1998-1999, komunitas ini untuk mewadahi warga lokal yang putus sekolah Pak Abdul Rafiq, salah satu penggiat awal, memimpin mengarahkan mereka ke aktivitas positif seperti belajar bibit mangrove, penanaman di tambak kosong, dan edukasi fungsi pohon hijau itu sebagai pelindung pesisir,”
“Pada tahun 2000, kelompok ini dideklarasikan sebagai pecinta lingkungan untuk mengedukasi warga dan tingkatkan pendapatan via konservasi, dan bantu pendidikan anggota dari hasil kegiatan,” ujarnya.
Kini, Desa Tapak jadi salah satu destinasi mangrove tersembunyi di Semarang Utara, dengan tiket Rp20.000-50.000/orang termasuk guide lokal ramah.
Namun Eko menjelaskan bahwa kelompoknya memiliki tantangan dalam promosi lewat media sosial sehingga mempengaruhi kepada jumlah kunjungan.
“kendalanya itu kami masih lemah karena anggota mayoritas sibuk bekerja. Kunjungan pun fluktuatif—ramai saat libur sekolah saja,” tambahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang