Lebaran di Balik Nisan, Cerita Penjaga Makam di Surabaya dan Indramayu Bertahan Hidup

Surabaya, penjaga makam, Lebaran di Balik Nisan, Cerita Penjaga Makam di Surabaya dan Indramayu Bertahan Hidup

Di tengah hiruk pikuk persiapan warga menyambut Idul Fitri, Mariyah (tidak disebutkan usia) tampak sibuk di antara deretan nisan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel Rejo, Wonokromo, Surabaya. Tangannya yang renta cekatan mengayunkan sapu lidi, menyingkirkan daun kering dan bunga layu yang mengotori pusara.

Bagi Mariyah, makam bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan ruang hidup yang ia rawat setiap hari.

"Bojo gak ono, anak gak duwe (Suami tidak ada, anak tidak punya)," ucap Mariyah singkat dengan logat Madura yang kental saat ditemui di lokasi.

Mariyah menjalani kesehariannya dengan sangat sederhana. Ia mengontrak sebuah kamar kos tepat di belakang kompleks pemakaman dengan biaya Rp 450.000 per bulan. Jarak antara tempatnya beristirahat dan tempatnya bekerja hanya selemparan batu.

Sebagai penyapu makam, Mariyah tidak pernah mematok tarif kepada para peziarah. Ia melakukan tugasnya mulai dari menyapu, menyiram, hingga merapikan makam dengan tuntas, lalu menerima upah seikhlasnya.

"Seikhlasnya, enggak pernah mematok harga," katanya.

Pendapatan yang Tak Tentu dan Beban Utang

Pendapatan Mariyah fluktuatif tajam. Pada hari biasa, ia terkadang hanya membawa pulang uang Rp 2.000. Namun, saat musim nyekar menjelang Ramadhan dan Lebaran, ia bisa mengantongi Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per hari.

"Kadang 100, kadang 70. Alhamdulillah iso mangan (Alhamdulillah bisa makan)," tuturnya sambil tersenyum kecil.

Sayangnya, Lebaran tahun ini terasa lebih sepi. Banyak warga Surabaya yang sudah mudik lebih awal, membuat jumlah peziarah menurun. Saat ditanya rencana mudik ke Sampang, Madura, Mariyah menggeleng pelan dengan raut wajah ragu.

"Enggak, nak, enggak punya uang," jawabnya lirih.

Ongkos pulang-pergi Surabaya–Sampang mencapai Rp 400.000, jumlah yang setara dengan biaya sewa kosnya sebulan. Kondisinya semakin berat karena ia harus menanggung utang peninggalan almarhum suaminya sebesar Rp 57 juta, yang merupakan biaya pengobatan diabetes di masa lalu.

"Tinggale utang. Wonge mati (Meninggalkan utang. Orangnya meninggal)," ucap Mariyah yang sudah 24 tahun bertahan hidup di TPU Ngagel Rejo.

Kisah Santoso: Menjaga Makam sebagai Panggilan Hati

Bergeser ke Jawa Barat, kisah serupa namun dengan sudut pandang berbeda datang dari Santoso (50). Ia telah 16 tahun menjadi penjaga makam di TPU Samsu, Kelurahan Lemahmekar, Indramayu. Pekerjaan ini ia jalani sejak 2009, meneruskan jejak ayah dan kakek buyutnya.

"Dari kakek buyut penjaga kuburan, bahasanya itu seperti sudah ditakdirkan gitu. Tidak ada paksaan sama sekali, seperti panggilan hati saja," ujar Santoso, Selasa (17/2/2026).

Meski menolak untuk difoto, Santoso sangat terbuka membagikan pengalaman hidupnya. Baginya, bekerja di pemakaman adalah pengingat bahwa kematian tidak memandang usia. Ia kerap tersentuh saat harus memakamkan orang tua muda yang meninggalkan anak kecil.

"Almarhum itu baru nikah, punya anak kecil seusia TK atau SD. Anak sekecil itu sudah ditinggal ayahnya jadi yatim, melihat itu pasti siapa saja bakal tersentuh," ceritanya.

Berbeda dengan Mariyah, Santoso mendapatkan gaji dari pemerintah daerah setempat. Meski jumlahnya tidak besar, gaji tersebut cukup untuk menghidupi istri dan satu anaknya. Ia juga memiliki keahlian sebagai tukang yang memberinya penghasilan tambahan.

Bagi Santoso, menjadi penjaga makam bukan sekadar profesi, melainkan bentuk ibadah dan pengabdian kepada sesama warga yang sedang berduka.

"Di samping kita jagain makam, juga ada nilai ibadahnya. Kalau kita nurutin cari yang lebih mah ya ada banyak kerjaan di luar, tapi di sini kita itung-itung ibadah," tutupnya.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang