Kedai Kopi di Surabaya Ini Ajak Pengunjung Ngopi Sambil Belajar Budaya Jawa
Di tengah tren kedai kopi modern, Sasana Bhagavadgita di Dukuh Pakis, Surabaya, Jawa Timur, hadir dengan konsep yang berbeda. Kedai ini tidak hanya menawarkan kopi, tapi juga pengalaman budaya Jawa dalam suasana hangat dan tenang.
Seperangkat gamelan, wayang kulit, dan keris mudah ditemukan di kedai tersebut, lengkap dengan alunan musik karawitan. Bahkan, nama-nama menu yang ditawarkan pun diambil dari istilah pewayangan dan budaya Jawa.
Ngopi sambil belajar budaya Jawa
Suguhkan menu kopi dengan istilah pewayangan
Pemilik Sasana Bhagavadgita, Arya Sasikirana sengaja menghadirkan konsep tersebut agar pengunjung tak hanya datang untuk minum kopi, tapi juga belajar budaya Jawa secara santai.
Menu yang ada, dari Kopi Cokro, Kopi Wijaya, hingga Mega Karanta, semuanya diracik untuk menghadirkan pengalaman menikmati kopi dengan nuansa budaya Jawa yang kental.
“Untuk penamaan menu ada beberapa menggunakan istilah-istilah Jawa supaya sekalian orang sambil belajar saja,” kata Arya itu kepada Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
“Misal kopi Cokro, nah Cokro itu kan senjatanya Krisna itu isinya kopi hitam dengan rasa pekat dan kuat.Terinsipirasi dari sunyinya malam Jawa, kopi ini hadir sebagai teman setia untuk berfikir, meresapi dan menikmati setiap jeda yang bermakna,” jelas dia.
Selain itu ada Kopi Gandewa yang diambil dari nama busur milik Arjuna. Menu lain yang cukup diminati adalah Kopi Krisna, minuman ini memadukan kopi tubruk Jawa dengan sentuhan sirup mawar.
"Ada pula Kopi Wijaya, kopi susu klasik dengan karakter kuat dan rasa yang tegas. seperti kesatria jawa yang bijak, berani dan tak lekang oleh waktu,” tutur dia.
Wedang tradisional masih jadi favorit
Tempat ngopi di Surabaya ini menawarkan konsep unik. Pengunjung bisa menikmati kopi dengan nama pewayangan sembari mendengar karawitan.
Tidak hanya kopi, Sasana Bhagavadgita juga menghadirkan berbagai minuman tradisional Jawa yang mulai jarang ditemukan di kedai modern.
“Menu yang ditawarkan ada kopi dan teh serta signature itu basic sirup-sirup-an gitu. Ada juga wedang-wedangan kayak wedang jahe, wedang uwuh,” ujar Arya Sasikirana.
Untuk teh, pengunjung bisa memilih sejumlah varian unik seperti Teh Gendhis, Kampul, Subadra, Arjuna, dan Airawata.
“Teh Gendhis itu teh manis kalau teh Subadra semacam teh tarik,” sambungnya.
Meski menghadirkan konsep budaya yang unik, harga menu di Sasana Bhagavadgita tetap dibuat terjangkau mulai harga Rp 7.000 sampai Rp. 18.000. Kedia ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB sampai 23.00 WIB.
Sementara itu, untuk makanan, kedai ini masih menyediakan camilan ringan dan mi sebagai menu utama.
“Untuk makanan ringan goreng-gorengan gitu, ada makanan berat sementara masih mi. Insyaallah ke depannya makanan berat juga sambil berjalan,” kata laki-laki yang sedang menempuh kuliah di Institut Seni Indonesia Solo itu.
Konsep yang ditawarkan kedai ini ternyata membuat banyak orang mengira lokasinya berada di Solo atau Yogyakarta.
Arya mengaku dirinya terinspirasi dari sejumlah kedai kopi di Solo yang menghadirkan gamelan dan pertunjukan seni secara rutin. Di Surabaya belum banyak konsep serupa sehingga mencoba menghadirkan suasana tersebut di kota asalnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang