Flu Burung H5N1, Benarkah Berpotensi Jadi Pandemi Global Seperti COVID-19?

Ilustrasi flu burung lewat unggas
Ilustrasi flu burung lewat unggas

 Flu burung atau avian influenza, termasuk varian H5N1, kembali memicu kekhawatiran seiring penyebarannya di burung, sapi, serta kasus infeksi manusia yang meski jarang tetap terjadi. Banyak orang bertanya-tanya apakah virus ini berpotensi menjadi pandemi global berikutnya, seperti flu-flu sebelumnya yang menyebar dari hewan ke manusia. Namun, hasil riset terkini menunjukkan risiko penularan luas antarmanusia masih tergolong rendah, berkat pemantauan ketat dan keterbatasan kemampuan virus tersebut.

Infeksi meluas pada hewan

Melansir laman Times of India, virus H5N1 banyak ditemukan pada burung liar yang membawanya melintasi berbagai wilayah dunia. Sejak awal 2024, virus ini juga menginfeksi peternakan unggas dan sapi perah di Amerika Serikat.

Hingga akhir 2025, tercatat 71 kasus infeksi pada manusia di AS, hampir seluruhnya dialami oleh pekerja peternakan unggas atau sapi perah yang terpapar aerosol atau menyentuh peralatan yang terkontaminasi. Sebagian besar pasien hanya mengalami gejala ringan seperti mata merah (konjungtivitis), batuk, atau kelelahan, dan pulih dengan cepat setelah mendapat obat antivirus seperti oseltamivir.

Secara global, sejak 2003 hingga pertengahan 2025, tercatat 986 kasus flu burung pada manusia di 25 negara, dengan 473 kematian atau tingkat fatalitas sekitar 48 persen. Kasus-kasus ini banyak terjadi di negara seperti Kamboja, termasuk 11 kasus yang dikaitkan dengan ayam peliharaan rumahan pada awal tahun ini.

Varian lain, H5N5, sempat menimbulkan perhatian setelah menyebabkan kematian pertama akibat flu burung di Washington AS, yang terjadi pada seorang lansia dengan penyakit penyerta. Namun, kasus tersebut tidak menimbulkan penularan lanjutan.

Jalur paparan pada manusia

Paparan pada manusia umumnya terjadi saat pekerja memusnahkan unggas sakit, memerah susu sapi, atau membersihkan kandang tanpa perlindungan lengkap. Sementara itu, masyarakat umum dinilai memiliki risiko yang sangat rendah, terutama karena virus ini mati ketika dimasak pada suhu di atas 74 derajat Celsius. Unggas dan telur yang dimasak dengan benar aman untuk dikonsumsi.

Otoritas kesehatan juga mengingatkan untuk tidak mengonsumsi susu mentah, karena di beberapa negara bagian AS, susu mentah dari peternakan terinfeksi terbukti mengandung virus.

Hingga kini, belum ada bukti kuat penularan flu burung dari manusia ke manusia secara berkelanjutan, bahkan di lingkungan padat seperti peternakan atau keluarga pasien. Uji laboratorium pada musang hewan yang sering digunakan sebagai model sistem pernapasan manusia menunjukkan virus ini sulit menular melalui udara. Analisis genetik juga memperlihatkan bahwa H5N1 lebih mudah menempel pada sel burung dibandingkan sel manusia, sehingga menghambat adaptasinya pada manusia.

Faktor yang menghambat terjadinya pandemi

Sebuah pandemi membutuhkan virus yang mampu berkembang cepat di tubuh manusia, menghindari kekebalan, dan menular dengan mudah antarmanusia. Berdasarkan Influenza Risk Assessment Tool milik CDC, H5N1 mendapat skor risiko sedang artinya sangat berbahaya bagi hewan, tetapi rendah dari sisi kemampuan menular dan beradaptasi pada manusia.

Penilaian bulanan WHO juga sejalan, menyoroti risiko di lingkungan peternakan namun menilai ancaman bagi masyarakat umum masih rendah. Meski ada kekhawatiran terkait resistensi antivirus pada beberapa strain, serta prediksi laboratorium dari tim peneliti di India tentang potensi mutasi pada mamalia, data di lapangan belum menunjukkan adanya rantai penularan antarmanusia. Kasus tanpa gejala juga jarang ditemukan, dan sistem surveilans global mampu mendeteksi mutasi lebih awal.

Kesiapsiagaan dan langkah pencegahan

Sejumlah negara telah menyiapkan stok vaksin H5 yang mampu memicu respons antibodi pada 60 hingga 95 persen penerima vaksin. Teknologi mRNA, yang didorong oleh WHO sejak 2024, memungkinkan produksi vaksin dipercepat dari hitungan bulan menjadi hanya beberapa minggu.

Kemajuan laboratorium, seperti penggunaan organoid paru manusia, membantu menguji efektivitas vaksin agar lebih sesuai dengan jaringan manusia.

Stok vaksin dan teknologi baru

Eropa dan Amerika Serikat menyimpan vaksin H5N1 yang telah mendapat izin dan siap digunakan jika dibutuhkan. Beberapa perusahaan juga mengembangkan vaksin mRNA dalam uji coba awal, yang menjanjikan penyesuaian lebih cepat terhadap varian baru. Vaksin flu burung generasi lama pun diperkirakan masih memberikan perlindungan parsial.

Di sisi lain, pengembangan vaksin untuk sapi juga terus berjalan. Hasil awal, meski belum dipublikasikan menunjukkan vaksin mRNA pada ternak berpotensi menurunkan penularan di peternakan dan melindungi para pekerja.

Langkah sederhana tetap menjadi kunci pencegahan, seperti mengonsumsi produk susu pasteurisasi, memastikan daging matang sempurna, mencuci tangan setelah kontak dengan unggas, serta menggunakan masker dan pelindung mata di peternakan. Warga juga diminta segera melaporkan jika menemukan burung liar mati atau ternak yang sakit.

Lembaga seperti CDC dan WHO terus memantau perubahan genetik virus secara real time dan siap menyesuaikan strategi jika terjadi pergeseran signifikan.

Para ahli menekankan bahwa flu burung berbeda dengan COVID-19, yang sejak awal mampu menular luas antarmanusia. Saat ini, kunci pengendalian flu burung adalah kewaspadaan berkelanjutan mulai dari biosekuriti di peternakan hingga kerja sama pengawasan global. Meski virus bisa berevolusi, sains dan sistem pemantauan masih selangkah lebih maju untuk saat ini.