Kemenkes Siapkan Laporan Berkala Kasus Keracunan MBG seperti Covid-19

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan akan menyusun laporan berkala terkait keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis), dengan mekanisme yang mirip pelaporan kasus saat pandemi Covid-19.
"Mungkin nanti kita akan berkoordinasi dengan Badan Komunikasi Pemerintah, kalau perlu misalnya ada update harian atau mingguan atau bulanan yang seperti dulu kita lakukan pada saat Covid, itu kita bisa lakukan," ujar Budi, dikutip Antara, Kamis (2/10/2025).
Data keracunan MBG nantinya akan dikonsolidasikan antara Kementerian Kesehatan dan Badan Gizi Nasional (BGN).
Menteri Budi menekankan, angka keracunan akan tercatat harian dan mingguan.
"Bahwa dari sisi angka-angka, yang terjadi, keracunan yang terjadi, kita sudah sepakat menggunakan sistem yang ada sekarang yang sudah dibangun laporannya dari level puskesmas ke atas," jelasnya.
3 sertifikasi wajib bagi SPPG
Untuk mencegah insiden serupa, pemerintah menetapkan tiga sertifikasi wajib bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni:
- Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS)
- Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP)
- Sertifikasi halal
Selain sertifikasi, pengawasan diperkuat melalui BGN secara internal, serta oleh Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara eksternal.
Kementerian Pendidikan, melalui Unit Kesehatan Sekolah (UKS), juga dilibatkan untuk mengawasi penerima manfaat program MBG di tingkat sekolah.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), sebanyak 6.457 orang terdampak keracunan menu MBG per 30 September 2025.
Dikutip , Rabu (1/10/2025), BGN membagi 6.457 korban keracunan MBG itu ke dalam tiga wilayah, yakni Wilayah I yang mencakup Pulau Sumatera, Wilayah II di Pulau Jawa, dan Wilayah III mencakup wilayah Indonesia timur.
Dari 6.457 korban keracunan MBG, paling banyak terjadi di Wilayah II atau Pulau Jawa, yakni sebanyak 4.147 orang.
Dadan mengakui banyak satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur dalam program MBG belum memiliki sanitasi air yang baik.
"Dari kejadian di berbagai tempat, tampak juga bahwa belum semua air di SPPG memiliki sanitasi yang baik. Sehingga memang kemudian Pak Presiden memerintahkan agar di seluruh SPPG dibutuhkan alat sterilisasi," ujar Kepala BGN Dadan Hindayana.
Penyebab keracunan MBG
Dari 70 kasus yang tercatat, penyebab utama ditemukan berupa kontaminasi bakteri pada berbagai jenis makanan dan minuman MBG:
- E. Coli pada air, nasi, tahu, dan ayam
- Staphylococcus Aureus pada tempe dan bakso
- Salmonella pada ayam, telur, dan sayur
- Bacillus Cereus pada menu mie
- Coliform, PB, Klebsiella, Proteus dari air terkontaminasi
Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menyatakan pihaknya bertanggung jawab penuh dan akan melakukan pembenahan agar kejadian serupa tidak terulang lagi ke depannya.
Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan dan kualitas program makan bergizi gratis, serta menurunkan risiko keracunan MBG di masa mendatang.