Lebih dari 9.500 Penerbangan di Timur Tengah Batal, Rekor Terburuk Setelah Pandemi Covid-19
Ribuan pesawat gagal terbang dan mendarat di sejumlah bandara di Timur Tengah, setelah Iran melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026).
Dilansir dari The Guardian, Selasa (3/3/2026), bandara-bandara di Timur Tengah, termasuk Bandara Internasional Dubai (DXB), dikabarkan tutup selama tiga hari berturut-turut.
Kondisi ini menunjukkan rekor gangguan penerbangan terparah sejak pandemi Covid-19 pada 2019 silam.
Berdasarkan platform pelacakan penerbangan Flightradar24, lebih dari 9.500 penerbangan di tujuh bandara telah dibatalkan sejak 28 Februari 2026 hingga 1 Maret 2026.
Tujuh bandara Timur Tengah yang dimaksud adalah Bandara Internasional Dubai, Bandara Internasional Hamad, Bandara Internasional Zayed, Bandara Internasional Sharjah, Bandara Internasional Kuwait, Bandara Internasional Bahrain, dan Bandara Internasional Al Maktoum.
Wilayah udara di atas Iran, Irak, Kuwait, Israel, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga terpantau hampir kosong hingga Senin (2/3/2026), berdasarkan data Flightradar24.
Sejumlah maskapai pun mengumumkan pembatalan penerbangan sejak 28 Februari 2026 hingga 2 Maret 2026, di antaranya Etihad Airways, Emirates, flydubai, dan Qatar Airways.
Maskapai penerbangan Emirates dan Etihad kemudian melanjutkan penerbangan terbatas pada Senin (2/3/2026) malam.
"Emirates akan mulai mengoperasikan sejumlah penerbangan terbatas mulai malam tanggal 2 Maret. Kami memprioritaskan pelanggan dengan pemesanan lebih awal, dan mereka yang telah dipesan ulang untuk melakukan perjalanan dengan penerbangan terbatas ini akan dihubungi langsung oleh Emirates," demikian keterangan Emirates via media sosial resmi di X @EmiratesSupport.
Dampak rute penerbangan lain
Tidak hanya lalu lintas udara di kawasan Timur Tengah, rute penerbangan ke negara-negara lainnya pun turut terdampak.
Maskapai penerbangan Virgin Atlantic mengatakan bahwa mereka menghindari wilayah udara Irak sehingga memengaruhi waktu penerbangan ke Asia.
Bandara internasional Dubai.
Maskapai ini telah membatalkan penerbangan ke Dubai dari London hingga Rabu (4/3/2026), tetapi mungkin akan melanjutkan keberangkatan dari Riyadh pada hari ini, Selasa (3/3/2026).
Beberapa penerbangan ke Siprus juga terpengaruh karena maskapai penerbangan easyJet membatalkan rute pulang-pergi antara Paphos dan Larnaca, serta Inggris pada Senin (2/3/2026) dan Selasa (3/3/2026).
Begitu pula dengan maskapai penerbangan British Airways yang membatalkan rute Larnaca pada Senin (2/3/2026).
Sejumlah penumpang bahkan dilaporkan terlantar dari Bali hingga Frankfurt. Air India membatalkan penerbangan pada Minggu (1/3/2026) keberangkatan Delhi, Mumbai, dan Amritsar menuju kota-kota besar di Eropa dan Amerika Utara.
Awak pesawat dan pilot kini tersebar di seluruh dunia, sehingga mempersulit proses dimulainya kembali penerbangan ketika wilayah udara Timur Tengah dibuka kembali.
Kepala eksekutif perusahaan perantara jet pribadi Vimana Private, Ameerh Naran, mengatakan bahwa hanya ada satu negara yang bisa dijadikan jalan keluar bagi penumpang pesawat di Timur Tengah.
“Arab Saudi adalah satu-satunya pilihan nyata bagi orang-orang yang ingin keluar dari wilayah ini saat ini,” kata Ameerh kepada Semafor via Guardian.
Ia menyebutkan biaya jet pribadi dari Riyadh ke Eropa mencapai 350.000 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 5,9 miliar.
Arab Saudi dan maskapai penerbangannya disebut telah terbiasa dengan gangguan perjalanan selama beberapa tahun terakhir.
Namun, kondisi penutupan wilayah udara yang terlampau lama, melebihi 24 jam, sekaligus penutupan operasional bandara, belum pernah terjadi sebelumnya.
Saham maskapai penerbangan menurun
Pembatalan ribuan penerbangan pada akhirnya berdampak pada kondisi saham banyak maskapai penerbangan, sekaligus perusahaan perjalanan lainnya.
Perusahaan wisata terbesar di Eropa, Tui, melaporkan kondisi sahamnya yang turun sebanyak sembilan persen.
Tui mengatakan bakal menghubungi semua pelanggan yang akan melakukan perjalanan ke Timur Tengah, sambil tetap mengatur kepulangan penumpang dari Dubai dan Qatar.
Sementara itu, saham pemilik British Airways International Airlines Group (IAG) turun lima persen.
British Airways telah mengabarkan penumpang yang akan terbang dari London ke Teluk, Israel, atau Yordania hingga 15 Maret dapat menunda perjalanan tanpa biaya tambahan.
Perusahaan hotel Accor dan perusahaan kapal pesiar Carnival juga mengalami penurunan tajam. Saham maskapai penerbangan AS turun saat Wall Street dibuka, dengan United Airlines turun sebanyak tiga persen.
Berdasarkan perusahaan analisis Cirium, sebanyak 25.000 penumpang diperkirakan telah terbang dengan 74 penerbangan Inggris ke Timur Tengah pada Senin (2/3/2026).
Beberapa penerbangan ke Bahrain, Arab Saudi, dan Yordania juga telah dibatalkan, tetapi penerbangan ke Mesir sejauh ini tidak terpengaruh.
Saham maskapai penerbangan termasuk Lufthansa, Air France-KLM, Qantas, dan Singapore Airlines juga turun antara lima hingga sembilan persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang