Hacker China Ditangkap, Diduga Curi Rahasia Vaksin Covid-19
Seorang hacker asal China, Xu Zewei, ditangkap karena diduga terlibat dalam aksi pencurian data penting terkait vaksin Covid-19, dari salah satu institusi Amerika Serikat (AS).
Penangkapan Xu ini dilakukan tepat ketika dirinya baru saja mendarat di Bandara Malpensa, Milan, Italia, pada awal Juli lalu.
Menurut laporan media Italia, Ansa, pria berusia 33 tahun itu ditangkap oleh polisi Italia setelah menerima surat perintah internasional dari pemerintah AS.
Xu diduga terlibat sebagai bagian dari kelompok peretas bernama Silk Typhoon atau Hafnium.
Dalam sebuah laporan, Biro Investigasi Federal (FBI) menyebut bahwa kelompok ini dikenal sebagai tim peretas yang diduga disponsori oleh pemerintah China. Mereka disebut menjadi "dalang" dari serangkaian aktivitas penyerangan komputer dan jaringan di AS.
Salah satu serangan yang dilakukan oleh kelompok Silk Typhoon, termasuk Xu, yaitu mencuri data-data penting terkait vaksin Covid-19 di Amerika Serikat.
Diduga mencuri data vaksin Covid-19 AS
Otoritas AS menduga, awalnya Xu dikerahkan oleh pemerintah China untuk memata-matai pengembangan vaksin Covid-19, yang diketahui berlokasi di Texas University.
Selain vaksin, pemerintah juga meyakini bahwa Xu turut terlibat dalam aksi serangan siber Silk Typhoon 2020 yang menyerang peneliti penyakit menular dan organisasi perawatan kesehatan AS.
Nah, semua aksi tersebut, menurut laporan media Italia, secara khusus diyakini memang sengaja dilakukan untuk mencuri data penting vaksin Covid-19 di AS.
Dalam sebuah pernyataan bersama (joint advisory), dijelaskan bahwa pemerintah telah lama mengamati serangan siber Silk Typhoon yang berupaya mengambil data kesehatan publik AS.
"Aktor-aktor ini telah diamati berupaya mengidentifikasi dan secara tidak sah memperoleh kekayaan intelektual (IP) dan data kesehatan publik yang berharga," jelas pernyataan tersebut, dikutip KompasTekno dari Bleeping Computer, Jumat (11/7/2025).
Adapun data-data kesehatan yang dicuri yaitu meliputi informasi penting soal vaksin, perawatan, dan pengujian dari jaringan dan personel yang berafiliasi dengan penelitian terkait Covid-19.
Pernah serang lembaga pemerintah AS dan Microsoft
Tidak hanya menyerang sektor kesehatan, kelompok peretas Silk Typhoon juga disebut pernah menyerang lembaga pemerintah AS.
Beberapa di antaranya yaitu Kantor Pengawasan Aset Asing (Office of Foreign Assets Control/OFAC) dan Komite Investasi Asing (Committee on Foreign Investment/CFIUS).
Pada bulan Maret lalu, Silk Typhoon bahkan dilaporkan mulai menargetkan serangan ke alat manajemen jarak jauh dan layanan cloud milik Microsoft.
Serangan tersebut diyakini menyasar rantai pasokan (supply chain attack) perusahaan, supaya bisa mendapatkan akses ke jaringan pelanggan yang memanfaatkan layanan yang telah disusupi.
Melansir laman The Register, sebelumnya di tahun 2020, Microsoft juga pernah mendapatkan serangan dari Silk Typhoon.
Saat itu, lewat sistem Microsoft Exchange, peretas diketahui mencuri berbagai dokumen sensitif berisi informasi kebijakan pemerintah AS, kontraktor pertahanan, dan masih banyak lagi.
Ditahan dan menanti ekstradisi ke AS
Saat ini, Xu dilaporkan sedang ditahan di penjara Busto Arsizio, Italia. Kabarnya, otoritas pemerintah AS berupaya mengekstradisi dia untuk diadili di sana.
Sidang untuk memutuskan apakah permintaan ekstradisi AS kepada Xu akan disetujui atau tidak, dijadwalkan berlangsung segera di Pengadilan Banding Milan.
Mengutip laporan Financial Times, sumber yang mengetahui masalah ini menjelaskan apabila ekstradisi AS disetujui, maka Xu akan menerima setidaknya sembilan dakwaan dari pemerintah AS.
Adapun dari sembilan dakwaan tersebut, beberapa yang disebutkan yaitu meliputi peretasan sistem komputer, wire fraud, hingga pencurian identitas yang diperberat (aggravated identity theft).