Pasca COVID-19, AI dan Platform Digital Didorong Lawan Disinformasi Medis

Rapid tes antigen dan swab PCR
Rapid tes antigen dan swab PCR

 Upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional tak lagi hanya berbicara soal rumah sakit, tenaga medis, atau ketersediaan obat. Di era pasca pandemi COVID-19, perang melawan misinformasi dan disinformasi kesehatan disebut jadi salah satu medan krusial yang harus diperhatikan, terutama melalui pemanfaatan teknologi digital.

Hal ini disampaikan pakar kesehatan dunia yang juga CEO World Health Summit, Carsten Schicker, di gelaran Munich Security Conference Jumat 13 Februari 2026. Ia menilai, tantangan terbesar banyak negara saat ini bukan sekadar kesiapan fasilitas kesehatan, melainkan pemulihan kepercayaan publik yang sempat terkikis selama pandemi.

“Kepercayaan adalah perekat setiap sistem kesehatan dan masyarakat. Kita kehilangan banyak kepercayaan selama pandemi COVID,” tegas Schicker dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu 14 Februari 2026.

Pakar Kesehatan, Carsten Schicker

Pakar Kesehatan, Carsten Schicker

Menurutnya, derasnya arus informasi di platform digital mempercepat penyebaran hoaks medis, teori konspirasi, hingga narasi anti-sains. Jika tidak ditangani serius, kondisi ini bisa melemahkan respons negara dalam menghadapi krisis kesehatan berikutnya.

Karena itu, pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), sistem verifikasi fakta digital, hingga penguatan moderasi konten di platform media sosial dinilai menjadi bagian penting dari strategi ketahanan kesehatan modern.

Schicker menekankan ada tiga prioritas utama yang harus segera diperkuat negara-negara, termasuk Indonesia.

Pertama, memerangi misinformasi dan disinformasi melalui kolaborasi pemerintah, platform digital, dan komunitas sains. Kedua, mengembalikan kepercayaan publik terhadap lembaga kesehatan dan otoritas ilmiah. Ketiga, membangun mekanisme respons cepat berbasis teknologi, termasuk sistem rantai pasok yang lebih tangguh.

Ia menilai, tanpa kepercayaan publik, secanggih apa pun infrastruktur kesehatan tidak akan berjalan efektif saat krisis.

Fenomena ini menjadi pelajaran penting dari pandemi COVID 19, di mana penolakan vaksin, ketidakpercayaan terhadap rumah sakit, hingga maraknya pengobatan palsu sempat menghambat penanganan wabah di berbagai negara.

Dalam konteks Indonesia, Schicker melihat langkah penguatan sistem kesehatan yang tengah berjalan sudah berada di jalur tepat. Namun, ia mengingatkan bahwa transformasi digital harus berjalan beriringan dengan edukasi publik.

Platform digital bukan hanya sumber masalah, tetapi juga bagian dari solusi. Teknologi dapat digunakan untuk menyebarkan informasi kesehatan yang akurat, mempercepat klarifikasi hoaks, serta membangun komunikasi krisis yang transparan dan real-time.

Ke depan, ia menilai ancaman pandemi baru maupun risiko biologis lain akan menuntut kesiapan yang jauh lebih kompleks, bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga ekosistem informasi digital.

Dengan kata lain, ketahanan kesehatan di era modern tak cukup dibangun dengan alat medis dan tenaga kesehatan. Ia juga harus diperkuat dengan teknologi data, kecerdasan buatan, serta ekosistem informasi yang kredibel agar kepercayaan publik tetap terjaga saat krisis datang.