Tradisi Ruwatan Saat Bulan Suro, Ini Daftar Orang yang Perlu Diruwat
Taman Mini Indonesia Indah (TMII) akan kembali menggelar Ruwatan Akbar pada Minggu (28/6/2026).
Acara ini menghadirkan rangkaian tradisi Jawa, mulai dari kirab budaya, pagelaran wayang kulit lakon Murwakala, hingga prosesi siraman dan pemotongan sebagai simbol penyucian diri.
Di tengah pelaksanaannya yang masih lestari hingga kini, tidak sedikit masyarakat yang bertanya-tanya mengenai makna dan asal-usul ruwatan dalam budaya Jawa.
Apa itu ruwatan?
Melansir dari , Kamis (11/6/2026), ruwatan merupakan salah satu ritual penyucian yang masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Jawa dan Bali.
Kata "ruwat" berasal dari bahasa Jawa, yakni luwar, yang berarti dilepaskan atau dibebaskan.
Karena itu, ruwatan dimaknai sebagai upacara untuk membebaskan seseorang dari berbagai hal yang dipercaya dapat membawa kesialan, malapetaka, atau gangguan dalam kehidupan.
Batara kala yang mengincar orang-orang tertentu
Tradisi ini telah dikenal sejak lama dan berakar pada kisah pewayangan Jawa yang berkaitan dengan tokoh Batara Kala.
Dalam cerita tersebut, Batara Kala digambarkan sebagai sosok yang mendapat izin untuk memangsa manusia yang tergolong wong sukerta, yaitu orang-orang yang dipercaya memiliki kerentanan terhadap kesialan.
Dari kepercayaan itulah kemudian berkembang tradisi ruwatan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan perlindungan bagi seseorang yang dianggap termasuk golongan sukerta.
Siapa saja yang dianggap perlu diruwat?
Melansir dari buku hasil alih bahasa dari naskah Ruwat Murwakala, yakni Ruwatan Murwakala Cirebon, Kamis (11/6/2026), terdapat sejumlah kategori orang yang dalam kepercayaan lama disebut sebagai wong sukerta atau mereka yang dianggap “perlu diruwat”.
Ilustrasi Ruwatan. TMII kembali menggelar Ruwatan Akbar 2026 di Bulan Suro, menghadirkan kirab budaya dan pagelaran wayang kulit Murwakala sebagai bagian dari pelestarian tradisi Jawa.
Salah satu kategorinya adalah mereka yang lahir pada waktu-waktu tertentu yang dianggap memiliki makna simbolik dalam perjalanan hidup. Di antaranya adalah:
- julung wangi (lahir saat matahari terbit)
- julung sungsang (lahir saat matahari tinggi)
- julung sarab (lahir saat matahari terbenam)
- julung pujut (lahir saat maghrib)
- marguna (lahir di perjalanan)
- prameya
Selain itu, terdapat kategori lain yang berkaitan dengan struktur keluarga, seperti:
- ontak anting (anak tunggal laki-laki)
- nunggak klapa (bersaudara banyak, laki-laki di tengah satu)
- gendana-gendini (dua bersaudara, laki-laki dan perempuan)
- uger-uger lawang (dua bersaudara, laki-laki semua)
- sendang kaapit pancuran (tiga bersaudara, perempuan berada di tengah)
- pancuran kaapit sendang (tiga bersaudara, laki-laki berada di tengah)
- sarimpi (empat bersaudara, perempuan semua)
- seramba (empat bersaudara, laki-laki semua)
- pandawa (ima bersaudara, laki-laki semua)
- pendawi (lima bersaudara, perempuan semua)
- pipilan (lima bersaudara, 1 laki-laki dan 4 perempuan)
Selain yang berkaitan dengan struktur keluarga, dalam tradisi ini juga terdapat kategori lain yang merujuk pada kondisi fisik seseorang yang dalam kepercayaan lama turut dimasukkan dalam kelompok wong sukerta atau mereka yang dianggap perlu diruwat.
- milas lewa (berkulit dua warna)
- berkulit albino
- butun (dada dan punggungnya bengkok)
- dengkek (dadanya bengkok mengembung ke depan)
- pudet (kerdil)
- puret (kecil)
- wujil (terlahir kecil dan pertumbuhannya tidak bisa besar)
- cebol (cebol wujil)
Sementara itu, dalam bagian lain naskah tersebut juga disebutkan adanya sejumlah tingkah laku sehari-hari yang dalam tradisi lama dipandang sebagai pantangan tertentu.
praktik ini tidak dimaknai sebagai kategori orang, melainkan sebagai bagian dari kepercayaan simbolik yang berkembang di masyarakat Jawa pada masa lalu. Berikut adalah sejumlah aktivitas tersebut:
- Orang makan sambil berjalan
- Orang makan sambil tiduran
- Orang yang menyanggah dagu pagi-pagi
- Orang habis makan belum cuci tangan memegang kain
- Orang yang memanggil orang tuanya dengan namanya saja
- Orang yang nyebut macan pada waktu malam
- Orang yang menyapu tidak selesai
- Orang yang tidak sabar membuat jamu
- Orang yang memotong kuku malam hari
- Orang yang memotong kuku dengan cara digigit
- Orang yang mempunyai pintu tidak pakai tutup kiyong (engsel)