Suku Bunga Naik Bisa Ngefek ke Penjualan Mobil, Gaikindo Harap Begini

Array,Suku Bunga Naik Bisa Ngefek ke Penjualan Mobil, Gaikindo Harap Begini

Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen. Keputusan ini bisa berdampak ke industri otomotif.

Kenaikan suku bunga acuan BI berpotensi mendorong kenaikan suku bunga kredit kendaraan bermotor, terutama kendaraan baru. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap supaya suku bunga tidak lantas naik ke kredit kendaraan bermotor.

"Memang naik menjadi 5,5 persen, mudah-mudahan suku bunga KKB (kredit kendaraan bermotor) tidak langsung naik juga," ujar Jongkie kepada detikOto, Rabu (10/6/2026).

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan, memang kenaikan tersebut tidak berdampak pada nasabah yang saat ini masih memiliki kontrak pembiayaan berjalan. Soalnya, suku bunga pada pembiayaan yang telah berjalan mengacu pada perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Namun, kenaikan BI Rate bisa memicu kenaikan suku bunga pembiayaan baru.

"Untuk nasabah yang sudah jalan bersama pembiayaan itu tidak akan ada perubahan naik turunnya suku bunga," kata Suwandi seperti dikutip CNBC Indonesia.

Menurutnya, kenaikan BI Rate berpotensi meningkatkan biaya dana (cost of fund) perusahaan pembiayaan. Sebab, sekitar 70 persen sumber pendanaan multifinance berasal dari pinjaman perbankan yang dapat menyesuaikan bunga seiring kenaikan suku bunga acuan.

Jika perbankan menaikkan bunga pinjaman kepada perusahaan pembiayaan, maka multifinance kemungkinan akan meneruskan penyesuaian tersebut kepada konsumen baru. Akibatnya, suku bunga pembiayaan yang ditawarkan kepada calon debitur berpotensi menjadi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

"Dampaknya bukan kepada pembiayaan yang sedang berjalan, tetapi kepada yang akan datang. Nanti akan dikaitkan dengan daya beli dan kemampuan bayar," ujarnya.

Tantangan industri otomotif tak cuma faktor bunga. Suwandi mengatakan, harga kendaraan bisa saja naik akibat pelemahan rupiah. Mobil dan motor yang masih bergantung pada komponen impor berpotensi mengalami penyesuaian harga jika rupiah terus melemah.

Meski begitu, berbagai merek otomotif di Indonesia saat ini masih menahan harga jual kendaraannya.

Pasar otomotif roda empat Indonesia mengalami kelesuan sepanjang bulan Mei 2026. Berdasarkan data terbaru, angka penjualan mobil domestik kompak mengalami penurunan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Data penjualan pabrik ke dealer (wholesales) pada Mei 2026 tercatat jeblok 14,3 persen secara month-on-month (mom) dengan total distribusi hanya 69.219 unit. Setali tiga uang, penjualan dealer ke konsumen (retail sales) juga terkoreksi minus 5,1 persen dari bulan lalu dengan capaian 71.890 unit.