BBCA Belum Berhenti Tersungkur, Pagi Ini Sempat Sentuh Rp4.850 Usai Ambles ke Level Terendah 5 Tahun
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi sorotan pasar setelah melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis melalui RTI pada Senin pagi, 8 Juni 2026, saham BBCA bahkan sempat menyentuh level Rp4.850 per saham sebelum bergerak di kisaran Rp5.075.
Kondisi tersebut semakin mempertegas tekanan yang tengah dialami salah satu emiten perbankan terbesar di Indonesia itu. Pasalnya, harga saham BBCA kini berada di area terendah dalam lima tahun terakhir setelah terus dibayangi aksi jual investor asing dan sentimen negatif dari kondisi makroekonomi domestik.
Hingga pukul 09.49 WIB, saham BBCA tercatat bergerak pada rentang Rp4.850 hingga Rp5.050. Sementara harga terakhir berada di level Rp5.075 per saham dengan volume perdagangan mencapai 278,1 juta saham dan nilai transaksi menembus Rp1,37 triliun.
BBCA Terus Melorot dalam Beberapa Pekan Terakhir
Jika melihat pergerakan dalam beberapa pekan terakhir, tekanan terhadap saham BBCA terlihat cukup signifikan. Pada perdagangan 20 Mei 2026, saham BBCA masih berada di level Rp5.975 per saham.
Namun setelah itu, harga saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut terus mengalami koreksi hingga akhirnya berada di kisaran Rp5.000-an.
Berikut pergerakan penutupan saham BBCA dalam beberapa perdagangan terakhir:
- 20 Mei 2026: Rp5.975
- 21 Mei 2026: Rp5.950
- 22 Mei 2026: Rp5.900
- 25 Mei 2026: Rp6.100
- 26 Mei 2026: Rp5.975
- 29 Mei 2026: Rp5.700
- 2 Juni 2026: Rp5.825
- 3 Juni 2026: Rp5.525
- 4 Juni 2026: Rp5.425
- 5 Juni 2026: Rp5.075
Penurunan yang terjadi dalam waktu relatif singkat tersebut membuat BBCA kehilangan sebagian besar penguatannya dalam beberapa tahun terakhir dan kembali ke area harga yang pernah tercatat sekitar lima tahun lalu.
Investor Asing Ramai-Ramai Melepas Saham
Derasnya aksi jual investor asing menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan saham BBCA sepanjang tahun ini.
Data menunjukkan nilai jual bersih atau net sell investor asing pada saham BBCA telah mencapai Rp31,34 triliun sepanjang 2026. Sementara pada saham BBRI, net sell asing tercatat sebesar Rp9,57 triliun.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga menunjukkan kepemilikan investor asing di BBCA hingga akhir Mei 2026 mengalami penurunan sebesar 10,07 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025.
Saat ini, investor asing menguasai sekitar 36,91 miliar lembar saham BBCA. Di sisi lain, kepemilikan asing di BBRI juga turun sekitar 6 persen menjadi 41,6 miliar lembar saham.
Fenomena keluarnya dana asing tersebut turut menekan kinerja saham-saham perbankan besar yang selama ini menjadi favorit investor global.
BI Rate dan Rupiah Jadi Sorotan
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai terdapat dua faktor utama yang membebani saham sektor perbankan, yakni kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurut dia, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 sempat memunculkan kekhawatiran terhadap prospek industri perbankan sehingga memicu aksi jual di pasar.
Meski demikian, Nafan menilai dampak kenaikan suku bunga tersebut cenderung bersifat sementara karena fundamental bank-bank besar masih cukup kuat.
Ia menilai empat bank besar nasional, termasuk BBCA dan BBRI, masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada empat bulan pertama tahun 2026.
Namun demikian, tekanan yang lebih dominan saat ini berasal dari pelemahan rupiah yang dinilai berpotensi mendorong arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia.