ChatGPT Kena Boikot, Pengguna Ramai-Ramai Pindah ke Claude
Persaingan di industri kecerdasan buatan (AI) kembali memanas. Aplikasi chatbot Claude milik perusahaan Anthropic berhasil menempati posisi pertama sebagai aplikasi yang paling banyak diunduh di Amerika Serikat.
Pencapaian ini sekaligus menyingkirkan ChatGPT dari posisi puncak yang selama ini mereka pegang sejak pertama kali diluncurkan.
Kenaikan popularitas Claude terjadi di tengah kontroversi yang melibatkan OpenAI. Pada 28 Februari, perusahaan tersebut mengumumkan kerja sama dengan Departemen Perang Amerika Serikat. Pengumuman ini memicu reaksi keras dari sebagian pengguna dan memunculkan gerakan boikot terhadap ChatGPT.
Gerakan yang dikenal sebagai QuitGPT awalnya hanya berupa keluhan kecil terkait donasi politik perusahaan teknologi. Namun, setelah kerja sama militer tersebut diumumkan, banyak pengguna mulai meninggalkan ChatGPT dan beralih ke alternatif lain, salah satunya Claude.
Sikap Etis Jadi Keunggulan Anthropic
Menariknya, lonjakan popularitas Claude tidak hanya dipicu oleh boikot terhadap pesaingnya. Sikap Anthropic yang menolak kerja sama militer justru meningkatkan kepercayaan publik terhadap perusahaan tersebut.
CEO Anthropic, Dario Amodei, diketahui menolak kontrak militer yang ditawarkan pemerintah. Ia menuntut adanya batasan tegas terkait penggunaan AI, khususnya agar teknologi tersebut tidak digunakan untuk senjata otonom atau pengawasan massal.
Pemerintahan Presiden Donald Trump kemudian melarang penggunaan teknologi Anthropic di lembaga pemerintah. Namun, keputusan tersebut justru memberikan efek sebaliknya bagi perusahaan.
Pangsa Pasar ChatGPT Terus Turun
Perubahan preferensi pengguna mulai terlihat dari data pangsa pasar aplikasi AI di perangkat mobile. Dalam satu tahun terakhir, dominasi ChatGPT mengalami penurunan cukup signifikan.
“Pangsa pasar mobile ChatGPT sudah turun dari 69,1 persen menjadi 45,3 persen dalam setahun terakhir, tetapi gerakan boikot mempercepat penurunan tersebut,” tulis laporan yang dikutip dari Gadget Review, Kamis, 5 Maret 2026.
Penyelenggara kampanye boikot mengklaim bahwa ratusan ribu pengguna telah menghentikan penggunaan ChatGPT. Mereka memperkirakan jumlah partisipan gerakan ini berkisar antara 200.000 hingga 700.000 orang, meskipun angka tersebut masih sulit diverifikasi secara independen.
Sementara itu, Claude mengalami lonjakan popularitas yang signifikan hingga berhasil menduduki posisi teratas dalam daftar unduhan aplikasi di Amerika Serikat. Diskusi mengenai perpindahan pengguna dari ChatGPT ke Claude juga ramai dibahas di berbagai forum internet dan media sosial.
Gerakan ini bahkan mendapat perhatian dari profesor pemasaran dari New York University, Scott Galloway. Ia kemudian memperluas kampanye tersebut melalui gerakan yang ia sebut Resist and Unsubscribe, yang menargetkan sejumlah platform teknologi besar.
Menanggapi kontroversi yang muncul, CEO OpenAI Sam Altman mencoba meredam kekhawatiran publik melalui media sosial. Ia menyatakan bahwa perusahaan tetap memiliki batasan tegas terhadap penggunaan AI untuk kepentingan militer.
Namun pernyataan tersebut segera dibantah oleh seorang pejabat pemerintah yang menyampaikan pandangan berbeda. Perbedaan pernyataan ini memperkuat kekhawatiran sebagian pengguna bahwa teknologi AI berpotensi digunakan untuk kepentingan militer atau pengawasan negara.
Gerakan boikot terhadap perusahaan teknologi seringkali tidak bertahan lama karena pengguna biasanya kembali menggunakan platform yang paling nyaman. Namun dalam kasus ini, dampaknya sudah mulai terlihat dari perubahan pangsa pasar dan posisi aplikasi di toko aplikasi.
Banyak pengamat menilai bahwa awal Maret akan menjadi momen penting untuk melihat apakah gerakan ini benar-benar bertahan atau hanya bersifat sementara.
Jika pengguna tetap bertahan menggunakan Claude, maka Anthropic berhasil membuktikan bahwa sikap perusahaan terhadap isu etika dapat menjadi keunggulan kompetitif yang kuat di industri teknologi. Namun jika pengguna kembali ke ChatGPT, maka peristiwa ini kemungkinan hanya menjadi episode singkat dalam persaingan ketat industri AI global.