Kejar Target Rp218 Triliun, OpenAI Bikin ChatGPT Jadi 'Mesin Uang'
Di tengah ledakan popularitas kecerdasan buatan, tantangan terbesar bukan lagi soal teknologi, melainkan uang. Pembuat ChatGPT, OpenAI, kini berpacu dengan waktu untuk mengubah inovasi AI menjadi mesin pendapatan raksasa. Pasalnya, biaya yang harus ditanggung perusahaan melonjak hingga puluhan miliar dolar.
Dua tahun lalu, CEO OpenAI, Sam Altman, pernah menyatakan bahwa ia tidak menyukai gagasan menampilkan iklan di dalam ChatGPT. Namun pekan ini, perusahaan resmi mulai menampilkan iklan di dalam ChatGPT.
Tahun lalu, OpenAI meraup pendapatan sekitar US$13 miliar atau setara Rp218,4 triliun (kurs Rp16.800). Namun dalam empat tahun ke depan, perusahaan diperkirakan akan menghabiskan sekitar US$100 miliar atau setara Rp1.680 triliun untuk membangun dan mengoperasikan infrastruktur komputasi AI.
Artinya, perusahaan harus bergerak cepat menutup selisih besar antara pemasukan dan pengeluaran. Bahkan, target yang dipasang tidak tanggung-tanggung, yaitu melipatgandakan pendapatan hingga tiga kali lipat tahun ini.
Sebagian besar pendapatan saat ini berasal dari langganan. Dari 800 juta pengguna ChatGPT, sekitar 6 persen membayar minimal US$20 per bulan atau setara Rp336.000 untuk mengakses fitur premium. Namun angka tersebut dinilai belum cukup untuk menopang ambisi ekspansi perusahaan.
Masuknya iklan ditujukan untuk memonetisasi pengguna versi gratis. Meski banyak veteran industri periklanan yakin chatbot AI bisa menghasilkan miliaran dolar per tahun, prosesnya tidak instan dan memerlukan eksperimen panjang.
“OpenAI sebenarnya belum benar-benar memiliki tim penjualan,” kata Mark Zagorski, CEO DoubleVerify, sebagaimana dikutip dari The New York Times, Jumat, 13 Februari 2026. “Mereka harus membangun infrastruktur itu sekaligus infrastruktur teknologi yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis iklan.”
Untuk memperkuat lini ini, perusahaan merekrut Fidji Simo, mantan CEO Instacart dan eksekutif lama Facebook, yang kini memimpin divisi aplikasi. Selain iklan, perusahaan juga ingin memperbesar porsi pendapatan dari segmen korporasi hingga 50 persen pada akhir tahun.
Saat ini, sekitar 40 persen pendapatan berasal dari produk bisnis seperti ChatGPT Enterprise dan Codex untuk pemrograman. “Ini adalah isu paling krusial di benak para investor teknologi saat ini,” kata Karl Keirstead dari UBS. “OpenAI tidak punya pilihan selain bergerak lebih agresif ke perangkat lunak enterprise.”
Namun, persaingan ketat. Google dan Microsoft sudah puluhan tahun bermain di pasar korporasi. Sementara start-up pesaing seperti Anthropic agresif mengembangkan alat coding berbasis AI.
Tak berhenti di sana, perusahaan juga mengeksplorasi model “bagi nilai”. CFO OpenAI, Sarah Friar, menyebut jika teknologi mereka membantu menemukan obat baru, sehingga perusahaan bisa mengambil bagian dari keuntungannya.
“Kami mungkin akan mengeksplorasi kemitraan di mana kami membayar biaya dan berbagi keuntungan,” kata Sam Altman dalam sebuah acara di Silicon Valley.
Pernyataan ini sempat memicu kekhawatiran di kalangan ilmuwan independen yang menggunakan produk Prism, alat AI untuk riset sains, karena takut hasil penelitian mereka akan dipotong. Perusahaan kemudian menegaskan bahwa pemotongan keuntungan hanya berlaku pada kemitraan dengan perusahaan farmasi besar.
Tekanan finansial ini bahkan memunculkan spekulasi IPO dalam waktu dekat. Namun secara internal, sebagian eksekutif menilai perusahaan belum siap melantai di bursa sebelum mampu menekan kerugian.