Apakah Boleh Makan Daging Ikan Sapu-sapu? Ini Penjelasan Chef

Apakah Boleh Makan Daging Ikan Sapu-sapu? Ini Penjelasan Chef

sapu ramai diperbincangkan setelah disebut-sebut berasal dari sungai di Jakarta dan diolah sebagai bahan baku siomay.

Perairan sungai kota yang identik dengan kontaminasi justru memicu rasa khawatir, apakah ikan sapu-sapu boleh dikonsumsi?

Indonesian Gastronomy Chef Ragil Imam Wibowo menjelaskan, ikan sapu-sapu boleh saja dikonsumsi, namun tidak sembarangan.

Selama ikan tersebut berasal dari ekosistem terkontrol dalam air mengalir, ikan sapu-sapu boleh saja dikonsumsi.

Sebaliknya, ikan sapu-sapu yang berasal dari aliran sungai kotor, sebaiknya tidak dikonsumsi, seperti saran koki kenamaan tersebut.

"Masalahnya adalah semua zat yang berbahaya itu pasti akan diserap, karena sifatnya menyerap semua zat-zat jelek di perairan di tempat dia hidup," kata Chef Ragil, seperti dikutip Senin (13/4/2026).

Dengan kata lain, ikan sapu-sapu secara alami bertugas menyerap racun di ekosistemnya sehingga ia tidak menyarankan mengonsumsi ikan sapu-sapu yang hidup di perairan kotor, termasuk yang berasal dari aliran sungai.

Meskipun ikan tersebut mengandung protein yang tinggi, lanjutnya, tetapi tidak menutup kemungkinan ikan sapu-sapu mengandung merkuri yang tinggi, dan justru membahayakan bagi tubuh.

"Kalau sudah di tempat yang kotor, saya sangat menyarankan untuk tidak dikonsumsi, karena merkurinya juga mengkhawatirkan," sambung dia.

Senada dengan Chef Ragil, Dosen Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Murwantoko, juga menyampaikan pandangan serupa.

Ikan sapu-sapu dapat dikonsumsi hanya jika hidup di lingkungan air bersih dan berkualitas baik.

"Ikan sapu-sapu yang dipelihara pada kondisi air yang baik, tidak masalah untuk dikonsumsi," kata Murwantoko, dikutip dari .

Bahaya makan ikan sapu-sapu dari sungai kotor

Murwantoko menegaskan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di perairan dengan kualitas buruk tidak layak dimakan.

Apakah Boleh Makan Daging Ikan Sapu-sapu? Ini Penjelasan Chef

Sejumlah warga mengumpulkan dan menumpuk daging ikan sapu-sapu yang telah dipisahkan dari kulitnya di atas rakit plastik di aliran Sungai Ciliwung, kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (22/1/2026).

Air dengan kandungan logam berat yang tinggi dapat menyebabkan akumulasi logam berat dalam daging ikan.

Jika logam berat tersebut masuk ke tubuh manusia, dampaknya dapat sangat berbahaya.


"Logam-logam berat yang terakumulasi di tubuh ikan dapat memengaruhi kerja enzim di tubuh manusia dan bersifat karsinogenik, sehingga dapat memicu kanker," jelas dia.

Jika berasal dari perairan yang tercemar, terutama oleh limbah industri atau rumah tangga, risiko kesehatan jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Selain menyoroti kebersihan habitat ikan sapu-sapu, Murwantoko juga menyoroti bahwa bagian tubuh ikan sapu-sapu yang dapat dimakan sangat sedikit.

Meskipun ikan sapu-sapu yang dipelihara atau ditangkap dari lingkungan bersih mungkin dapat menjadi sumber protein alternatif, kulit tebal dan kepala yang besar membuat ikan ini kurang ekonomis sebagai sumber makanan.

"Jarang digunakan karena buat kita kalau satu produk effort-nya terlalu banyak dan rasanya tidak terlalu istimewa, buat apa kita lakukan?," tutur Chef Ragil, senada dengan pendapat Murwantoko.

Chef Ragil menambahkan, ikan sapu-sapu termasuk salah satu ikan yang rumit diolah dan rasanya tidak begitu menonjol dibanding jenis ikan yang lain.

Sebagai gantinya, ia menyarankan untuk mengganti ikan sapu-sapu dengan ikan ekor kuning ataupun lele, yang mana dari segi harga relatif terjangkau, dan rasanya juga enak.

"Menurut saya (ikan sapu-sapu) sebaiknya tidak dikonsumsi secara normal, karena kalau dikonsumsi secara normal berarti harus ada tambaknya," pungkas dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang