Ikan Sapu-Sapu Tinggi Protein, Peneliti BRIN Ungkap Syarat Mengonsumsinya

BRIN, makanan, Ikan Sapu-Sapu, protein, Ikan Sapu-Sapu Tinggi Protein, Peneliti BRIN Ungkap Syarat Mengonsumsinya

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, ikan sapu-sapu sering kali dianggap sebagai hama penggangu atau sekadar ikan pembersih kaca akuarium yang tidak bernilai. 

Namun, sebuah fakta menarik baru-baru ini diungkapkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Melansir pemberitaan dari KompasTV, pada (14/5/26), menyebut ikan yang punya tampilan kulit keras ini ternyata menyimpan kandungan gizi yang sangat tinggi, bahkan bisa diolah menjadi makanan khas yang lezat, meski memiliki kandungan yang berbahaya.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, menjelaskan stigma ikan ini mengandung racun, namun menekankan adanya risiko akumulasi logam berat jika ikan diambil dari sungai tercemar seperti di Jakarta.

Ia menyampaikan pendapat itu dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk “Dibalik Ikan Sapu-Sapu: Gelombang Spesies Asing di Perairan Indonesia”, di Media Lounge Gedung B.J Habibie, Thamrin, Jakarta, Kamis (30/4/2026) lalu.

“Ikan sapu-sapu sebenarnya sumber protein. Di Brasil, ini jadi makanan khas yang enak. Namun, karena di kita mereka hidup di perairan tercemar, mereka menyerap logam berat melalui mekanisme protein metallothionein,” jelasnya, seperti dikutip dari laman BRIN, Kamis (14/5/26).

Menurut Triyanto, berdasarkan data kesehatan, seseorang akan terpapar dampak logam berat jika mengonsumsi delapan kilogram daging ikan sapu-sapu selama sepekan secara rutin.

“Data kesehatan menunjukkan, seseorang baru akan terpapar dampak logam berat jika mengonsumsi sekitar 8 kilogram daging ikan tersebut per minggu secara rutin selama bertahun-tahun tergantung kandungan logam berat yang sudah terakumulasi di ikan sapu-sapu,” bebernya.

Meski demikian, ia mendorong pemanfaatan ikan sapu-sapu lebih diarahkan pada sektor non-pangan untuk mengurangi populasi aman.

Menurut penjelasan peneliti BRIN, ikan sapu-sapu sebenarnya merupakan sumber protein hewani yang sangat baik untuk memenuhi kebutuhan gizi harian tubuh. 

Di beberapa daerah dan komunitas tertentu, daging ikan sapu-sapu bahkan sudah lazim diolah menjadi berbagai jenis penganan gurih seperti siomay, batagor, hingga bakso karena tekstur dagingnya yang padat dan rasanya yang gurih mirip ikan pada umumnya.

Namun, di balik potensinya yang menjanjikan sebagai alternatif pangan murah, pihak BRIN memberikan peringatan keras dan mengungkapkan sejumlah syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum kamu memutuskan untuk mengonsumsinya.

Syarat utama dan paling krusial yang ditekankan oleh peneliti BRIN terletak pada lokasi di mana ikan sapu-sapu tersebut hidup dan ditangkap. 

Sebagai ikan pemakan segala yang memiliki ketahanan tubuh luar biasa, ikan sapu-sapu mampu bertahan hidup di lingkungan perairan yang sangat kotor, termasuk sungai-sungai perkotaan yang sudah tercemar berat. 

Jika ikan sapu-sapu ditangkap dari habitat yang tercemar seperti itu, dagingnya dipastikan telah menyerap akumulasi logam berat berbahaya seperti merkuri, timbal, dan limbah domestik lainnya. 

Mengonsumsi ikan yang berasal dari perairan tercemar tentu bukan mendatangkan sehat, melainkan bisa memicu bahaya keracunan hingga risiko penyakit kronis jangka panjang.

Oleh karena itu, peneliti BRIN menegaskan bahwa ikan sapu-sapu baru aman dan layak untuk dikonsumsi apabila dipelihara atau ditangkap dari ekosistem perairan yang benar-benar bersih, jernih, dan bebas dari limbah industri maupun rumah tangga. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang