Jangan Nekat Makan Ikan Sapu-sapu! Ini Dampaknya Kata Dokter

Jangan Nekat Makan Ikan Sapu-sapu! Ini Dampaknya Kata Dokter

Seperti halnya jenis ikan lain, ikan sapu-sapu termasuk bahan makanan yang boleh dikonsumsi.

Namun, ikan ini relatif sulit diolah dan memiliki risiko kesehatan cukup besar bila tidak ditangani dengan tepat.

"Pertama, tentu berbahaya jika ikan itu tercemar dengan berbagai macam bakteri, kemudian juga kuman, dan juga biasanya logam berat yang ada pada ikan tersebut," kata pakar penyakit dalam Universitas Indonesia (UI), Profesor Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, seperti dikutip , Senin (13/4/2026). 

Bakteri dan kuman yang bisa jadi terkandung dalam ikan sapu-sapu, berasal dari lingkungan tempat ikan tersebut hidup.

Saat ikan sapu-sapu hidup di perairan sungai tercemar atau kotor, risiko bahaya kesehatan bisa mengintai, apalagi bila tidak diolah dan dikonsumsi dengan pemahaman yang benar.

"Dan terus terang saja, jadi masalah adalah apabila ikan tersebut dikonsumsi secara mentah, proses pemasakan pun kadang-kadang pada suatu keadaan belum tentu bisa menghasilkan racun yang ada pada ikan tersebut," jelas Ari.

Sering kali masyarakat menganggap bahwa proses memasak dapat menghilangkan seluruh risiko kesehatan.

Padahal, dalam kasus konsumsi ikan sapu-sapu yang mengandung logam berat, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

"Di satu sisi kadar logam berat pun juga tidak bisa hilang dengan proses pemasakan," ujar dokter tersebut.

Dampak konsumsi ikan sapu-sapu

Seseorang yang terkena dampak mengonsumsi ikan sapu-sapu bisa mengalami dua fase jangka pendek dan jangka panjang.

Jangka pendek mengonsumsi ikan sapu-sapu bisa dirasakan langsung oleh tubuh dengan gejala muntah-muntah usai mengonsumsi ikan tersebut.

Lebih mengkhawatirkan lagi bila korban mengalami efek jangka panjang yang sering kali tidak disadari masyarakat.

"Dalam jangka panjang, tentu bisa menyebabkan kerusakan ginjal maupun liver pada pasien tersebut," kata Ari.

Cara pilih ikan sapu-sapu yang aman dikonsumsi

Lebih lanjut, Ari menyarankan masyarakat untuk lebih bijak memilih ikan sapu-sapu, terutama mengetahui asal-usul ikan yang akan dikonsumsi.

Hindari memilih ikan sapu-sapu dari perairan tercemar yang berisiko menyerap paparan logam sehingga memicu dampak jangka panjang pada orang yang mengonsumsinya.


Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memang bukanlah ikan beracun secara biologis.

Namun, lingkungan tempat hidup ikan ini, menjadikannya berisiko tinggi untuk dikonsumsi.

sapu secara biologis bisa dikonsumsi jika berasal dari hasil budidaya yang terkontrol, bukan di sungai atau waduk yang tercemar," kata Hasudungan.

Bila pun ikan sapu-sapu berasal dari budidaya, ikan tetap harus diuji laboratorium untuk memastikan tidak mengandung logam berat dan mikrobiologi.

Namun, perlu diketahui bahwa selain risiko penyakit cukup tinggi, ikan sapu-sapu juga termasuk bahan makanan yang memiliki sangat sedikit daging untuk dimakan.

Meskipun ikan sapu-sapu bisa menjadi sumber protein alternatif, kulit tebal dan kepala yang besar membuat ikan ini kurang ekonomis sebagai sumber makanan.

"Jarang digunakan karena buat kita kalau satu produk effort-nya terlalu banyak dan rasanya tidak terlalu istimewa, buat apa kita lakukan?," tutur Indonesian Gastronomy Chef Ragil Imam Wibowo, seperti dikutip .

Chef Ragil menambahkan, ikan sapu-sapu termasuk salah satu ikan yang rumit diolah dan rasanya tidak begitu menonjol dibanding jenis ikan yang lain.

Sebagai gantinya, ia menyarankan untuk mengganti ikan sapu-sapu dengan ikan ekor kuning ataupun lele, yang mana dari segi harga relatif terjangkau, dan rasanya juga enak.

"Menurut saya (ikan sapu-sapu) sebaiknya tidak dikonsumsi secara normal, karena kalau dikonsumsi secara normal berarti harus ada tambaknya," pungkas dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang