Pakar UGM Soroti Ikan Sapu-sapu Jadi Pangan, Dinilai Cerminkan Parameter Ekonomi Masyarakat
Kepala Laboratorium Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM, Muhammad Prima Putra, menilai fenomena ikan sapu-sapu yang diolah menjadi bahan pangan mencerminkan kondisi ekonomi.
Pasalnya, sebagian masyarakat berupaya menekan biaya bahan baku supaya murah demi meningkatkan keuntungan.
Hal tersebut disampaikan Prima merujuk pada hasil penelusuran yang menunjukkan ikan sapu-sapu ditangkap dari Sungai Ciliwung, kemudian dipilah, diperdagangkan, dan diolah menjadi bahan pangan, salah satunya siomay.
Ia mengatakan, ikan sapu-sapu sebenarnya merupakan ikan invasif yang tidak secara khusus dibudidayakan.
"Dikarenakan bentuk ikan yang menurut sebagian besar masyarakat tidak memenuhi estetika,” ujar Prima kepada Kompas.com, Sabtu (24/1/2026).
Bahaya Mengonsumsi Ikan Sapu-sapu
Prima menjelaskan, ikan sapu-sapu pada dasarnya bukan termasuk beracun sehingga aman untuk dikonsumsi.
Namun, risiko justru muncul dari perilaku hidup dan habitat ikan tersebut.
Ikan sapu-sapu dikenal menyedot nutrisi atau makanan dari lingkungan sekitarnya sehingga berpotensi mengakumulasi logam berat maupun bakteri patogen pada dagingnya, terutama jika hidup di perairan yang tercemar.
Ia menegaskan, ikan sapu-sapu yang ditangkap dari perairan dengan cemaran logam berat tidak layak dikonsumsi.
Logam berat bersifat sulit terurai dan tidak dapat dihilangkan secara optimal melalui proses pengolahan.
Konsumsi makanan yang terkontaminasi logam berat secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat berdampak serius bagi kesehatan.
"Terkait potensi bahaya logam berat yang terkandung dalam daging ikan sapu-sapu jika ditangkap dari lingkungan dengan cemaran logam berat, konsumsi dalam jangka panjang akan mengakibatkan gangguan fungsi hati dan ginjal, serta ada kemungkinan gangguan saraf," jelas Prima.
"Terkait potensi bahaya bakteri patogen apabila diolah dengan kurang baik adalah keracunan makanan seperti mual, muntah, pusing, diare," tambahnya.
Daging Sapu-sapu Tidak Terlalu Berbeda dengan Ikan Lain
Prima menjelaskan, daging ikan sapu-sapu memang tidak jauh berbeda dengan ikan lain.
Namun, potensi bahayanya jauh lebih banyak dibandingkan ikan-ikan budidaya pada umumnya.
“Sehingga dalam kondisi normal (tidak darurat), konsumsi ikan sapu-sapu tidak disarankan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, produk olahan berbahan dasar ikan sapu-sapu sulit dikenali secara kasat mata.
Karena itu, edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya menangkap dan mengolah ikan sapu-sapu dari perairan tercemar perlu dilakukan secara berkelanjutan.
"Namun, potensi bahayanya jauh lebih banyak dibandingkan ikan-ikan budidaya pada umumnya. Sehingga dalam kondisi normal (tidak darurat), konsumsi ikan sapu-sapu tidak disarankan," pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang