4 Cara Bedakan Siomay Ikan Sapu-sapu dan Tenggiri Menurut Chef
Selama ini, siomay dikenal sebagai makanan berbahan dasar ikan tenggiri, tapi belakangan muncul isu peredaran siomay dari ikan sapu-sapu yang memicu kekhawatiran di kalangan konsumen.
Menurut Executive Chef Fraser Residence Menteng Jakarta, Haryadi Rondonuwu, ikan sapu-sapu tergolong tidak aman dikonsumsi karena hidup di perairan kotor dan berpotensi terpapar limbah serta zat berbahaya.
"Kalau dari sisi kesehatan kan kurang bagus karena dia hidupnya di air kotor, sama kayak kerang hijau yang kebanyakan makan limbah," jelas Chef Haryadi.
Demi menghindari potensi bahaya mengonsumsi siomay ikan sapu-sapu, kamu bisa menyimak cara membedakan siomay tenggiri dan ikan sapu-sapu berikut ini.
Cara bedakan siomay tenggiri dan ikan sapu-sapu dari koki
1. Lihat warna siomay
Siomay berbahan ikan sapu-sapu umumnya berwarna lebih gelap atau kusam dibandingkan siomay dari tenggiri.
"Kalau pakai tenggiri harusnya lebih clean (bersih)," kata Chef Haryadi ketika dihubungi Kompas.com pada Rabu (22/4/2026).
2. Cium aroma siomay
Simak cara membedakan siomay dari ikan tenggiri dengan siomay dari ikan sapu-sapu menurut chef.
Cara paling mudah membedakan siomay ikan sapu-sapu dan tenggiri ialah melalui aromanya.
"Aromanya udah pasti beda. Ada ciri khas (bau) tersendiri walaupun sudah matang. Baunya lebih tajam," ungkap Chef Haryadi.
Sebaliknya, siomay tenggiri umumnya tidak beraroma menyengat, apalagi bila ikan sudah dibersihkan sempurna tanpa menyisakan amis.
3. Kenali rasa siomay
Siomay semestinya bertekstur kenyal dan lembut saat dikonsumsi. Kamu patut curiga bila tekstur makanan ini terasa keras atau aneh.
Bisa jadi, bahan baku siomay bukan dari ikan segar atau bahkan berasal dari ikan sapu-sapu yang dikhawatirkan membawa bahaya.
4. Jangan tergiur harga murah
Simak cara membedakan siomay dari ikan tenggiri dengan siomay dari ikan sapu-sapu menurut chef.
Terakhir, Chef Haryadi mengingatkan untuk tidak tergiur harga siomay murah demi menjaga kualitas makanan yang dikonsumsi.
"Harga bagus, kualitas juga pasti bagus. Harga Rp 50.000, ya di atas Rp 20.000 atau Rp 20.000 ya mungkin masih masuk akal," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang