Mengapa Ikan Sapu-sapu Dinilai Invasif dan Perlu Dikendalikan? Ini Penjelasan Ahli
sapu dikenal luas oleh masyarakat sebagai ikan pembersih lumut di kolam maupun akuarium.
Namun, di balik perannya tersebut, ikan ini menyimpan persoalan serius ketika populasinya tidak terkendali di perairan alami seperti sungai dan danau.
Keberadaan ikan sapu-sapu kini menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam ikan lokal.
Salah satu yang tengah menjadi sorotan adalah masalah dominasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung yang menjadi sinyal peringatan serius atas krisis ekologis di sungai utama Jakarta.
Terkait hal tersebut, Muhammad Azharul Rijal, Ketua Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto memberikan penjelasan.
Ikan Sapu-sapu sebagai Ikan Invasif
Saat dihubungi Kompas.com pada Senin (19/1/2026), Rijal menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu termasuk dalam kategori ikan “alien” atau ikan invasif yang bukan berasal dari Indonesia.
Menurut Rijal, ikan sapu-sapu diketahui berasal dari kawasan Sungai Amazon Amerika Selatan dan termasuk kedalam famili Loricariidae.
Namun, hingga kini, belum diketahui secara pasti bagaimana ikan tersebut bisa masuk dan menyebar luas di perairan Indonesia.
Keberadaannya yang nyaris dapat hidup bersama dengan ikan akuarium dan kolam dari spesies apa saja berbanding terbalik dengan ketika ditempatkan di alam terbuka.
Keberadaan ikan sapu-sapu yang dikenal pula dengan nama suckermouth fish dan janitor fish ini justru menimbulkan sejumlah dampak ekologis yang perlu diwaspadai jika hidup di alam liar.
“Ikan sapu-sapu ini tidak memiliki predator alami di perairan kita, sehingga populasinya tidak akan terkontrol,” ujarnya.
Dampak Populasi Ikan Sapu-sapu yang Tak Terkendali
Rijal menjelaskan, bahwa ketiadaan predator alami membuat populasi ikan sapu-sapu berkembang sangat cepat.
Jumlah yang tinggi menyebabkan ikan ini merebut berbagai sumber daya, mulai dari ruang hidup, pakan, hingga sumber daya biotik dan abiotik lainnya.
“Populasi yang tinggi bisa menjadi ancaman bagi ikan lain, termasuk ikan endemik yang kalah bersaing dengan ikan sapu-sapu. Jumlah yang banyak ini menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem,” kata Rijal.
Ia menambahkan, dalam jumlah sedikit ikan sapu-sapu sebenarnya masih bisa memberi manfaat bagi ekosistem karena bersifat omnivor. Namun, ketika populasinya berlebihan, justru berpotensi merusak tatanan perairan.
“Ikan sapu-sapu yang merupakan omnivora dalam jumlah yang sedikit mungkin bisa menjadi berguna bagi ekosistem. Namun jika jumlah nya banyak bisa mengganggu ekosistem. Sehingga memang populasinya harus dijaga” jelasnya.
Perbandingan Ikan Sapu-sapu dengan Ikan Introduksi Lain
Rijal menilai kondisi ikan sapu-sapu memiliki kemiripan dengan ikan nila jika dilepaskan di alam bebas.
Saat jumlah ikan nila meningkat pesat di perairan asli, populasi ikan endemik justru mengalami penurunan akibat persaingan sumber daya.
"Sama halnya dengan ikan nila yg skrg jumlah nya banyak pada perairan asli, sehingga jumlah ikan endemik perairan asli menjadi turun," jelasnya.
Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran spesies non-asli tanpa pengendalian yang baik dapat berdampak serius terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati perairan.
Populasi Ikan Sapu-sapu Sulit Dikendalikan
Secara biologi, ikan sapu-sapu merupakan ikan demersal yang hidup di dasar perairan.
Sifat ini yang kemudian membuatnya kerap dianggap sebagai ikan pembersih lumut dan kotoran, baik di kolam maupun akuarium.
“Jika jumlahnya terkontrol, ikan sapu-sapu sangat baik untuk mengurangi lumut dan kotoran,” kata Rijal.
Hal ini karena di kolam atau akuarium, jumlah ikan sapu-sapu masih bisa diatur. Hal ini berbeda jika kondisinya di alam terbuka.
“Akan menjadi masalah jika populasi nya tinggi. Pada kolam atau akuarium mungkin masih bisa kita kontrol jumlahnya. Akan tetapi jika pada sungai atau danau, siapa yang bisa mengontrol karena predatornya tidak ada,” jelasnya.
Pengendalian Populasi Perlu Cara yang Tepat
Terkait upaya pengurangan populasi ikan sapu-sapu, Rijal menekankan bahwa niat baik harus dibarengi dengan cara yang baik dan aman.
Seperti yang dilakukan kreator konten Arief Kamarudin yang viral berburu telur dan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung dengan tnagan kosong.
Menurut Rijal, lingkungan sungai menyimpan banyak risiko, seperti pecahan kaca atau benda tajam lain yang dapat melukai tubuh.
“Menangkap langsung dengan tangan juga berisiko. Alangkah lebih baik jika menggunakan seser dan alat pelindung diri yang memadai,” ujarnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa penggunaan alat tangkap secara berlebihan juga tidak direkomendasikan.
“Penggunaan alat tangkap yg berlebihan juga pasti akan mengganggu populasi ikan lain,” jelasnya.
Karena itu, pengendalian ikan sapu-sapu perlu dilakukan secara bijak agar tidak menimbulkan masalah baru bagi ekosistem perairan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang