Harga Pertamax Naik, Amankah Mobil Mesin Turbo Pakai Oktan Lebih Rendah?
Kenaikan harga bahan bakar membuat sebagian pemilik kendaraan mencari opsi yang lebih ekonomis saat mengisi BBM.
Namun, keputusan menurunkan spesifikasi bahan bakar dari rekomendasi pabrikan perlu dipertimbangkan dengan matang, terutama pada kendaraan bermesin turbo.
Menurut pakar otomotif dari Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady, mesin turbo memiliki karakter kerja yang berbeda dibandingkan mesin naturally aspirated, terutama terkait tekanan dan suhu di dalam ruang bakar.
“Mesin turbo bekerja dengan tekanan dan temperatur yang lebih tinggi, sehingga sangat rentan terhadap gejala knocking jika menggunakan bahan bakar dengan oktan yang tidak sesuai,” kata Jayan kepada Kompas.com, belum lama ini.
Ia menjelaskan, knocking atau detonasi dini merupakan kondisi ketika campuran udara dan bahan bakar terbakar sebelum waktu yang seharusnya.
Test drive Kia Seltos 1.5 Turbo
Pada mesin turbo, gejala tersebut lebih mudah terjadi karena udara yang masuk ke ruang bakar telah dikompresi terlebih dahulu sehingga tekanan di dalam silinder meningkat secara signifikan.
Menurut Jayan, masalahnya gejala knocking tidak selalu dapat dirasakan langsung oleh pengemudi.
Pada mobil modern, sistem elektronik mesin biasanya akan berupaya mengoreksi kondisi tersebut dengan memundurkan waktu pengapian agar mesin tetap bekerja dengan aman.
Jayan menegaskan, mengikuti rekomendasi bahan bakar dari pabrikan bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting dari perawatan mesin.
Sementara, Pemilik bengkel Iwan Motor Honda di Solo, Iwan, mengatakan mesin turbo memang memiliki kebutuhan bahan bakar yang berbeda dibandingkan mesin naturally aspirated atau tanpa turbo.
Ilustrasi BBM. (ABC/Nic MacBean). Kebijakan pemerintah yang resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax per Rabu (10/6/2026) langsung memicu keresahan mendalam bagi masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Menurut dia, mesin turbo bekerja dengan tekanan dan suhu yang lebih tinggi di ruang bakar, sehingga lebih rentan mengalami knocking atau ngelitik apabila menggunakan bahan bakar dengan angka oktan yang terlalu rendah.
“Mobil turbo biasanya butuh oktan lebih tinggi karena tekanan dan suhu di ruang bakar lebih besar, jadi lebih rentan ngelitik (knocking),” kata Iwan kepada Kompas.com.
Meski demikian, Iwan menegaskan tidak semua mobil turbo harus menggunakan BBM beroktan sangat tinggi seperti Pertamax Turbo dengan RON 98.
Pemilik kendaraan tetap harus mengacu pada rekomendasi pabrikan yang tercantum pada buku manual maupun tutup tangki bahan bakar.
“Banyak mobil turbo modern di Indonesia cukup menggunakan RON 92 atau Pertamax, umumnya untuk mobil non-Eropa,” ujarnya.
Namun, untuk beberapa kendaraan dengan spesifikasi mesin dan performa yang lebih tinggi, penggunaan BBM dengan angka oktan lebih besar memang dianjurkan.
“Beberapa mesin yang lebih bertenaga memang dianjurkan minimal RON 95 atau bahkan harus RON 98,” ucap Iwan.
Karena itu, ia mengingatkan pemilik kendaraan agar tidak hanya mempertimbangkan harga saat memilih bahan bakar.
Penggunaan BBM dengan angka oktan di bawah rekomendasi pabrikan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari penurunan performa, konsumsi bahan bakar yang lebih boros, hingga risiko kerusakan komponen mesin dalam jangka panjang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang