Banjir di Aceh Merendam 9 Kabupaten, 455 KK Terpaksa Mengungsi

mengungsi, Aceh, banjir, banjir di Aceh, BMKG, banjir di aceh, Banjir di Aceh Merendam 9 Kabupaten 455 KK Terpaksa Mengungsi, Banjir di Aceh Merendam 9 Kabupaten, 455 KK Terpaksa Mengungsi

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan bahwa sembilan kabupaten/kota di Aceh terendam banjir dan longsor sejak 18 hingga 26 November 2025. 

Dampak dari bencana ini menyebabkan 455 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.497 jiwa terpaksa mengungsi.

Dampak Banjir di Aceh

Menurut Plt Kepala Pelaksana BPBA, Fadmi Ridwan, sembilan kabupaten di Aceh mengalami banjir yang merendam total 14.235 KK atau 46.893 jiwa.

“Kondisi banjir di Aceh telah merendam sembilan kabupaten, berdampak pada 14.234 KK atau 46.893 jiwa dan 1.497 jiwa mengungsi,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBA, Fadmi Ridwan, di Banda Aceh, Rabu (25/11/2025) dikutip Antara.  

Penyebab utama dari bencana ini adalah hujan lebat yang berlangsung terus-menerus, ditambah angin kencang dan kondisi geologi yang labil. 

Kondisi tersebut menyebabkan banjir, tanah bergerak, dan longsor di berbagai wilayah.

Wilayah yang Terkena Dampak

Banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Bireuen yang terkena dampak di tujuh kecamatan, dengan air yang masih belum surut. 

Kota Lhokseumawe juga dilanda banjir dan longsor akibat hujan deras disertai angin kencang, yang menggenangi empat kecamatan.

Di Aceh Timur, banjir luapan dan longsor merendam 11 kecamatan. Selain itu, lima kecamatan di Kota Langsa juga terendam akibat air kiriman dari perkebunan kelapa sawit PTPN 1 Langsa. 

Banjir juga melanda Kabupaten Gayo Lues, yang menggenangi 11 kecamatan.

Di Kabupaten Aceh Singkil, intensitas hujan tinggi mengakibatkan Sungai Lae Cinedang meluap, menyebabkan banjir dengan ketinggian air 50-80 cm yang merendam 10 kecamatan. 

Sementara di Aceh Utara, banjir merendam 26 kecamatan dengan ketinggian air sekitar 30-50 cm. 

Kabupaten Aceh Selatan, meskipun terendam banjir, dilaporkan sudah mulai mengalami surut.

Fadmi Ridwan menyebutkan bahwa pemerintah daerah perlu mengaktifkan posko siaga darurat BPBD, mengkoordinasikan evakuasi masyarakat, dan memastikan distribusi logistik serta layanan kesehatan darurat.

Peringatan dari BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I SIM Banda Aceh mengimbau masyarakat Aceh untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi. 

“Waspadai potensi bencana  hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan lainnya akibat hujan intensitas sedang hingga lebat yang terus menerus dengan durasi lama,” kata Kepala BMKG, Nasrol Adil.

Ia menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini disebabkan oleh bibit siklon tropis 95B yang mulai terbentuk pada 21 November 2025 di wilayah Selat Malaka, sebelah timur Aceh. 

Nasrol juga memperingatkan masyarakat untuk segera mengungsi jika melihat tanda-tanda cuaca buruk, seperti awan hitam tebal dan hujan rintik-rintik, terutama di daerah pegunungan atau daerah aliran sungai.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang