Melahirkan di Atas Perahu Saat Banjir Aceh, Kisah Dramatis Bidan Selamatkan Ibu dan Bayi

Aceh, Melahirkan di Atas Perahu Saat Banjir Aceh, Kisah Dramatis Bidan Selamatkan Ibu dan Bayi

— Peristiwa dramatis dan mengharukan terjadi di tengah banjir bandang Aceh yang melanda wilayah pesisir Kabupaten Aceh Utara.

Di tengah gelap malam, hujan deras yang tak kunjung reda, serta genangan air setinggi dua meter yang menenggelamkan permukiman Desa Lueng Baro, Kecamatan Lapang, seorang ibu bernama Nurma (40) harus menghadapi detik-detik paling menegangkan dalam hidupnya: melahirkan di atas perahu.

Saat sebagian besar warga berjuang menyelamatkan diri dari terjangan banjir bandang di Aceh Utara, Nurma justru memasuki fase persalinan di tengah kondisi darurat.

Proses persalinan tersebut ditangani langsung oleh bidan desa, Sulaidah, yang akrab disapa Amoy, dengan segala keterbatasan peralatan medis.

Dua hari sebelum hari perkiraan lahir, Nurma telah mengabari Amoy mengenai tanda-tanda persalinan. Saat itu, kondisi banjir masih berupa genangan. Amoy pun bersiaga dengan menyiapkan peralatan medis seadanya dan meletakkannya di tempat yang lebih tinggi sebagai antisipasi.

Namun situasi berubah drastis pada Sabtu (28/11/2025).

Curah hujan ekstrem menyebabkan air banjir meninggi hingga setinggi dada orang dewasa. Warga Desa Lueng Baro berbondong-bondong mengungsi ke meunasah untuk menyelamatkan diri.

Di tengah kepanikan, seorang warga mendayung perahu menuju rumah Amoy untuk menjemputnya.

“Saya dijemput lagi sore hari naik perahu untuk proses persalinan. Saya sendiri sudah mengungsi ke meunasah,” ujar Amoy.

Dengan bermodalkan senter yang dipasang di kepala serta sejumlah peralatan medis yang berhasil diselamatkan, Amoy kembali ke rumahnya yang sudah terendam banjir untuk mengambil jarum suntik dan aboket, meski peralatan tersebut tidak lengkap.

Perahu yang membawa Amoy bersama keluarga Nurma dikayuh oleh seorang warga bernama Tasir.

Satu perahu lainnya mengawal dari belakang. Kondisi hujan lebat, arus deras, serta gelap malam membuat perjalanan di tengah banjir bandang Aceh Utara itu sangat berisiko.

Saat memeriksa kondisi Nurma di atas perahu, Amoy mendapati indikasi bayi terlilit tali pusar. Keluarga pun panik dan meminta agar persalinan dilakukan di RSU Cut Meutia Aceh Utara.

Namun, akses darat telah terputus akibat banjir, sehingga satu-satunya jalur hanyalah melalui perahu dengan rute yang lebih panjang menuju jalan raya.

Di tengah perjalanan, kondisi Nurma semakin kritis. Rasa sakit kian hebat dan bayi sudah sangat dekat untuk dilahirkan. Waktu pun tak lagi berpihak.

Amoy akhirnya mengambil keputusan besar dan penuh risiko: persalinan harus dilakukan di atas perahu.

“Saya lihat sudah bisa ini kita proses, saya proses lahirannya, memang terlilit tali pusar bayinya. Alhamdulillah, lahir dengan selamat dan diberi nama Iryana Putri,” kata Amoy.

Ia meminta agar perahu tidak berhenti bergerak demi menghindari arus deras.

“Saya bilang ke pengayuh perahu, jangan berhenti mengayuh. Saya proses terus, sekitar 30 menit selesai lahiran,” tambahnya.

Setelah persalinan berhasil dilakukan, perahu kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi pengungsian di Desa Lueng Baro.

Foto ibu dan bayi baru diambil setelah mereka tiba dengan selamat, karena prioritas utama selama perjalanan adalah keselamatan.

Amoy mengaku bersyukur ibu dan bayi dapat selamat, meski hingga kini kondisi di wilayah pesisir Kabupaten Aceh Utara masih sulit. Listrik dan sinyal telepon belum pulih, menyulitkan komunikasi dan koordinasi warga di tengah bencana.

“Saya bersyukur alhamdulillah bayi dan ibunya selamat,” pungkas Amoy.

Sementara itu, dampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh terus meluas. Hingga Sabtu (13/12/2025) pukul 19.00 WIB, Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh melaporkan jumlah korban jiwa terus bertambah.

“Laporan pemantauan data Penanggulangan Bencana Alam Hidrometeorologi di Posko Terpadu Pemerintah Aceh hingga Sabtu (13/12/2025) pukul 19.00 WIB, korban meninggal dunia mencapai 419 orang dan 32 orang dinyatakan hilang,” ujar Juru Bicara Posko, Murthalamuddin.

Ia menjelaskan, bencana hidrometeorologi yang dipicu curah hujan ekstrem tersebut berdampak pada 18 kabupaten/kota di Aceh, mencakup 225 kecamatan dan 3.678 gampong.

Hingga kini, tim gabungan masih melakukan evakuasi, distribusi bantuan, serta pencarian korban hilang.

Selain itu, jumlah warga terdampak tercatat mencapai 514.383 kepala keluarga (KK) atau 1.975.012 jiwa. Dari jumlah tersebut, 3.845 orang mengalami luka ringan dan 479 orang luka berat.

Jumlah pengungsi juga sangat besar, dengan 2.186 titik pengungsian yang menampung 130.968 KK atau sekitar 484.944 jiwa yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat banjir bandang Aceh.

Bencana tersebut turut merusak ratusan fasilitas umum, antara lain 258 unit perkantoran, 207 tempat ibadah, 305 sekolah, 206 rumah sakit dan puskesmas, serta 206 pondok pesantren.

Kerusakan infrastruktur dan sektor ekonomi juga sangat signifikan.

“Kemudian kerusakan jalan 461 titik dan jembatan 332 unit. Kerusakan rumah 164.906 unit, ternak 186.868 ekor, sawah 89.286 hektare, kebun 14.725 hektare, dan tambak 40.328 hektare,” kata Murthalamuddin.

Artikel ini telah tayang diSerambiNews.comdengan judul Update Korban Banjir Aceh: 419 Orang Meninggal, 32 Jiwa Masih Hilang

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang