Banjir Bandang Aceh Timur, Warga Bertahan Hidup dengan Makanan Hanyut hingga Masih Tidur di Tenda Terpal

Aceh Timur, Banjir Bandang Aceh Timur, Warga Bertahan Hidup dengan Makanan Hanyut hingga Masih Tidur di Tenda Terpal, Terjebak Banjir Saat Anak Sakit, Nekat Terobos Lumpur ke Aceh Utara, Ribuan Pengungsi Masih Tidur di Tenda Terpal, Pemkab Aceh Timur Akui Tenda Belum Turun, Kesaksian Prajurit TNI Selamatkan Warga, Kerugian Capai Rp 5,3 Triliun

— Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Aceh Timur, Aceh, menjadi mimpi buruk bagi Jahidin (37) dan keluarganya. Warga Dusun Rantau Panjang, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari itu harus berjuang bertahan hidup di tengah terjangan banjir setinggi delapan meter dengan kondisi serba terbatas.

Banjir bandang Aceh Timur yang terjadi pada Rabu (26/11/2025) dini hari merusak rumah Jahidin, seperti ratusan rumah warga lainnya di Desa Sijudo.

Bersama istrinya dan dua putri mereka yang berusia 2 tahun dan 6 tahun, Jahidin terjebak di perbukitan selama tiga hari tiga malam tanpa bekal makanan maupun logistik.

“Saat itu saya hanya berpikir bagaimana anak-anak dan istri saya harus tetap hidup. Saya melihat ada kerupuk-kerupuk hanyut bersamaan dengan banjir dan saya pungut untuk kasih ke anak saya, yang penting mereka tidak lapar,” ujar Jahidin sambil meneteskan air mata.

Ia mengaku terpaksa meminum air banjir demi bertahan hidup. Semua makanan yang hanyut dan masih bisa dimakan dipungutnya untuk diberikan kepada kedua anaknya.

“Saya dan orang tua lainnya di sini menahan diri untuk tidak makan, agar makanan yang hanyut itu bisa kita kasih ke anak-anak kita. Kalau ada lebih, nanti baru kita makan,” tuturnya.

Terjebak Banjir Saat Anak Sakit

Jahidin menjelaskan, saat banjir bandang Aceh Timur terjadi, ia dan kedua putrinya sedang sakit demam. Air mulai masuk ke rumah mereka sekitar pukul 04.00 WIB.

“Saya dibangunin oleh istri saya, pak-pak air sudah masuk ke dalam rumah. Lalu saya bangun dan melihat air sudah setinggi lutut,” katanya, mengenang kejadian itu dalam wawancara dengan wartawan Serambinews.com, Maulidi Alfata, Jumat (12/12/2025).

Menyadari kondisi semakin berbahaya, Jahidin dan istri langsung menggendong kedua putri mereka untuk menyelamatkan diri. Karena arus banjir semakin deras, ia terpaksa menggunakan sampan untuk keluar dari titik banjir bandang.

Evakuasi baru bisa dilakukan pada hari kelima, setelah aparat desa dari dusun sebelah berhasil menerobos ke Dusun Rantau Panjang dan mengevakuasi Jahidin sekeluarga.

Nekat Terobos Lumpur ke Aceh Utara

Aceh Timur, Banjir Bandang Aceh Timur, Warga Bertahan Hidup dengan Makanan Hanyut hingga Masih Tidur di Tenda Terpal, Terjebak Banjir Saat Anak Sakit, Nekat Terobos Lumpur ke Aceh Utara, Ribuan Pengungsi Masih Tidur di Tenda Terpal, Pemkab Aceh Timur Akui Tenda Belum Turun, Kesaksian Prajurit TNI Selamatkan Warga, Kerugian Capai Rp 5,3 Triliun

Salah satu ruas jalan Lokop, Kabupaten Aceh Timur, Minggu (7/12/2025)

Usai banjir surut pada hari keempat, Jahidin nekat menempuh perjalanan dari Desa Sijudo, Aceh Timur, menuju Lubok Pusaka, Aceh Utara, untuk mencari pertolongan. Ia menyeberangi sungai menggunakan sampan kecil, lalu berjalan kaki bersama istrinya sambil menggendong dua putri mereka.

Perjalanan itu harus ditempuh di tengah lumpur setinggi sekitar 60 sentimeter. Kaki salah satu anaknya bahkan sempat terluka akibat benda tajam di dalam lumpur.

“Kami berjalan dalam lumpur yang tebal sampai kaki anak saya luka. Saya gendong satu, istri saya gendong satu. Kami menyeberang ke desa yang berbatasan langsung dengan Aceh Utara untuk minta bantuan. Meski kami tahu Aceh Utara juga diterjang banjir, kami tetap usaha agar anak kami tidak lapar dan bisa sembuh,” tuturnya.

Upaya itu membuahkan hasil. Jahidin mendapatkan obat darurat di tenda kesehatan di Lubok Pusaka, yang kemudian membantu memulihkan kondisi anak-anaknya.

Ribuan Pengungsi Masih Tidur di Tenda Terpal

Sementara itu, kondisi pengungsi banjir di Kabupaten Aceh Timur hingga kini masih memprihatinkan. Banyak korban banjir masih tidur di tempat yang tidak layak, hanya beralaskan dan beratapkan terpal biru tanpa dinding.

Pantauan Serambi Indonesia pada Senin (14/12/2025) mencatat, sejak awal mengungsi hingga kini, terdapat 689 titik pengungsian yang masih menggunakan tenda terpal mandiri. Para pengungsi belum menerima tenda bantuan layak dari pemerintah.

Salah satu pengungsi di Dusun Rantau Panjang, Desa Sijudo, Mustafa Kamal, mengatakan warga sangat membutuhkan tenda pengungsian yang layak.

“Kami memohon kepada pemerintah agar sudi kiranya membantu kami berupa tenda tempat kami mengungsi. Tenda yang kami gunakan saat ini adalah tenda pribadi sederhana. Jika malam hari kami kedinginan, bila hujan dan angin kami juga basah karena tidak ada dinding,” ujar Mustafa.

Ia menambahkan, kondisi tersebut sangat tidak ideal bagi balita yang tinggal di dalam tenda. Selain kedinginan, mereka juga terpapar debu dari lumpur kering sisa banjir bandang.

“Untuk tidur pun kami risih karena tidak ada dinding, semua terlihat,” katanya.

Selain tenda, Mustafa menyebut kebutuhan mendesak lainnya adalah air bersih dan generator set (genset) untuk penerangan.

“Kami perlu tenda yang layak, terus genset dan air bersih. Tiga hal itu sangat membantu kami sehari-hari,” ujarnya.

Pemkab Aceh Timur Akui Tenda Belum Turun

Aceh Timur, Banjir Bandang Aceh Timur, Warga Bertahan Hidup dengan Makanan Hanyut hingga Masih Tidur di Tenda Terpal, Terjebak Banjir Saat Anak Sakit, Nekat Terobos Lumpur ke Aceh Utara, Ribuan Pengungsi Masih Tidur di Tenda Terpal, Pemkab Aceh Timur Akui Tenda Belum Turun, Kesaksian Prajurit TNI Selamatkan Warga, Kerugian Capai Rp 5,3 Triliun

ACEH 20251205? 163 Ribu Pengungsi, 39 Jiwa Meninggal Akibat Banjir Aceh Timur. Malaysia Tawarkan Bantuan Rp 2 Juta untuk Mahasiswa Indonesia Korban Banjir Aceh-Sumatera

Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky membenarkan bahwa hingga kini tenda darurat dari pemerintah pusat belum diterima. Ia mengaku telah berulang kali mengajukan permohonan bantuan tenda ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Tenda ini juga kita butuhkan. Dari Kementerian Kesehatan sudah pernah kita minta, dari BNPB juga. Permohonan sudah saya teken agar dibantu tenda darurat untuk pengungsi,” kata Al-Farlaky.

Namun hingga saat ini, tenda darurat tersebut belum diterima oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Timur maupun para pengungsi.

“Saya sudah sampaikan selalu dalam rapat, jangan sampai rakyat saya terus-menerus tidur dalam kedinginan dengan penampungan yang tidak layak,” ujarnya.

Kesaksian Prajurit TNI Selamatkan Warga

Kesaksian lain datang dari Rizal Fahlevi Panjaitan, anggota TNI dari Kodim Bireuen, yang terlibat langsung dalam penyelamatan warga Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur.

Fahlevi saat itu sedang pulang ke rumah istrinya yang merupakan bidan desa setempat. Ia mengungkapkan, air mulai naik sekitar pukul 04.00 WIB pada Rabu (26/11/2025).

“Air pertama naik sekitar pukul 04.00 WIB. Saat itu air sudah melewati bukit ini dan kami panik, langsung lari menyelamatkan diri. Tidak sempat pikir harta benda, hanya baju di badan yang kami bawa karena ketinggian air sangat ekstrem,” ujarnya, Senin (14/12/2025).

Melihat banyak warga terjebak, Fahlevi mengambil sampan dayung di depan rumahnya untuk mengevakuasi warga yang masih berada di dalam rumah.

“Saya selamatkan mereka menggunakan sampan dayung, berkeliling ke perumahan warga untuk menjemput masyarakat yang masih terjebak banjir,” katanya.

Berkat upaya tersebut, tidak ada korban jiwa akibat tenggelam di Desa Sahraja. Warga dievakuasi ke lokasi tertinggi di sekitar desa agar terhindar dari banjir bandang.

Kerugian Capai Rp 5,3 Triliun

Situasi darurat akibat banjir bandang di Kabupaten Aceh Timur kian memprihatinkan. Hingga Selasa (16/12/2025), kerugian materiil akibat bencana ini ditaksir mencapai Rp 5,3 triliun.

Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky menyebut dampak kerusakan sangat fatal, mencakup rumah warga, sekolah, hingga masjid yang roboh.

“Bahkan ada desa-desa yang kerusakannya mencapai 100 persen, bisa dikatakan hilang. Setelah kita perkirakan, kerugian mencapai Rp 5,3 triliun untuk saat ini,” ujarnya.

Data yang diterima Serambinews.com mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang Aceh Timur meningkat dari 52 menjadi 53 orang. Banjir merendam total 24 kecamatan dan 433 desa, dengan 73.531 kepala keluarga atau sekitar 265.723 jiwa terdampak.

Sebanyak 11.633 kepala keluarga atau 43.707 jiwa terpaksa mengungsi di 617 titik pengungsian, sementara 3.351 jiwa memilih bertahan di sekitar kediaman mereka.

Kerusakan hunian warga juga tercatat masif, dengan total 18.914 unit rumah terdampak, terdiri dari 7.147 rumah rusak berat, 4.654 rumah rusak sedang, dan 7.113 rumah rusak ringan.

Hingga kini, pemerintah daerah bersama tim gabungan terus mengintensifkan penyaluran bantuan logistik dan kebutuhan dasar di titik-titik pengungsian, serta berupaya menjangkau wilayah-wilayah yang masih terisolasi akibat lumpur tebal dan akses jalan yang terputus.

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Korban Banjir di Aceh Timur Tempati Terpal yang Tidak Layak, Tenda Bantuan Tak Kunjung Datang

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini