BPBD Aceh Barat: Seluruh Pengungsi Korban Banjir Sudah Kembali ke Rumah, 117 Jiwa Masih Terisolasi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat memastikan seluruh warga yang terdampak bencana banjir bandang dan banjir luapan di wilayah tersebut telah kembali ke rumah masing-masing dan tidak lagi berada di lokasi pengungsian.
“Alhamdulillah, seluruh pengungsi korban bencana alam banjir saat ini sudah berada di rumah,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, di Aceh Barat, Senin.
Menurut Teuku Ronal, total masyarakat yang terdampak bencana banjir bandang di Aceh Barat mencapai 39.890 jiwa atau 13.826 kepala keluarga (KK). Ribuan warga tersebut tersebar di sepuluh kecamatan yang terdampak cukup luas.
Banjir merendam salah satu desa di Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh Barat
Di Kecamatan Johan Pahlawan tercatat sebanyak 5.753 jiwa atau 1.971 KK terdampak. Sementara di Kecamatan Kaway XVI terdapat 6.871 jiwa atau 2.542 KK, dan Kecamatan Meureubo sebanyak 3.989 jiwa atau 1.386 KK.
Selanjutnya, Kecamatan Pante Ceureumen tercatat 6.886 jiwa atau 2.121 KK terdampak, Kecamatan Sungai Mas sebanyak 862 jiwa atau 500 KK, serta Kecamatan Woyla dengan 6.402 jiwa atau 2.256 KK.
Adapun di Kecamatan Woyla Timur terdapat 1.367 jiwa atau 458 KK terdampak, Kecamatan Woyla Barat sebanyak 4.486 jiwa atau 1.511 KK, Kecamatan Arongan Lambalek 3.219 jiwa atau 1.056 KK, dan Kecamatan Panton Reue sebanyak 55 jiwa atau 25 KK.
Selain memastikan warga kembali ke rumah, pemerintah daerah juga telah menyalurkan berbagai bantuan masa panik kepada para korban banjir. Bantuan tersebut meliputi beras, telur, minyak goreng, mi instan, serta kebutuhan pokok lainnya.
Meski demikian, BPBD Aceh Barat mencatat masih terdapat 117 jiwa atau 37 KK yang saat ini berada dalam kondisi terisolasi. Mereka tersebar di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat.
Teuku Ronal menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat terus berupaya melakukan perbaikan akses jalan menuju Desa Sikundo. Jalan sepanjang sekitar lima kilometer menuju kawasan terpencil tersebut rusak parah akibat tergerus aliran sungai saat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. (Sumber ANTARA)