Masjid Baitul Makmur Tetap Berdiri Usai Banjir Bandang Aceh Tamiang, 270 Rumah Warga Sekumur Lenyap

Aceh Tamiang, Aceh, Masjid Baitul Makmur Tetap Berdiri Usai Banjir Bandang Aceh Tamiang, 270 Rumah Warga Sekumur Lenyap, Masjid Jadi Ikon Kampung yang Nyaris Hilang, Tim Offroad Tempuh 10 Jam Lewati Jalur Ekstrem, “Masjid Tidak Kemasukan Kayu”, Warga Bertahan di Tenda, Stok Pangan Terbatas, Lahan Pertanian Musnah, Warga Kehilangan Penghasilan, Jalur Banda Aceh–Medan Mulai Bisa Dilalui

Masjid Baitul Makmur di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, menjadi saksi bisu dahsyatnya banjir bandang Aceh Tamiang yang terjadi pada 26 November 2025.

Saat ratusan rumah warga hancur dan hanyut diterjang arus air setinggi lebih dari 10 meter disertai ribuan kayu balok, masjid tersebut justru tetap berdiri kokoh.

Bencana banjir bandang Kampung Sekumur itu melenyapkan sebagian besar permukiman warga di desa pedalaman yang kini terisolasi. Dari total 283 unit rumah warga, sebanyak 270 rumah rusak total dan lenyap, sementara hanya 13 rumah yang masih tersisa.

Sementara itu, Masjid Baitul Makmur tetap berdiri utuh di tengah hamparan kayu balok gelondongan dan cabang-cabang kayu yang diduga berasal dari aktivitas illegal logging di hulu sungai.

Kayu-kayu tersebut kini menumpuk di area seluas sekitar 2 hingga 3 hektare di daratan Kampung Sekumur.

Sebagian kayu balok bahkan masih mengelilingi Masjid Baitul Makmur serta bantaran Sungai Tamiang. Sejumlah kayu telah dipasangi police line oleh aparat Polres Aceh Tamiang untuk kepentingan penyelidikan.

Masjid Jadi Ikon Kampung yang Nyaris Hilang

Pascabanjir, Kampung Sekumur menjadi pusat perhatian karena hampir seluruh wilayah kampung itu nyaris hilang disapu banjir bandang Aceh Tamiang. Seluruh akses darat menuju kampung tersebut putus total akibat longsor, timbunan tanah, pohon tumbang, hingga robohnya tiang listrik.

Untuk menuju Kampung Sekumur, warga maupun relawan kini hanya bisa melalui jalur sungai menggunakan perahu motor. Padahal sebelumnya, perjalanan darat menuju pusat Kecamatan Sekerak dapat ditempuh sekitar 40 hingga 60 menit.

Masjid Baitul Makmur yang tetap berdiri di tengah kehancuran kini menjadi ikon Kampung Sekumur, sekaligus simbol keteguhan masyarakat setempat menghadapi bencana.

Tim Offroad Tempuh 10 Jam Lewati Jalur Ekstrem

Aceh Tamiang, Aceh, Masjid Baitul Makmur Tetap Berdiri Usai Banjir Bandang Aceh Tamiang, 270 Rumah Warga Sekumur Lenyap, Masjid Jadi Ikon Kampung yang Nyaris Hilang, Tim Offroad Tempuh 10 Jam Lewati Jalur Ekstrem, “Masjid Tidak Kemasukan Kayu”, Warga Bertahan di Tenda, Stok Pangan Terbatas, Lahan Pertanian Musnah, Warga Kehilangan Penghasilan, Jalur Banda Aceh–Medan Mulai Bisa Dilalui

Situasi pemukiman warga di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, Selasa (16/12/2025), usai dilanda banjir akhir November 2025 kemarin.

Komunitas pecinta mobil offroad dari Tim Xtrim Langsa menjadi rombongan pertama yang berhasil mencapai Kampung Sekumur melalui jalur darat pascabanjir. Mereka harus menempuh perjalanan ekstrem selama sekitar 10 jam dengan menerabas jalan longsor dan pohon tumbang.

Rute yang dilalui masuk melalui Kampung Bandung Jaya, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang. Rombongan tersebut terdiri atas tiga unit mobil jeep 4x4.

Wartawan Serambi Indonesia yang ikut dalam rombongan, tiba di Kampung Sekumur pada Minggu (21/12/2025) tengah malam. Ia menyaksikan langsung kondisi kampung yang kini didominasi bekas pondasi rumah warga.

Tim Xtrim Langsa yang terdiri atas Wahyu Lubis, Anto Bengkel, Murtala, dan kru lainnya datang membawa bantuan kemanusiaan berupa 500 bungkus nasi, beras, makanan ringan, susu anak dan dewasa, air mineral, air bersih isi ulang, serta terpal.

“Masjid Tidak Kemasukan Kayu”

Datok Kampung Sekumur, Sofian Iskandar, mengungkapkan bahwa seluruh rumah warga hancur dan hanyut saat banjir bandang menerjang. Namun, Masjid Baitul Makmur tetap selamat.

“Dengan kuasa dan kebesaran Allah SWT, semua rumah warga di sini hancur dan hanyut atau hilang, hanya tersisa 13 rumah, namun Masjid Baitul Makmur tetap berdiri kokoh,” kata Sofian kepada Serambinews.com.

Ia menambahkan, tidak satu pun kayu balok masuk ke dalam masjid saat banjir terjadi.

“Tidak ada satu pun kayu-kayu ini masuk ke dalam masjid, kayu itu semuanya berputar-putar dan berhenti di dinding tembok masjid saat air besar itu datang. Sedangkan di sekeliling masjid ini ada rumah, semua habis,” ujar Sofian.

Hampir empat pekan pascabanjir, masyarakat Kampung Sekumur telah dua kali kembali menggunakan Masjid Baitul Makmur untuk melaksanakan shalat Jumat, setelah sebelumnya masjid tersebut terendam lumpur.

Pembersihan dilakukan secara gotong royong oleh warga dengan bantuan relawan yang datang ke lokasi.

Warga Bertahan di Tenda, Stok Pangan Terbatas

Aceh Tamiang, Aceh, Masjid Baitul Makmur Tetap Berdiri Usai Banjir Bandang Aceh Tamiang, 270 Rumah Warga Sekumur Lenyap, Masjid Jadi Ikon Kampung yang Nyaris Hilang, Tim Offroad Tempuh 10 Jam Lewati Jalur Ekstrem, “Masjid Tidak Kemasukan Kayu”, Warga Bertahan di Tenda, Stok Pangan Terbatas, Lahan Pertanian Musnah, Warga Kehilangan Penghasilan, Jalur Banda Aceh–Medan Mulai Bisa Dilalui

Kondisi Kampung Sekumur Kecamatan Sekerak pascabanjir sumatera.

Dari 283 rumah warga, hanya 13 unit yang masih berdiri. Sebagian besar warga kini tinggal di tenda bantuan pemerintah dan relawan, sementara lainnya mendirikan gubuk darurat dari sisa kayu atau papan rumah yang hancur.

Untuk penerangan, warga memanfaatkan beberapa unit genset bantuan, termasuk untuk menyedot air. Sementara itu, akses komunikasi mengandalkan beberapa unit Starlink bantuan dari berbagai pihak.

Saat bencana terjadi, warga sempat bertahan selama beberapa hari tanpa akses keluar masuk kampung.

“Saat banjir itu, di sini ada satu bukit tinggi, kami semua warga di sini berkumpul di sana hingga beberapa hari lamanya baru bisa kembali ke kampung usai air surut,” tutur Sofian.

Ia mengatakan, bantuan pertama yang diterima warga hanyalah dua karung beras dari pemerintah.

“Pertama usai air surut, bantuan kami dapat ada dua karung beras dari pemerintah, itu lah yang kami andalkan untuk makan sama-sama di sini,” ujarnya.

Tidak ada korban jiwa langsung akibat banjir bandang tersebut. Namun, dua hari setelah banjir, seorang warga meninggal dunia karena sakit dan tidak dapat dirujuk ke rumah sakit akibat kondisi akses yang terputus.

Lahan Pertanian Musnah, Warga Kehilangan Penghasilan

Menurut Sofian, hampir seluruh lahan pertanian, kebun karet, dan kelapa sawit milik warga Kampung Sekumur ikut musnah diterjang banjir bandang Aceh Tamiang. Akibatnya, warga kini tidak memiliki sumber pendapatan sama sekali.

Masyarakat hanya bisa bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan makanan dari relawan, masyarakat, dan pemerintah. Namun, stok pangan yang tersedia diperkirakan hanya cukup untuk empat hari hingga sepekan ke depan.

Sofian berharap akses jalan darat ke Kampung Sekumur segera dibangun kembali. Selama ini, distribusi bantuan dilakukan melalui jalur sungai dari dermaga Sungai Tamiang di Kuala Simpang.

“Sekali antar barang antara satu ton hingga satu setengah ton ongkosnya Rp 1,5 juta,” kata Sofian.

Ia mengakui, warga kini tidak lagi memiliki dana untuk membayar biaya angkutan logistik tersebut.

“Sekarang kami tidak punya uang lagi. Semua masyarakat terpuruk karena tidak ada penghasilan,” ujarnya.

Sofian berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Pemerintah Aceh, hingga Pemerintah Pusat dapat segera membangun kembali rumah warga dan membantu memulihkan ekonomi masyarakat.

“Harapan kami Pemkab Aceh Tamiang, Pemerintah Aceh, dan Pemerintah Pusat bisa segera membangun lagi rumah masyarakat di sini dan juga sama-sama mencari solusi untuk membangun ekonomi masyarakat lagi,” pungkasnya.

Jalur Banda Aceh–Medan Mulai Bisa Dilalui

Sementara itu, Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh menyampaikan bahwa jalur utama Banda Aceh–Medan yang melintasi wilayah Aceh Tamiang mulai kembali dapat dilalui kendaraan pascabanjir bandang sejak 26 November 2025.

Meski demikian, arus lalu lintas di jalur nasional tersebut masih terpantau padat dan tersendat di sejumlah titik.

Informasi tersebut disampaikan Dishub Aceh melalui unggahan resmi pada Minggu (21/12/2025) terkait pembaruan kondisi lalu lintas pascabencana banjir di Aceh Tamiang.

“Arus lalu lintas terpantau padat dan masih tersendat karena ruas jalan arah jembatan Aceh Tamiang masih tertutup lumpur serta kondisi jalan yang berlubang,” tulis Dishub Aceh, dikutip Senin (22/12/2025).

Dishub Aceh mengimbau para pengguna jalan agar tetap berhati-hati saat melintas di wilayah terdampak banjir, mengutamakan keselamatan, serta memastikan kondisi fisik dan kendaraan dalam keadaan prima.

Masyarakat juga diminta terus memantau informasi terbaru seiring masih berlangsungnya proses pembersihan dan pemulihan pascabencana banjir bandang Aceh Tamiang, agar aktivitas dan arus transportasi di jalur Banda Aceh–Medan dapat kembali normal.

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Masjid Kampung Sekumur Aceh Tamiang Tetap Berdiri Kokoh, Dari Ratusan, Kini Terisa Hanya 13 Rumah

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini