Kisah Sertu Giman, Babinsa yang Bolak-balik Berenang Selamatkan Warga Aceh dari Banjir Sumatera

Sertu Giman Saputra, Aceh Tamiang, Kisah Sertu Giman, Babinsa yang Bolak-balik Berenang Selamatkan Warga Aceh dari Banjir Sumatera

Banjir besar yang melanda Kecamatan Karangbaru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh pada akhir November lalu meninggalkan kisah heroik seorang prajurit TNI.

Di tengah genangan air setinggi lebih dari 4 meter dan arus deras yang mengancam, Sertu Giman Saputra berulang kali berenang untuk menyelamatkan warga yang terjebak di rumah mereka.

Tanpa perahu dan peralatan evakuasi, Babinsa Koramil 02 Karangbaru, Kodim 0117 Aceh Tamiang itu mengevakuasi sedikitnya 20 warga, termasuk bayi dan balita.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (26/11/2025).

Tetangga menelepon minta tolong

Saat banjir mulai merendam permukiman, Sertu Giman baru saja pulang dari desa usai memenuhi undangan kepala desa.

Seiring malam tiba, air terus meninggi hingga dirinya pun tidak sempat mengamankan barang-barang di rumahnya sendiri.

“Paginya air makin naik. Saya naik ke atas dulu, selamatkan keluarga. Tapi ada tetangga menelepon minta tolong, katanya rumah-rumah di sekitar sudah banyak yang hanyut,” ujar Giman saat ditemui di Aceh Tamiang, seperti rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (19/12/2025).

Cerita evakuasi warga 

Sertu Giman Saputra, Aceh Tamiang, Kisah Sertu Giman, Babinsa yang Bolak-balik Berenang Selamatkan Warga Aceh dari Banjir Sumatera

BANJIR SUMATERA: Sertu Giman Saputra menunjukkan sisa-sisa banjir yang menerjang Kecamatan Karangbaru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh pada akhir November 2025.

Mendapat kabar tersebut, Giman segera bergerak.

Bersama istrinya, ia mendobrak dinding rumah warga yang terjebak menggunakan balok kayu.

Di lokasi pertama, terdapat 8 orang yang harus dievakuasi, termasuk bayi berusia dua bulan dan beberapa balita.

Seiring waktu, ketinggian air meningkat hingga sekitar 4,5 meter.

Arus banjir semakin kuat dan rumah-rumah di sekitar lokasi mulai hanyut satu per satu.

Berenang melewati tiang listrik dan kabel yang terendam

Tanpa perahu maupun peralatan evakuasi, Giman sempat kebingungan mencari cara untuk menolong warga lain yang masih bertahan di titik-titik berbahaya.

Situasi mulai berubah ketika seorang warga datang membawa ban dan pelampung.

Dengan peralatan seadanya itu, Giman nekat terjun ke air.

Ia berenang melewati tiang listrik serta kabel yang terendam, lalu bolak-balik mengangkut warga satu per satu ke tempat aman.

“Di satu titik ada enam orang terjebak di atas seng. Saya bolak-balik angkut mereka pakai ban. Setelah itu, ada delapan orang lagi di ujung sana, termasuk bayi umur satu bulan dan lansia,” katanya.

Evakuasi penyelamatan bayi

Sertu Giman Saputra, Aceh Tamiang, Kisah Sertu Giman, Babinsa yang Bolak-balik Berenang Selamatkan Warga Aceh dari Banjir Sumatera

SELAMATKAN BAYI: Sertu Giman Saputra bersama orangtua dan bayi yang diselamatkannya saat banjir menerjang Kecamatan Karangbaru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh pada akhir November 2025.

Untuk menyelamatkan bayi, Giman meminta warga mencarikan ember atau baskom agar lebih aman saat dibawa melintasi arus.

Saat proses evakuasi berlangsung, seng tempat warga berlindung sudah bergoyang dan nyaris hanyut terbawa derasnya air.

Giman mengungkapkan, arus banjir kala itu sangat kuat hingga perahu evakuasi pun tidak berani mendekat karena khawatir tersangkut seng dan puing rumah. Meski kelelahan dan hampir pingsan, ia tetap memaksakan diri melanjutkan penyelamatan.

“Saya cuma minta pertolongan sama Allah, minta dikasih kekuatan. Habis itu saya bangkit lagi, naik lagi, bolak-balik sampai semua bisa diselamatkan,” katanya lagi.

Aksi penyelamatan tidak berhenti di hari itu.

Keesokan harinya, Selasa (27/11/2025), Giman kembali turun ke lokasi banjir untuk mengevakuasi 4 warga lain yang tersangkut di pohon sawit setelah hanyut terbawa arus, termasuk seorang anggota TNI dan anaknya.

Dengan rakit ban sederhana, korban berhasil dibawa ke tempat aman.

Saat ditanya alasan tetap menolong warga lain meski rumah dan keluarganya sendiri terdampak banjir, Giman memberikan jawaban singkat.

“Saya tidak tega. Saya sebagai manusia punya hati nurani. Keluarga saya sudah di tempat yang lebih tinggi. Jadi saya nekat menolong mereka,” katanya.

Kini, meski rumahnya mengalami kerusakan cukup parah, Giman mengaku bersyukur karena seluruh warga yang ia evakuasi selamat dari maut.

“Perasaan saya senang sekali melihat mereka selamat. Walaupun rumah rusak parah, ya sudah, namanya bencana. Yang penting orang-orang selamat,” pungkasnya.

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini