Hari ke-20 Banjir Aceh Timur, Ribuan Pengungsi Masih Bertahan di Tenda Terpal, Krisis Air Bersih

Situasi darurat akibat bencana banjir bandang di Kabupaten Aceh Timur kian memprihatinkan. Hingga Selasa (16/12/2025), total kerugian materiil banjir Aceh Timur ditaksir mencapai Rp 5,3 triliun, dengan ribuan rumah, fasilitas umum, serta tempat ibadah mengalami kerusakan parah.
Selain kerugian ekonomi yang sangat besar, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir Aceh Timur terus bertambah. Data terbaru mencatat korban jiwa meningkat dari 52 menjadi 53 orang.
Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky mengatakan, dampak kerusakan banjir kali ini sangat fatal dan meluas hampir di seluruh wilayah kabupaten.
“Bahkan ada desa-desa yang kerusakannya mencapai 100 persen, bisa dikatakan hilang. Setelah kita perkirakan, kerugian sementara mencapai Rp 5,3 triliun,” ujar Al-Farlaky.
24 Kecamatan Terendam, Lebih dari 265.000 Jiwa Terdampak
Mengutip data yang diterima Serambinews.com, banjir Aceh Timur merendam total 24 kecamatan dan 433 desa. Sebanyak 73.531 kepala keluarga (KK) atau 265.723 jiwa terdampak langsung akibat bencana tersebut.
Dari jumlah itu, 11.633 KK atau sekitar 43.707 jiwa terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak atau terendam banjir. Para pengungsi tersebar di 617 titik lokasi pengungsian.
Sementara itu, 3.351 jiwa memilih bertahan di sekitar kediaman mereka meski berada dalam kondisi rawan.
Hampir 19.000 Rumah Rusak
Warga duduk didepan rumahnya yang roboh akibat banjir di Desa Peunaron, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, Senin (1/12/2025)
Bencana banjir bandang Aceh Timur juga menyebabkan kerusakan masif pada hunian warga. Total 18.914 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan dengan rincian:- 7.147 unit rumah rusak berat
- 4.654 unit rumah rusak sedang
- 7.113 unit rumah rusak ringan
Pemerintah daerah bersama tim gabungan hingga kini terus mengintensifkan penyaluran bantuan logistik, kebutuhan dasar, serta berupaya menembus wilayah terisolasi yang sulit dijangkau.
Hari ke-20 Banjir, Belum Ada Pejabat Pusat Datang
Memasuki hari ke-20 pascabencana banjir bandang Aceh Timur, Al-Farlaky mengungkapkan bahwa hingga kini belum ada pejabat tinggi pemerintah pusat yang datang langsung ke Aceh Timur untuk melihat kondisi lapangan.
Padahal, menurutnya, tingkat kerusakan di wilayah ini sama parahnya dengan daerah lain di Aceh.
“Empat desa hilang akibat banjir bandang, 52 orang meninggal dunia, dan terdapat 698 titik pengungsian. Namun hingga saat ini belum ada pejabat pusat yang datang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto memang telah tiga kali berkunjung ke Aceh, yakni ke Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, dan Kabupaten Bireuen, namun Aceh Timur belum tersentuh kunjungan pejabat tinggi negara.
“Perlu teman-teman ketahui, khusus Kabupaten Aceh Timur tidak ada seorang pejabat tinggi negara yang datang ke tempat kami,” katanya.
Al-Farlaky juga menyebutkan bahwa sebelumnya sempat ada jadwal kunjungan Ketua MPR RI, namun kemudian dibatalkan oleh pihak Ahmad Muzadi.
Akses Terisolasi Berhasil Ditembus Setelah 9 Jam
Meski menghadapi keterbatasan, pemerintah daerah terus bekerja maksimal. Al-Farlaky menyebutkan, tim gabungan akhirnya berhasil menembus seluruh wilayah terisolasi meski dengan perjuangan berat.
“Kemarin sore kami sudah bisa menembus seluruh kawasan terisolasi, meski harus melewati lumpur dengan waktu tempuh sekitar sembilan jam,” ujarnya.
Namun, ia mengakui keterbatasan alat berat menjadi kendala utama dalam membuka akses jalan.
“Kami berharap pusat dan provinsi bisa menambah alat berat, karena saat pengerahan sering turun hujan, lumpur semakin tebal, dan kayu-kayu menutup jalan sehingga sulit dibersihkan,” tuturnya.
Pengungsi Butuh Tenda Layak dan Tandon Air
Di sisi lain, kondisi kamp pengungsian banjir Aceh Timur juga memprihatinkan. Banyak warga masih berteduh di bawah terpal seadanya yang tidak layak.
“Tenda yang dibuat secara mandiri hanya dua lembar terpal, satu untuk alas dan satu untuk atap. Dinding dibiarkan terbuka karena tidak cukup terpal,” kata Al-Farlaky.
Ia mengungkapkan, bantuan nasional sejauh ini baru diterima tiga kali, yakni dua kali dari Kementerian Sosial dan satu kali dari BNPB.
“Kami sudah meminta tambahan tenda ke BNPB dan Kemensos, tapi hingga sekarang belum ada. Untuk penerangan juga masih terbatas, genset sangat minim dan di sini pun sulit mendapatkannya,” ujarnya.
Al-Farlaky menegaskan, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah tenda pengungsian yang layak dan tandon air bersih.
“Warga masih mandi menggunakan air bekas banjir. Untuk minum, air itu diendapkan selama tiga hari di drum agar bisa dikonsumsi,” tuturnya.
Selain tenda dan tandon air, kebutuhan mendesak lainnya meliputi kelambu, perlengkapan perempuan dan anak, serta pakaian dalam laki-laki dan perempuan.
Untuk sementara, pemerintah daerah mengupayakan penyediaan tenda ukuran 4x4 dan 4x6, sambil menunggu bantuan resmi dari BNPB dan Dinas Sosial.
“Kami terus berusaha semaksimal mungkin, termasuk menggandeng pihak swasta dan jejaring di luar daerah, demi membantu korban banjir Aceh Timur,” pungkas Al-Farlaky.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul dan SerambiNews.com dengan judul Tenda Pengungsian dan Air Bersih Kebutuhan Mendesak Pengungsi di Aceh Timur
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini