Kisah Warga Aceh Tenggara: Kebun Rusak Diterjang Banjir, Kini Mendulang Emas di Sungai

Warga Desa Bener Berpapah, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, kehilangan mata pencaharian dari kebun usai rusak diterjang banjir dan longsor akhir November 2025 lalu.
Namun demikian, kini mereka mendapat mata pencaharian pengganti untuk menyambung hidup dengan mendulang serpihan emas di tepian sungai.
Rukiah (45), salah satu warga mengatakan, hasil serpihan emas yang terkumpul dijual ke tauke yang datang ke desanya atau ke pasar pagi di Kutacane, ibu kota kabupaten.
"Sikit cuma. Kemarin itu satu gram satu mili (miligram). Ada duitnya Rp3,1 juta. Jual ke pajak (pasar) pagi," ucap Rukiah pada Selasa (2/2/2026), dikutip dari Antara.
Sudah Sebulan Mengumpulkan Emas
Rukiah mulai mengumpulkan serpihan emas di tepian sungai sejak satu bulan terakhir pasca bencana melanda. Sebelum itu, tidak ada kegiatan menambang emas di desanya.
"Habis banjir inilah kami mendulang emas di sini. Waktu itu enggak ada di sini. Setelah banjir ini, rumah pun habis, baru ada (emasnya). Kadang itu rezeki dikasih Tuhan, kan?" tandasnya.
Keberadaan serpihan emas di sungai pertama kali diketahui oleh adiknya. Kemudian, Rukiah dan keluarga mulai mengumpulkan emas yang juga diikuti warga lain.
Kumpulkan Emas Sejak Pagi hingga Petang
Rukiah mulai mengumpulkan serpihan emas sejak pukul 08.00 pagi dan berakhir hingga petang. Namun mereka biasa memiliki waktu istirahat dan shalat pada siang hari.
Sebelum emas dicuci di atas wadah, pasir terlebih dahulu diambil dari sungai dan disaring menggunakan alat yang dibuat sendiri.
"Habis diambil dari situ pasirnya, cuci di dulang. Baru nanti bersihkan, bawa pulang," katanya.
Sempat Dilarang Ambil Emas
Menurut Rukiah, kegiatan mendulang serpihan emas ini sempat dilarang oleh pihak keamanan karena dikhawatirkan merusak alam.
Namun, ia menyebut kegiatan yang dilakukan bersama warga lain di Desa Bener Berpapah itu tidak seperti yang dikhawatirkan.
"Ngapain rusak? Enggak kita bawa, kan. Tanahnya di sini semua, pasirnya. Enggak ada kita bawa, enggak ada apa pun. Kita pun usaha, cari makan untuk anak, untuk anak sekolah, semuanyalah dari sini," tuturnya.
Hasil Mengumpulkan Emas Dipakai untuk Menyambung Hidup
Rukiah menyampaikan, kegiatan mengumpulkan serpihan emas ini dilakukan karena mata pencahariannya di kebun kakao tidak lagi berbuah pasca bencana.
Untuk itu, hasil pengumpulan emas ini sudah cukup bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
"Membantu sekali. Bisa anak sekolah. Macam-macam, lah, dari sini. Dibayar air, lampu; untuk belanja sehari-hari," tukasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang