Daerah Terdampak Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar Ajukan Bantuan Mendesak: Alat Berat, Listrik, hingga Susu Balita

Daerah Terdampak Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar Ajukan Bantuan Mendesak: Alat Berat, Listrik, hingga Susu Balita

Sejumlah daerah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat masih menghadapi situasi darurat pascabanjir bandang dan longsor yang melanda akhir November 2025.

Meski sebagian bantuan mulai tersalurkan, namun banyak wilayah masih terisolasi, infrastruktur rusak, dan kebutuhan mendesak warga terdampak banjir Aceh–Sumatra belum terpenuhi.

Bencana banjir bandang dan longsor Sumatra ini menyebabkan puluhan ribu warga harus mengungsi, kehilangan rumah, kesulitan mendapatkan air bersih, listrik, BBM, gas elpiji, hingga kebutuhan dasar seperti susu bayi.

Berikut rangkuman lengkap permintaan bantuan dari berbagai daerah terdampak.

1. Kabupaten Bireuen, Aceh: Sekolah Butuh Alat Berat untuk Bersihkan Lumpur

Sekolah-sekolah di Kabupaten Bireuen, Aceh masih kesulitan membersihkan endapan lumpur tebal pascabanjir. Upaya gotong royong lintas sekolah telah dilakukan selama lima hari, namun dinilai tidak cukup tanpa dukungan alat berat.

Kacabdin Wilayah IV Bireuen, Abdul Hamid, mengatakan kebutuhan alat berat sangat mendesak.

“Kami benar-benar membutuhkan alat berat untuk membersihkan endapan lumpur di berbagai sekolah di Bireuen. Gotong royong siswa dan guru saja akan memakan waktu yang sangat lama,” ujarnya, Kamis (11/12/2025), dikutip dari Serambinews.com.

Pembersihan dilakukan di sejumlah sekolah, termasuk SMAN 1 Peusangan di Desa Blang Asan.

2. Aceh Utara: Warga 16 Malam Hidup Tanpa Listrik

Daerah Terdampak Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar Ajukan Bantuan Mendesak: Alat Berat, Listrik, hingga Susu Balita

Dampak banjir yang mengakibatkan Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh, hilang disapu banjir, Jumat (12/12/2025)

Warga Kecamatan Baktiya Barat dan Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, telah 16 malam berturut-turut hidup tanpa listrik sejak banjir besar terjadi pada 26 November 2025.

Tanpa listrik, warga terpaksa menggunakan lampu tradisional dan lilin pada malam hari, sementara siang hari mereka pergi ke Lhoksukon untuk mengisi daya ponsel.

Ridwan, warga Baktiya Barat pada Kamis (11/12/2025) mengatakan, "Malam hari kami pakai lampu tradisional dan lilin. Siangnya ke Lhoksukon untuk ngecas HP. Kami sudah melapor ke petugas, tapi belum hidup lampu."

Ismail, warga Langkahan, juga mengeluhkan kondisi serupa.

“Belum hidup lampu. Malah informasi dari PLN, kawasan kami diperkirakan baru normal 31 Desember 2025,” ujarnya.

3. Aceh Tamiang: 33 Desa Terisolasi, Warga Minta Bantuan Lewat Airdrop

Sebanyak 33 desa di Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, masih terisolasi total karena jalur transportasi terputus akibat banjir besar. Ribuan keluarga kini tidak bisa mengakses bantuan apa pun.

Anggota DPD RI Dapil Aceh, Sudirman Haji Uma, meminta BNPB segera mengirim airdrop bantuan logistik.

Menurut laporan yang diterimanya, lebih dari 43.000 warga berada dalam kondisi kritis tanpa makanan, air bersih, bantuan medis, listrik, internet, maupun PDAM. Logistik warga dilaporkan telah habis; bahkan sebagian pengungsi sudah tidak makan.

“Saya mendesak BNPB untuk segera melaksanakan airdrop guna menyelamatkan nyawa para pengungsi,” ujarnya, Rabu (10/12/2025).

Satu korban jiwa telah dikonfirmasi di Desa Bandar Kalipa.

4. Aceh Timur: Kamp Pengungsian Kekurangan Susu Balita dan Tenda

Daerah Terdampak Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar Ajukan Bantuan Mendesak: Alat Berat, Listrik, hingga Susu Balita

Salah satu rumah korban banjir di Desa Ulee Rubek Barat, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (3/12/ 2025).

Di Kabupaten Aceh Timur, kebutuhan mendesak terutama menyangkut susu balita, kebutuhan bayi, dan tenda pengungsian.

Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menyebut banyak balita tidak mendapatkan susu karena stok di pasar kosong.

“Saya sudah meminta bantuan susu ke pemerintah pusat... Bila ada kawan-kawan yang mau menyumbang susu bayi, silakan disalurkan agar bisa kami berikan ke kamp pengungsian,” ujarnya, Kamis (4/12/2025) kepada Serambinews.com.

Ia juga menegaskan kebutuhan tenda tambahan karena banyak warga kehilangan rumah.

“Banyak korban banjir yang kehilangan rumah kini masih berteduh di bawah tenda sederhana tanpa dinding yang memadai,” katanya.

5. Tapanuli Tengah, Sumatra Utara: Warga Kekurangan Air Bersih, Gas, dan Sembako

Di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), masyarakat masih kesulitan mendapatkan air bersih, gas elpiji, listrik, serta sembako pascabanjir bandang dan longsor.

Harga kebutuhan pokok di pasar-pasar Pandan dan Sibolga masih tinggi karena pasokan terbatas. Seorang pedagang kepada Tribun Medan mengatakan harga cabai sempat menembus Rp300.000 per kilogram pada hari pertama banjir.

“Hari keempat harganya turun jadi Rp180 ribu, lalu hari kelima Rp100 ribu, dan sekarang Rp65 ribu. Masih tinggi, tapi tidak seperti awal bencana,” ujarnya, Rabu (10/11/2025)..

6. Aceh: Truk Pengangkut Sembako Tertahan karena Kehabisan Solar

Daerah Terdampak Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar Ajukan Bantuan Mendesak: Alat Berat, Listrik, hingga Susu Balita

Perkebunan sawit di sepanjang Jalan Banda Aceh-Medan, kawasan Aceh Tamiang usai banjir bandang dan tanah longsor, Jumat (12/12/2025).

Kegiatan Gerakan Pangan Murah di Lampineung, Banda Aceh, terpaksa ditunda karena truk pengangkut sembako kehabisan BBM jenis solar di Aceh Barat.

Truk tersebut harus bermalam di SPBU menunggu pasokan BBM.

“Truk kami baru tadi pagi dapat Solar,” kata Salman, Analis Ketahanan Pangan Dinas Pangan Aceh, Kamis (11/12/2025), kepada Serambinews.com.

Akibatnya, masyarakat yang sudah mengantre sejak pagi hanya menerima kupon, sementara paket sembako baru diambil keesokan harinya.

7. Kabupaten Agam, Sumbar: Gas Elpiji Langka dan Air Bersih Terbatas

Warga Salareh Aia, Palembayan, Agam, Sumatra Barat, mengalami kelangkaan gas elpiji 3 kg sejak hari pertama pascabanjir. Harga di pasaran melonjak hingga Rp35.000 per tabung.

Nurhaida, salah satu warga, mengatakan ia terpaksa memasak menggunakan kayu bakar di dapur umum.

“Gas susah sekali dapatnya. Ya mau tak mau pakai tungku api, mengandalkan kayu bakar,” ujarnya, Rabu (10/12/2025), dilansir Tribun Padang.

Selain gas elpiji, warga juga kekurangan air bersih dan listrik. Hanya rumah di jalan utama yang sudah dialiri listrik, sementara warga di gang belum mendapat pasokan.

Bantuan Masih Sangat Dibutuhkan

Situasi pascabanjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menunjukkan bahwa pemulihan belum pulih secara optimal.

Sejumlah daerah masih terisolasi, logistik habis, dan akses dasar seperti listrik, BBM, air bersih, susu bayi, dan tenda pengungsian sangat terbatas.

Pemerintah pusat diminta mempercepat distribusi bantuan, mengerahkan alat berat, memastikan suplai energi, serta meningkatkan koordinasi lintas lembaga.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Daftar Permintaan Bantuan dari Daerah Korban Banjir Aceh-Sumatra: Alat Berat hingga Susu Bayi

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini