Sebut Banjir Aceh Sebagai Tsunami Kedua, Mualem Ungkap Fakta Mengejutkan Kondisi di Sana

Gubernur Aceh Muzakir Manaf menetapkan Aceh tanggap darurat bencana
Gubernur Aceh Muzakir Manaf menetapkan Aceh tanggap darurat bencana

 Banjir yang melanda Aceh pada 26 November lalu masih menyisakan duka. Bahkan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem menyebut musibah banjir yang terjadi kemarin seperti ’tsunami kedua’  bagi Aceh.

Pernyataan ini bukan tanpa sebab, Mualem menyebut bahwa dengan hujan yang melanda selaam 8 hari 8 malam di Aceh kemarin berdampak luar biasa bagi masyarakat di sana. Mereka bukan hanya kehilangan harta benda saja tetapi juga menelan korban jiwa.

”Yang pasti kita liat di lapangan bahwa dengan hujan lebih kurang 8 hari 8 malam jadi di situ kita liat dampak banjir yang luar biasa dan mengorbankan jiwa, harta benda dan juga infrastruktur dan sebagainya,” kata Mualem saat berbincang dengan Najwa Shihab dikutip dari tayangan YouTube, Selasa 9 Desember 2025.

Meski berbeda dengan tsunami yang terjadi 20 tahun lalu. Namun banjir kali ini bisa menyebabkan berbagai masalah yang serius pada masyarakat di sana.

”Karena kita liat satu kejadian yang paling aneh. Dulu masa tsunami sebentar paling-paling 20 menit habis. Ini nggak, waktu hujan waktu banjir itu mengeluarkan suatu keadaan yang airnya di situ hitam, gatal-gatal dan juga perih dan juga bau,” kata dia.

Tak hanya itu saja, Mualem juga memberikan gambaran lainnya terkait dampak serius yang terjadi akibat banjir di Aceh. Termasuk sejumlah binatang melata yang banyak juga mati akibat banjir ini.

”Tadi mayat-mayat yang kita liat ada yang terbuka baju, telanjang, ini ada sesuatu hal yang kita lihat itu aneh. Binatang melata seperti ular, biawak, banyak yang mati karena ular-ular besar mati juga biawak itu mati kita heran juga. Sebenarnya mereka kan alam mereka jadi tidak mungkin dia mati. Ikan-ikan juga begitu,” ujar dia.

Mualem juga menyebutkan bahwa setelah banjir melanda Aceh banyak mayat-mayat yang bergeletakan. Mayat-mayat tersebut sempat sulit dimakamkan karena tidak adanya lahan akibat banjir yang melanda.

”Selepas banjir atau tengah banjir orang dapat mayat-mayat tidak boleh dikuburkan. Hanya mayat-mayat itu diikat di pokok kayu atau jembatan karena tidak ada tempat untuk tanam. Sampai 2-3 hari baru dapat tanam pun kena liat bukit-bukit yang tinggi baru dapat tanam,” cerita dia.

Pimpinan nomor satu di Aceh itu juga menuturkan bahwa banjir dan longsor menghapus banyak rumah kayu tanpa menyisakan struktur apapun.

”Dulu masa tsunami semua rumah juga begitu, ini tidak. Ini rumah kayu hancur total tidak tau entah kemana ke laut yang jelas rumah kayu tidak ada sedikitpun yang tinggal. Semua dibawa arus dan bercampur dengan lumpur yang cukup tebal, sampai setengah pinggang. Itu keanehannya daripada kita bandingkan dari tsunami sama dengan banjir bandang dan tanah longsor pada saat ini,” jelas dia.