Listrik di Aceh Masih Belum Pulih Pasca Banjir dan Longsor, Dirut PLN Minta Maaf

Kondisi dari udara situasi bencana banjir di Aceh Tamiang, Aceh.
Kondisi dari udara situasi bencana banjir di Aceh Tamiang, Aceh.

 Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh belum lama ini menyisakan dampak yang signifikan, terutama bagi kebutuhan dasar masyarakat seperti kelistrikan. Listrik yang terputus di beberapa wilayah membuat aktivitas warga terganggu, mulai dari kegiatan rumah tangga hingga operasional bisnis lokal.

Di tengah upaya pemulihan, PLN akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi atas kondisi listrik yang belum sepenuhnya pulih di provinsi Aceh. Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Darmawan Prasodjo, mengungkapkan permintaan maafnya secara langsung dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Selasa, 8 Desember 2025.

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat Aceh,” ujar Darmawan secara daring.

[dok. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia bersama jajarannya, didampingi Kepala BPH Migas, Dirut Pertamina, dan Dirut PLN, dalam konferensi pers Penutupan Posko Nataru 2024-2025]

PLN sejatinya telah berupaya mengalirkan listrik dari Arun hingga Banda Aceh. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal karena sambungan transmisi masih mengalami kendala teknis, meskipun secara fisik infrastruktur telah pulih. Kondisi ini menyebabkan informasi sebelumnya terkait pemulihan listrik yang diklaim mencapai 93 persen menjadi tidak akurat.

“Dalam proses ini, kami memberikan informasi yang tidak akurat kepada Bapak Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia). Ternyata, dalam proses pengaliran listrik dari Arun ke Banda Aceh, kami menghadapi tantangan hambatan teknis,” tambah Darmawan.

Ia menjelaskan bahwa kenyataan di lapangan menunjukkan penyaluran listrik jauh lebih kompleks dan berat daripada perkiraan PLN. Dampaknya, beberapa wilayah di Aceh masih mengalami pemadaman bergilir karena kekurangan pasokan listrik sekitar 40 megawatt (MW).

Meski demikian, PLN tetap berkomitmen untuk memulihkan seluruh jaringan listrik, termasuk di daerah-daerah yang masih terisolasi seperti Bener Meriah, Aceh Tamiang, Gayo Lues, dan Takengon. 

Darmawan menegaskan bahwa pihaknya akan mengerahkan seluruh sumber daya agar sistem kelistrikan Aceh dapat pulih secepat mungkin. “Saya memahami betul kekecewaan dan kesulitan masyarakat. Tidak ada alasan apa pun yang bisa menghapus ketidaknyamanan ini. Sekali lagi saya mohon maaf,” ujar Darmawan.

Selain fokus pada pemulihan jaringan utama, PLN juga menekankan pentingnya koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan distribusi listrik berjalan lancar, terutama di wilayah yang terdampak parah. Hal ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan dan mengurangi ketidaknyamanan masyarakat.

Secara keseluruhan, meski proses pemulihan listrik Aceh masih menemui hambatan, komitmen PLN untuk menormalkan sistem kelistrikan tetap kuat. Upaya ini menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi pascabanjir dan tanah longsor yang melanda provinsi tersebut. (Ant)