Isi Candaan Pandji Pragiwaksono yang Dinilai Menghina Adat Toraja

Pandji Pragiwaksono
Pandji Pragiwaksono

 Komika sekaligus presenter, Pandji Pragiwaksono, tengah menjadi sorotan publik usai video stand up comedy-nya yang menyinggung adat Toraja beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, Pandji membawakan materi komedi yang menyinggung upacara adat Rambu Solo, tradisi pemakaman khas masyarakat Toraja, Sulawesi Selatan.

Materi yang dibawakannya dianggap tidak pantas dan menyinggung nilai budaya yang sakral. Dalam potongan video yang viral, Pandji menyebut bahwa banyak warga Toraja jatuh miskin karena memaksakan diri menggelar pesta kematian yang berbiaya besar. Scroll lebih lanjut yuk!

Ia juga menyinggung tradisi masyarakat setempat yang menjaga jenazah anggota keluarganya di rumah sebelum dimakamkan.

“Di Toraja, kalau ada keluarga yang meninggal makaminnya pakai pesta yang mahal banget. Bahkan banyak orang Toraja yang jatuh miskin habis bikin pesta untuk pemakaman keluarganya,” ujar Pandji Pragiwaksono, mengutip video di Instagram @lambe_turah, Senin 3 November 2025.

“Banyak yang nggak punya duit untuk makamin, akhirnya jenazahnya dibiarin aja gitu. Ini praktik umum. Jenazahnya ditaruh aja di ruang TV di ruang tamu gitu. Kalau untuk keluarganya sih biasa aja ya, tapi kalau ada yang bertamu kan bingung ya. Nonton apapun di TV berasa horor,” lanjut Pandji.

Candaan tersebut menuai gelombang kritik dari masyarakat Toraja, yang menilai Pandji tidak memahami makna mendalam di balik upacara adat tersebut. Banyak yang menilai bahwa Rambu Solo bukan sekadar pesta, melainkan ritual penghormatan terakhir kepada leluhur dan bentuk cinta kasih kepada keluarga yang telah wafat.

Makna Upacara Rambu Solo

Rambu Solo merupakan salah satu upacara adat terbesar dan paling penting bagi masyarakat Toraja, yang mencerminkan filosofi hidup dan kepercayaan mereka terhadap roh leluhur. 

Dalam tradisi ini, prosesi pemakaman tidak dilakukan secara terburu-buru, melainkan disiapkan dengan penuh kehormatan.

Selama masa persiapan, jenazah tidak dianggap meninggal, melainkan hanya “sakit” atau “tidur panjang”. Keluarga masih berinteraksi, berbicara, dan memperlakukan jenazah dengan penuh kasih. Hal ini menjadi simbol kedekatan spiritual dan penghormatan yang tinggi terhadap arwah keluarga.

Ritual Rambu Solo biasanya melibatkan upacara besar, tarian tradisional, penyembelihan hewan, dan pesta adat yang bisa berlangsung beberapa hari. 

Tradisi ini memang memerlukan biaya besar, namun bagi masyarakat Toraja, hal itu merupakan bentuk penghormatan yang harus dilakukan demi menjaga kehormatan keluarga dan leluhur.

Kini, banyak masyarakat dan tokoh adat menyerukan agar para publik figur lebih berhati-hati dalam menjadikan budaya daerah sebagai bahan candaan. Mereka menekankan pentingnya edukasi budaya dan sensitivitas terhadap nilai-nilai lokal, agar kekayaan adat Indonesia tetap dihormati dan tidak disalahpahami.