Pandji Pragiwaksono Jalani Sidang Adat dan Ritual di Toraja, Akhiri Polemik Materi Stand Up
Komika Pandji Pragiwaksono menjalankan ritual kematian Rambu Solo' sebagai sanksi adat karena ucapannya dalam show "Mesakne Bangsaku".
Alih-alih berujung konflik berkepanjangan, proses tersebut justru menjadi ruang dialog dan refleksi budaya.
Pandji menghadiri sidang adat di Kecamatan Sangalla’, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Selasa (10/2/2026).
Sidang digelar setelah materi komedinya pada 2017 kembali viral dan dinilai sebagian pihak kurang menghormati nilai budaya Toraja.
Sidang adat untuk penyelesaian polemik
Prosesi peradilan adat dipimpin hakim adat Toraja dan diikuti perwakilan dari berbagi wilayah.
Sesi diawali tanya jawab dan penyampaian keberatan atas materi komedi yang menjadi sorotan dan dipersoalkan.
Pandji menganggap proses ini menunjukkan dialog sebagai cara menyelesaikan polemik dalam budaya.
"Dengan tidak lagi mengganggu kenyamanan dan keharmonisan alam serta masyarakat Toraja, saya rasa itu yang penting," ungkap Pandji, dikutip dari Kompas TV, Rabu (11/2/2026).
"Ketika dilihat media, masyarakat juga jadi mengerti betapa indahnya Toraja, dan masyarakat Toraja juga mencontohkan betapa indahnya cara menyelesaikan masalah, dialog yang baik," sambungnya.
Jalani sanksi adat ritual Massaring
Setelah musyawarah, hakim adat menjatuhkan sanksi kepada Pandji.
Sanksi tersebut berupa kewajiban memotong seekor babi dan lima ekor ayam sebagai simbol pemulihan keseimbangan dan keharmonisan.
Tahap akhir sanksi ditutup melalui ritual massarring di Tongkonan Layuk Kaero, Rabu (11/2/2026).
Massarring merupakan ritual pembersihan dalam tradisi Toraja, yang menjadi simbol pemulihan harmoni antara individu dan komunitas adat.
Pandji mengaku belum pernah menjalani proses adat serupa sebelumnya.
"Sejujurnya belum pernah menjalani proses seperti ini. Tapi tanpa kejadian ini, mungkin saya tidak akan bertemu dengan para tetua, perwakilan 32 wilayah adat, dan para hakim adat. Buat saya itu sesuatu yang spesial," paparnya.
Saat menjalani tahapan tersebut, ia menegaskan tidak menemui kesulitan.
"Saya tidak menemukan kesulitan apa-apa. Semuanya dipermudah dan diperlancar. Buat saya prosesnya sangat menyenangkan dan nikmat," ungkap Pandji.
Kagum pada kesetiaan tradisi Toraja
Di balik polemik yang terjadi, Pandji justru menyoroti konsistensi masyarakat Toraja dalam menjaga adat istiadat.
"Menurut saya yang paling spesial dari Toraja adalah kesetiaan masyarakat Toraja. Setia dengan tradisinya, dengan ritualnya selama ribuan tahun," kata Pandji, dikutip dari , Rabu.
Ia menilai, di tengah arus modernisasi, kemampuan masyarakat Toraja mempertahankan nilai-nilai leluhur menjadi sesuatu yang mengagumkan.
"Di era modernisasi sering membuat kita lepas dari asal-usul. Tapi di sini saya melihat bagaimana sebuah kejadian di masa lalu melahirkan aturan dan ritual yang terus dijaga sampai sekarang. Itu sangat mengagumkan," bebernya.
Terkesan kuliner dan alam Toraja
Selama berada di Toraja, Pandji juga mengaku terkesan dengan kekayaan kuliner dan alam setempat.
Ia menyebut ayam bambu sebagai salah satu makanan terbaik yang pernah ia cicipi.
"Terutama ayam bambu dengan daun mayana dan kelapa, itu salah satu makanan terbaik yang saya cicipi belakangan ini," ujarnya.
Ia pun berencana kembali ke Toraja di lain waktu bersama keluarganya.
“Saya merasakan begitu banyak hal yang indah dan menyenangkan di sini. Rasanya ingin kembali lagi, mungkin bersama anak-anak, untuk menikmati lebih banyak kekayaan alam dan tradisinya,” tutur Pandji.
Dengan selesainya ritual massarring, rangkaian sanksi adat resmi ditutup.
Bagi masyarakat Toraja, prosesi tersebut menandai kembalinya keseimbangan dan terjaganya kehormatan nilai-nilai adat yang diwariskan lintas generasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang