Mens Rea Jadi Polemik, Pandji Pragiwaksono: Indonesia Kayak Jaman 2011 dan 2015!

Pandji Pragiwaksono
Pandji Pragiwaksono

 Polemik hukum yang menyeret materi stand-up comedy bertajuk Mens Rea kembali menempatkan Pandji Pragiwaksono di pusat perhatian publik. Di tengah proses penyelidikan yang masih bergulir, komika senior tersebut memilih merespons sorotan publik melalui unggahan di Instagramnya.

Alih-alih menyampaikan permintaan maaf, Pandji menyampaikan pandangannya mengenai posisi seni, khususnya stand-up comedy, dalam ruang publik yang kian sensitif. Scroll lebih lanjut yuk!

Melalui fitur Threads, Pandji berupaya meluruskan pemahaman masyarakat tentang komedi tunggal yang kerap disalahartikan sebagai hiburan tanpa batas segmentasi.

"Ada yang merasa stand-up comedy tuh enggak untuk semua kalangan. Salah. Seperti musik, stand-up comedy-nya justru untuk semua kalangan," tulis Pandji Pragiwaksono di Instagram, dikutip Jumat 23 Januari 2026.

Meski demikian, suami Gamila Arief itu menegaskan bahwa setiap komika dan seniman memiliki ceruk audiens masing-masing. 

Oleh sebab itu, menurutnya, adalah hal yang wajar apabila suatu karya tidak dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. 

Ia bahkan mengilustrasikan hal tersebut dengan membandingkan karakter panggungnya dengan komika lain, serta perbedaan segmen penikmat musik dari sejumlah grup band populer.

"Tapi stand-up-nya Pandji yang enggak untuk semua. Stand-up-nya Radit yang enggak untuk semua. Sama seperti ERK juga enggak untuk semua... Karena tiap seniman punya segmen dan penikmat masing-masing," tegasnya.

Pada bagian keterangan unggahan, pendiri Comika tersebut turut menyentil kondisi sosial yang menurutnya menunjukkan kemunduran dalam literasi publik terhadap seni dan kritik.

"Indonesia lagi kayak zaman 2011 dan 2015. Masih harus jelasin yang gini-gini," kata Pandji.

Pernyataan tersebut dinilai merujuk pada dua periode penting dalam perjalanan karier Pandji. Tahun 2011 dikenal sebagai fase awal edukasi stand-up comedy di Indonesia melalui lahirnya komunitas Standupindo. Sementara itu, tahun 2015 menjadi era di mana materi bertema kritik sosial dan politik yang ia bawakan dalam tur Mesakke Bangsaku mulai memicu perdebatan luas di masyarakat.

Respons Pandji ini muncul tidak lama setelah Polda Metro Jaya mengonfirmasi rencana pemanggilan dirinya untuk dimintai keterangan. Laporan terhadap Pandji dilayangkan oleh Angkatan Muda NU dan Aliansi Muda Muhammadiyah yang menilai materi Mens Rea terkait isu izin tambang ormas keagamaan mengandung unsur fitnah. Namun, di sisi lain, PBNU dan PP Muhammadiyah telah membantah bahwa para pelapor tersebut merupakan bagian resmi dari organisasi mereka.

Hingga kini, polemik Mens Rea masih terus menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Banyak pihak menilai kasus ini tidak hanya menyangkut aspek hukum, tetapi juga memperlihatkan tarik-menarik antara kebebasan berekspresi, batas kritik, serta tingkat literasi masyarakat terhadap karya seni satir.