Cegah Penyakit Pascabencana, BNPB Semprot Disinfektan di Runtuhan Mushala Al Khoziny

sidoarjo, Al Khoziny, al khoziny buduran sidoarjo, Ponpes Al Khoziny, ponpes al khoziny ambruk, bangunan pondok al khoziny ambruk, ponpes al khoziny buduran sidoarjo, al khoziny buduran, bangunan ponpes al khoziny sidoarjo ambruk, bangunan ponpes al khoziny ambruk, ponpes al khoziny roboh, al khoziny ambruk, Cegah Penyakit Pascabencana, BNPB Semprot Disinfektan di Runtuhan Mushala Al Khoziny, Potensi Penyakit Pascabencana Jadi Fokus Utama, Tim SAR Bekerja 24 Jam, Stamina Jadi Tantangan, Dukungan Kesehatan dan Psikososial, Langkah Pencegahan Jangka Panjang

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama sejumlah instansi terkait mulai memperluas upaya penyemprotan disinfektan dan insektisida di area reruntuhan Musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Langkah ini dilakukan untuk mencegah munculnya penyakit berbasis lingkungan akibat proses pembusukan jenazah yang sudah memasuki hari ketujuh sejak insiden terjadi.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan penyemprotan disinfektan merupakan bagian dari strategi pengendalian lingkungan yang dilakukan bersamaan dengan proses pencarian dan pembersihan puing di lokasi musala yang ambruk pada Minggu (28/9/2025) lalu.

“BNPB bersama Dinas Kesehatan dan Pusat Krisis Kesehatan RI menambah porsi penyemprotan disinfektan maupun insektisida di area pembersihan puing dan kawasan sekitar,” ujar Abdul Muhari dalam siaran pers, Minggu (5/10/2025).

Langkah tersebut, kata Abdul, penting dilakukan untuk memitigasi potensi penyakit lanjutan akibat pembusukan jenazah, seperti diare, kolera, tifoid, hingga hepatitis A.

Penyakit ini bisa muncul apabila cairan pembusukan mencemari sumber air bersih di sekitar lokasi.

“Risiko bukan berasal dari jenazah secara langsung, melainkan dari air yang terkontaminasi oleh cairan pembusukan. Karena itu, penyemprotan disinfektan menjadi langkah utama menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.

Potensi Penyakit Pascabencana Jadi Fokus Utama

Menurut BNPB, proses pembusukan jenazah yang telah berlangsung selama seminggu memang tidak menularkan penyakit menular langsung seperti HIV, TBC, atau COVID-19. 

Namun, kondisi lingkungan di sekitar lokasi reruntuhan yang padat penduduk membuat risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan meningkat.

Untuk mencegah hal itu, BNPB menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dan Pusat Krisis Kesehatan RI guna melaksanakan penyemprotan disinfektan massal di sejumlah titik yang dinilai berpotensi menjadi sumber pencemaran.

Selain penyemprotan disinfektan, tim juga memperkuat pengelolaan limbah dan sanitasi di sekitar area musala. 

Seluruh personel yang bertugas dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, mulai dari masker, sarung tangan, sepatu boots, hingga kacamata pelindung.

“BNPB menyiapkan seluruh dukungan logistik, termasuk APD, kacamata google, dan perlengkapan lain sesuai standar sekali pakai,” kata Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan.

Tim SAR Bekerja 24 Jam, Stamina Jadi Tantangan

sidoarjo, Al Khoziny, al khoziny buduran sidoarjo, Ponpes Al Khoziny, ponpes al khoziny ambruk, bangunan pondok al khoziny ambruk, ponpes al khoziny buduran sidoarjo, al khoziny buduran, bangunan ponpes al khoziny sidoarjo ambruk, bangunan ponpes al khoziny ambruk, ponpes al khoziny roboh, al khoziny ambruk, Cegah Penyakit Pascabencana, BNPB Semprot Disinfektan di Runtuhan Mushala Al Khoziny, Potensi Penyakit Pascabencana Jadi Fokus Utama, Tim SAR Bekerja 24 Jam, Stamina Jadi Tantangan, Dukungan Kesehatan dan Psikososial, Langkah Pencegahan Jangka Panjang

Proses evakuasi korban runtuhan Ponpes Al-Akhoziny Sidoarjo, Sabtu (4/10/2025)

Memasuki hari ketujuh pascaruntuhnya bangunan, tim pencarian dan pertolongan (SAR) masih terus bekerja selama 24 jam penuh dengan sistem rotasi setiap tiga jam.

Hingga Minggu (5/10/2025) siang, sebanyak 12 jenazah tambahan dan satu potongan tubuh manusia ditemukan dari balik reruntuhan musala empat lantai tersebut.

Dengan temuan terbaru itu, jumlah korban meninggal dunia meningkat menjadi 37 orang, sementara 26 lainnya masih dinyatakan hilang.

Namun, upaya pembersihan sempat terkendala akibat adanya beton yang menempel dengan bangunan di sebelahnya.

Untuk mengantisipasi kerusakan tambahan, BNPB mengerahkan tim ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) guna melakukan investigasi forensik struktur bangunan.

“Tim ITS akan memberikan rekomendasi teknis agar pembersihan tidak mengganggu struktur gedung lain di sekitar lokasi,” ujar Budi.

Dukungan Kesehatan dan Psikososial

Selain pencegahan penyakit melalui penyemprotan disinfektan, Dinas Kesehatan juga memberikan dukungan medis bagi tim SAR yang mulai mengalami gangguan ringan seperti gatal-gatal akibat paparan debu dan material bangunan.

“Pelayanan ekstra diberikan untuk menjaga stamina personel di lapangan, termasuk pemberian vitamin dan perawatan kulit,” jelas Abdul Muhari.

Pemerintah daerah juga membuka layanan psikososial gratis di posko kesehatan bagi keluarga korban dan warga sekitar yang terdampak secara emosional akibat intensitas kendaraan darurat di area tersebut.

Bahkan, tersedia pula layanan bekam dan pijat refleksi tradisional bagi wali santri yang mengalami kelelahan atau stres selama menunggu proses evakuasi.

Langkah Pencegahan Jangka Panjang

BNPB menegaskan bahwa penyemprotan disinfektan tidak hanya dilakukan sekali, melainkan secara bertahap dan berulang hingga seluruh area musala dan lingkungan sekitarnya dinyatakan aman dari potensi penyakit.

“Upaya ini akan terus dilakukan bersamaan dengan proses pembersihan dan identifikasi korban sampai seluruh area bebas dari risiko kesehatan,” kata Abdul.

BNPB bersama Basarnas, TNI, Polri, Dinas Kesehatan, dan semua pihak yang terlibat mengimbau masyarakat agar tetap waspada, menjaga kebersihan lingkungan, serta mendukung penuh proses evakuasi yang masih berlangsung.

“Mohon doa agar seluruh pelaksanaan dan perjuangan kemanusiaan ini bisa segera dituntaskan dengan sebaik-baiknya,” tutup Abdul.