Benarkah Tradisi Santri Nguli Picu Ambruknya Mushala Ponpes Al Khoziny?

tradisi, ponpes, Pondok Pesantren Al Khoziny, Musala Al Khoziny, mushala Al Khoziny, mushala al khoziny ambruk, santri nguli, santri ngecor, Benarkah Tradisi Santri Nguli Picu Ambruknya Mushala Ponpes Al Khoziny?

Proses evakuasi korban ambruknya Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, resmi ditutup pada Selasa (7/10/2025) pukul 10.00 WIB.

Selama lebih dari sepekan operasi, tim SAR gabungan menemukan 67 jenazah, termasuk delapan bagian tubuh, sementara 104 santri berhasil selamat.

Analisis awal tim penyelamat menyebut bahwa penyebab ambruknya bangunan tiga lantai yang difungsikan sebagai musala di asrama putra adalah kegagalan konstruksi, di mana struktur bangunan tidak mampu menahan beban sesuai kapasitas seharusnya.

Rizki Ramadhan, santri Ponpes Al Khoziny yang telah belajar di sana sekitar tujuh tahun, mengaku pada saat bangunan ambruk, dirinya tengah membantu proses pengecoran.

“Di bawah itu waktunya anak-anak jemaah, dan di atas itu waktu kerja terus ngesor gitu ngambrek (di bawah rubuh),” jelas Rizki kepada wartawan SuryaMalang.com.

Ia menambahkan, “(Saya membantu) pembangunan di lantai paling atas. Pengecoran.”

Kegiatan pengecoran tersebut dilakukan oleh tukang bangunan dengan bantuan para santri, memunculkan pertanyaan apakah keterlibatan santri termasuk bagian dari tradisi pesantrpoen atau praktik yang berisiko.

Tradisi Nguli di Pesantren: Risiko atau Kewajaran?

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan agar publik tidak berspekulasi terkait dugaan keterlibatan santri, terutama yang masih di bawah umur, dalam pembangunan musala.

“Kepala Basarnas hadir itu sudah menjadi perhatian di sini. Kalau kami nanti setelah kepala Basarnas mengerjakan tugasnya baru kami urusan berikutnya,” ujar Dody saat meninjau lokasi kejadian bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Kepala Basarnas Marsdya TNI Mohammad Syafi’i, Senin (6/10/2025).

Dody meminta masyarakat tidak menarik kesimpulan prematur.

“Belum, jangan bilang begitu, enggak boleh ngomong begitu. Ini kan santri, dari santri untuk santri konsepnya kan itu. Ponpes santri dibikin dari santri untuk santri jadi enggak bisa bilang di bawah umur segala macam,” tegasnya.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyampaikan beberapa fakta penting tentang Ponpes Al Khoziny, yang ternyata sudah berusia 125 tahun.

“Pesantren yang baru saja mengalami musibah seperti di Sidoarjo beberapa waktu yang lalu memang usiannya 125 tahun. Rata-rata pesantren-pesantren dengan bangunan yang sangat tua itu tidak diikuti dengan perencanaan yang memadai,” ujar Cak Imin dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (7/10/2025).

Cak Imin menjelaskan tiga faktor yang membuat pembangunan Ponpes Al Khoziny tidak memenuhi standar: keterbatasan anggaran sehingga pembangunan dilakukan secara tambal sulam, usia pondok yang sangat tua, dan tingkat independensi pesantren yang membuat koordinasi menjadi terbatas.

Cak Imin menegaskan bahwa tradisi “nguli” harus dievaluasi.

“Itu satu tradisi yang akan juga dievaluasi, tidak boleh lagi sembarangan. Dan yang dilakukan pemerintah hari ini, baik tradisi kemandirian itu, tetap harus standar, jadi tidak boleh ada pendirian bangunan pesantren tanpa ada standar izin. Ini tolong disampaikan kepada semua pesantren seluruh Indonesia,” ujar Cak Imin di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Selasa (7/10/2025).

Gotong Royong Santri, Dimana Batasnya?

Menteri Agama Nasaruddin Umar menambahkan bahwa tradisi “ngecor” memang kerap terjadi di pesantren daerah sebagai bentuk gotong royong, tetapi untuk bangunan bertingkat harus melibatkan tenaga profesional.

“Anak-anak itu kan harus pakai helm segala macam, tidak gampang mendaki gedung-gedung bertingkat. Jadi kalau hanya halaman, bersihkan ruangan, itu kerja sama. Tetapi kalau bangunan yang bertingkat, bangunan besar itu enggak mungkin,” jelas Nasaruddin.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Marsudi Syuhud menegaskan bahwa dalam tradisi roan, keterlibatan santri biasanya terbatas pada pekerjaan fisik yang membutuhkan banyak tenaga, bukan konstruksi teknis.

“Misalnya, bawain batunya, bawain materialnya, tidak masuk ke dalam konstruksi,” ujar Marsudi. Ia meyakini praktik “roan” di Pondok Pesantren Al Khoziny sama seperti yang diterapkan saat ia menjadi santri, dengan pengawasan mandor dan tenaga ahli konstruksi.

Sebagian tayang di Tribunnews.com dengan judul Pengakuan Santri Ikut Ngecor Ponpes Al Khoziny yang Ambruk, Tim SAR: Ada Kegagalan Konstruksi

Sebagian tayang di KompasTV dengan judul Wakil Ketua MUI Benarkan Ada Tradisi Santri Gotong Royong Ikut Bangun Ponpes, tapi Tidak Konstruksi

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.