Tiga Hari Menanti, Doa Haru Orang Tua Santri Ponpes Al Khoziny: ‘Ya Allah, Saya Minta Bayaran…'
Ambruknya musola di Pondok Pesantren Al Khoziny di Baduran, Kabupaten Sidoarjo pada 29 September 2025 lalu masih menyisakan cerita. Salah satunya datang dari wali santri yang selamat Al Fatih yang bernama Abdul Hanan.
Abdul Hanan kembali mengingat bagaimana sang putra baru diketemukan pasca tiga hari insiden tersebut. Hari ketiga proses pencarian, tim sar berhasil menemukan enam orang santri dari reruntuhan tersebut. Dari enam orang itu, hanya empat orang saja yang diketahui identitasnya.
”Tapi ketika mendengar ada enam yang hidup selamatkan mereka siapapun itu walaupun bukan anak saya. Alhamdulillah tim sar hati-hati banget dibuat terowongan di bawah katanya. Saya berdoa mudah-mudahan banyak yang selamat tapi ternyata kemungkinan ada enam. Tolong selamatkan yang enam itu,” cerita Abdul Hanan dalam program yang dibawakan Feni Rose seperti dikutip dari tayangan YouTube, Kamis 9 Oktober 2025.
Abdul Hanan juga bercerita selama proses pencarian putranya, dia selalu membacakan surat Al Kahfi. Surat ini dipilih dan dilantunkannya selama proses pencarian putranya lantaran berkaca pada kasus kakeknya.
Diceritakan Abdul Hanan saat itu kakeknya dalam keadaan koma dan sudah tidak ada harapan untuk hidup. Namun salah satu pengasuh pondok pesantren menasehatinya untuk membacakan surat Al Kahfi saat itu.
”Dari pengasuh dari Abdul Mujib Abbas beliau ’coba baca surat al Kahfi kalau ada keluarga yang sakit’ kakek saya koma, mati suri lah nafas udah nggak ada. Saya nangis saya baca surat Al Kahfi sudah satu jam setelah itu sudah bersiap-siap kuburkan kakek saya, tapi beliau batuk itu hidup,” kata dia.
Sambil bergetar Abdul Hanan juga kembali mengingat doa yang dipanjatkannya kepada Sang Pencipta kala itu. Dalam doanya itu, Hanan meminta bayaran kepada Allah atas apa yang telah dilakukannya selama ini. Bayaran yang dimaksudkan itu terkait dengan keselamatan putranya.
”Saya ingat itu saya baca surat Al Kahfi Ya Allah saya minta kepada Allah selamatkan anak saya. Saya sampai minta begini ’Ya Allah saya selama ini berjuang, saya punya pesantren saya ikhlas mengabdi tidak pernah minta apa-apa. Sekarang saya minta bayaran Ya Allah, sekarang saya minta bayaran’. Sebetulnya nggak boleh orang itu beribadah harus ikhlas,” kata dia sambil menangis.
Dalam doanya itu, Hanan juga tak masalah menukarkan semua kekayaan yang dimilikinya di dunia dengan nyawa anaknya. Dalam doa itu dia meminta agar putranya bisa selamat sebab sang putralah yang meneruskan perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam.
”Saya minta bayaran ya Allah, selama ini orang-orang melihat pesantren saya dari sisi bangunan mungkin tidak berjaya. Tapi sekarang saya minta balasan saya tidak punya apa-apa selama ini, miskinkan saya selama-lamanya tapi saya minta satu selamatkan anak saya ya Allah karena anak saya yang akan teruskan perjuangan saya. Saya tidak memiliki mobil, tidak memiliki apa-apa asalkan anak saya selamat,” jelas dia.
Sebagai informasi, Abdul Hanan diketahui memiliki pondok pesantren di kampungnya Bangkalan Madura. Dia juga tengah membangun dua pesantren di kampungnya.
”Saya beberapa tahun sempat berjanji sebelum bangunan pesantren saya selesai saya tidak akan pernah memiliki mobil. Sekarang sudah ada dua yang sudah dibangun tinggal dua lagi,” jelas dia.