Update, 167 Korban Mushala Al Khoziny Terdata, 49 Orang Masih Dicari

Upaya pencarian korban ambruknya bangunan mushala di pondok pesantren (ponpes) Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus berlanjut hingga hari keenam, Sabtu (4/10/2025).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Satgas Gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, Dinas Kesehatan, PMI, dan relawan masih memusatkan operasi pada pencarian korban serta identifikasi jenazah.
Berdasarkan data BNPB per Sabtu (4/10/2025) pukul 12.00 WIB, jumlah korban mencapai 167 orang.
Dari jumlah tersebut, 118 orang berhasil ditemukan, terdiri atas 104 orang selamat dan 14 orang meninggal dunia.
Masih ada 49 korban yang dalam proses pencarian.
Tim gabungan juga telah mengevakuasi 9 jenazah dari reruntuhan bangunan musala berlantai empat itu sejak Jumat malam.
Fokus pada pencarian dan identifikasi korban
Potret Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur dari tahun ke tahun.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, proses pencarian dan identifikasi masih menjadi prioritas utama di lapangan.
“Operasi SAR masih difokuskan untuk menemukan korban yang kemungkinan masih terjebak di bawah reruntuhan serta memastikan identitas para korban melalui proses DVI. Semua unsur bekerja tanpa henti dengan sistem bergantian selama 24 jam,” ujar Muhari, Sabtu (4/10/2025).
Ia menjelaskan, tim menghadapi kendala besar berupa tumpukan material beton yang tebal dan sulit dibersihkan.
Karena itu, alat berat diturunkan dengan pengawasan ketat agar tidak menimbulkan risiko bagi petugas di lapangan.
“Keselamatan tim penyelamat tetap menjadi prioritas utama. Kondisi reruntuhan yang berat menuntut kehati-hatian tinggi agar proses evakuasi berjalan aman dan efektif,” lanjutnya.
Selain pencarian, proses identifikasi jenazah (Disaster Victim Identification/DVI) juga berjalan paralel di posko yang telah disiapkan.
Pembukaan posko terpadu
Petugas membawa jenazah korban runtuhnya bangunan mushala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny untuk diidentifikasi di Rumah Sakit Bhayangkara H.S. Samsoeri Mertojoso, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (3/10/2025). Pada Jumat (3/10) hingga sekitar pukul 18.00 WIB Polda Jawa Timur telah menerima delapan jenazah korban bangunan mushala Ponpes Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo yang runtuh pada Senin (29/9) untuk dilakukan identifikasi. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/sgd
Menurut Muhari, sebagian besar korban sulit dikenali secara langsung karena tertimpa material bangunan, sehingga dibutuhkan metode ilmiah seperti forensik, pencocokan data antemortem, dan pemeriksaan DNA.
“Proses DVI penting untuk memastikan setiap korban dapat diidentifikasi dengan benar, menjaga martabat mereka, dan memberikan kepastian bagi keluarga,” jelas Muhari.
BNPB juga mengoordinasikan pembukaan posko terpadu untuk memudahkan keluarga korban melapor dan mendapatkan informasi resmi terkait proses pencarian maupun identifikasi.
Selain itu, disiapkan dukungan psikososial bagi keluarga yang menunggu hasil pencarian.
Dalam hal logistik, BNPB memastikan seluruh kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, air bersih, obat-obatan, dan perlengkapan SAR terus dipenuhi.
Muhari menyebutkan, dukungan masyarakat dan relawan yang membuka dapur umum menjadi bagian penting dari operasi kemanusiaan ini.
“Kami memastikan tidak ada kebutuhan mendesak yang terabaikan. Penanganan bencana bukan hanya soal evakuasi, tapi juga soal kemanusiaan, memastikan korban dan keluarga mendapat hak dan dukungan yang layak,” ujar Muhari.
BNPB berharap, dengan dukungan lintas lembaga dan relawan, seluruh korban dapat segera ditemukan dan diidentifikasi agar keluarga memperoleh kepastian serta dapat melanjutkan proses pemulihan pascatragedi ini.