Mengapa Virus Nipah Bisa Meningkat Saat Musim Tertentu? Ini Kata Pakar UGM

Virus Nipah, Universitas Gadjah Mada, penyakit zoonosis, pencegahan, Mengapa Virus Nipah Bisa Meningkat Saat Musim Tertentu? Ini Kata Pakar UGM, Apa itu virus Nipah dan bagaimana karakteristiknya?, Mengapa virus Nipah bersifat musiman?, Langkah pencegahan apa yang telah dilakukan pemerintah?, Apa peran masyarakat dalam mencegah penularan?, Mengapa PHBS menjadi kunci pencegahan virus Nipah?, Bagaimana risiko penularan ke manusia dan pentingnya peringatan dini?, Mengapa sistem peringatan dini penting di Indonesia?

 Virus Nipah kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis yang berpotensi menular dari hewan ke manusia.

Virus Nipah atau Nipah virus (NiV) dikenal sebagai penyakit menular yang berasal dari hewan dan memiliki tingkat fatalitas tinggi, terutama pada manusia.

Sejarah mencatat, virus ini pertama kali ditemukan pada 1999 di Malaysia dan sejak itu menjadi perhatian dunia kesehatan karena kemampuannya menular lintas spesies, bahkan antarmanusia.

Apa itu virus Nipah dan bagaimana karakteristiknya?

Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Khrisdiana Putri, menjelaskan bahwa virus Nipah tergolong penyakit zoonosis yang bersifat musiman atau seasonal. Kemunculannya kerap dipengaruhi oleh faktor lingkungan tertentu.

Menurut Khrisdiana, pada hewan ternak seperti babi dan kuda, infeksi virus Nipah umumnya menimbulkan gangguan pernapasan dan sistem saraf.

Dalam banyak kasus, penyakit ini dapat berujung pada kematian hewan yang terinfeksi. Sementara itu, dampak virus Nipah pada manusia dinilai jauh lebih berbahaya.

“Kalau pada manusia, dampaknya memang lebih fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM, Minggu (8/2/2026).

Mengapa virus Nipah bersifat musiman?

Khrisdiana menjelaskan, sifat musiman virus Nipah berkaitan erat dengan kondisi kelelawar buah yang menjadi reservoir alami virus tersebut.

Stres dan kelaparan pada kelelawar, terutama saat sumber pakan alami di habitat hutan seperti nira mengalami penurunan, dapat meningkatkan risiko penularan virus.

Dalam kondisi tersebut, kelelawar cenderung mencari sumber makanan alternatif yang lebih dekat dengan aktivitas manusia, sehingga potensi penularan virus ke hewan ternak maupun manusia menjadi lebih besar.

Langkah pencegahan apa yang telah dilakukan pemerintah?

Untuk memutus rantai penularan, pemerintah telah menetapkan sejumlah regulasi pencegahan.

Salah satu kebijakan penting adalah larangan mendirikan peternakan babi di sekitar area perkebunan nira.

“Dengan adanya peraturan tersebut, penataan peternakan diharapkan dapat lebih mendukung pencegahan penularan dari kelelawar ke babi,” kata Khrisdiana.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut menjadi krusial karena pola penularan klasik virus Nipah melibatkan kelelawar sebagai sumber awal, lalu menular ke babi sebelum akhirnya menginfeksi manusia.

Apa peran masyarakat dalam mencegah penularan?

Selain regulasi pemerintah, peran masyarakat dinilai sangat penting. Khrisdiana menyoroti kebiasaan mengonsumsi nira segar secara langsung tanpa melalui proses pengolahan.

Menurutnya, nira sebaiknya dipasteurisasi atau dipanaskan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi untuk menurunkan risiko kontaminasi virus.

Di sektor peternakan, penerapan jarak aman antara kandang dan kebun nira serta desinfeksi kandang secara rutin juga menjadi langkah penting.

Mengapa PHBS menjadi kunci pencegahan virus Nipah?

Khrisdiana menegaskan bahwa virus Nipah sebenarnya tergolong lemah di lingkungan karena tidak mampu bertahan lama di luar inangnya.

Oleh karena itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dinilai efektif sebagai upaya pencegahan.

“Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri,” tuturnya.

Bagaimana risiko penularan ke manusia dan pentingnya peringatan dini?

Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, Heru Susetya, menjelaskan bahwa secara epidemiologis, kelelawar merupakan reservoir utama virus Nipah.

Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap potensi wabah zoonosis ini perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

“Kekhawatiran kami dari sisi penyakit adalah kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi, sudah ada buktinya,” kata Heru.

Ia mengulas kembali sejarah awal virus Nipah di Malaysia dengan pola penularan dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia.

Namun, pada kasus di Bangladesh dan India, penularan justru terjadi langsung dari kelelawar ke manusia, salah satunya dipicu oleh konsumsi nira yang tidak ditangani dengan baik.

Mengapa sistem peringatan dini penting di Indonesia?

Menurut Heru, Indonesia membutuhkan sistem peringatan dini atau early warning system yang kuat untuk mendeteksi penyakit zoonosis, termasuk virus Nipah.

Sistem ini memungkinkan setiap temuan gejala klinis pada hewan maupun manusia segera dilaporkan dan ditindaklanjuti.

“Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci utama,” tegasnya.

Heru juga menekankan bahwa pencegahan tidak dilakukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar, melainkan dengan menghindari kontak langsung serta meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Termasuk di antaranya melaporkan hewan ternak yang menunjukkan gejala tidak biasa.

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Waspada Virus Nipah, Pakar UGM Jelaskan Pola Penularan dan Langkah Pencegahan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang