Risiko Dengue Meningkat Saat Hujan, Upaya Pencegahan Harus Diperkuat

Ilustrasi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Ilustrasi Demam Berdarah Dengue (DBD)

 Memasuki musim hujan, ancaman penularan dengue kembali menjadi sorotan. Infeksi virus dengue yang dapat berkembang menjadi demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. 

Penyakit ini tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa, dan berpotensi menimbulkan komplikasi berat hingga mengancam nyawa. Risiko penularan diketahui meningkat saat curah hujan tinggi karena banyaknya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda bahaya dengue, seperti nyeri perut hebat, muntah berulang, perdarahan, lemas ekstrem, serta penurunan kesadaran. 

Selain itu, penting dipahami bahwa dengue dapat menyerang seseorang lebih dari satu kali. Infeksi berulang bahkan berisiko menimbulkan kondisi yang lebih berat, sehingga pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak bersifat sementara.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa tren kasus dengue terus mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahun 2024 tercatat 257.271 kasus dengan 1.461 kematian, sementara pada tahun 2025 terdapat 161.752 kasus dengan 673 kematian yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. 

Angka ini menegaskan bahwa dengue bukan sekadar masalah musiman, melainkan ancaman kesehatan jangka panjang yang diperparah oleh perubahan iklim, kepadatan penduduk, serta mobilitas masyarakat yang tinggi.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Eka Ginanjar, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, FICA, MARS, SH, menegaskan pentingnya penguatan upaya pencegahan. 

“Dengue dapat terjadi sepanjang tahun, meskipun pada musim hujan risiko penularannya meningkat dan fasilitas kesehatan berpotensi menghadapi lonjakan kasus. Karena itu, pencegahan harus menjadi fokus utama, bukan hanya saat kasus sudah terjadi. Upaya edukasi, kewaspadaan terhadap gejala, serta perlindungan yang menyeluruh perlu diperkuat secara konsisten,” ujarnya.

PAPDI secara aktif mendorong edukasi masyarakat terkait pemberantasan sarang nyamuk melalui penerapan 3M Plus, pengendalian vektor, serta pemanfaatan vaksinasi dengue sebagai bagian dari strategi pencegahan komprehensif. Langkah ini sejalan dengan target nasional Nol Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030.

Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PP PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, menyoroti kerentanan kelompok usia dewasa. 

“Kelompok dewasa, terutama yang memiliki mobilitas tinggi dan aktivitas sosial padat, berpeluang lebih besar terpapar virus dengue. Pada sebagian orang dewasa, dengue bahkan dapat menimbulkan komplikasi yang lebih berat, terutama pada mereka yang memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, obesitas, diabetes melitus, penyakit ginjal, dan gangguan paru-paru,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain berdampak pada kesehatan individu, dengue juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi akibat terganggunya produktivitas serta meningkatnya biaya perawatan. Berdasarkan Jadwal Imunisasi Dewasa PAPDI terbaru, vaksinasi dengue kini dapat diberikan pada kelompok usia 19 hingga 60 tahun. 

Upaya ini diharapkan dapat melengkapi strategi pencegahan dasar, sehingga risiko kesakitan dan kematian akibat dengue di Indonesia dapat ditekan secara signifikan. PAPDI dan PT Takeda Innovative Medicines berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya dengue dapat  semakin meningkat, pemahaman mengenai upaya pencegahan semakin kuat, serta partisipasi aktif masyarakat dalam melindungi diri dan lingkungan dapat terus didorong secara berkelanjutan.